Genap & Ganjil

Genap & Ganjil
18


__ADS_3

Ujian Nasional hari pertama berjalan dengan lancar. Kalian pasti sudah tahu bukan kalau UN tahun ini menggunakan computer. Tak jarang ada beberapa sekolah yang membuat beberapa sesi untuk pelaksanaan ujiannya karena kurangnya komputer di sekolah. Tapi untungnya SMA Sebangsa mampu menyiapkan komputer aktif untuk murid kelas 12 Ujian Nasional.


Maka dari itu, semua murid kelas 12 pulang ke rumah masing-masing. Belum tentu sih pulang semua, seperti Fersya contohnya. Gadis itu tidak pulang ke rumah dulu, ia ingin mampir ke salah satu toko di mall. Sesuai rencana semalam, Fersya akan membeli hadiah untuk Aries hari ini.


Fersya tidak akan memberitahu hadiah apa yang akan diberikannya pada Aries. Tidak Aries ataupun pada kalian. Kejutan tetaplah kejutan.


Biasanya Fersya akan menunggu kembarannya untuk pulang bersama, tapi karena kejadian satu minggu yang lalu membuat hubungan si kembar yang perlahan mulai hangat jadi dingin kembali. Dan Fersya tidak ingin terjebak dalam suasana dingin seperti itu. Sudah cukup Niko dan orang tuanya yang terus-terusan bertanya ada apa dengan mereka, Fersya tidak ingin lagi mendengar itu. Untung saja Aries mengerti kondisi Fersya walau ia belum sempat menceritakan kejadian itu padanya.


Fersya telah sampai di mall. Sebenarnya Fersya ingin berkeliling dulu, sudah lama juga ia tidak ke mall, tapi mengingat waktu yang terus bergulir dan kesempatan yang semakin sempit untuknya belajar untuk ujian besok, Fersya memutuskan untuk langsung menuju toko yang ditujunya.


Setelah berkeliling di dalam toko itu untuk mencari hadiah yang cocok untuk Aries, segera ia bawa barang itu menuju kasir untuk dibayar. Setelah menyelesaikan pembayaran, Fersya memasukan barang itu ke dalam tasnya. Ia tidak ingin ditanyai orang tuanya bila mereka melihat Fersya pulang sambil membawa barang tersebut.


Aahh, mengingat orang tuanya membuat Fersya lupa kalau ia belum meminta izin. Tapi setelah dipikir-pikir juga buat apa, toh orang tuanya tidak akan peduli padanya. Mereka tidak akan peduli Fersya bermain dimana dan dengan siapa.


Fersya pulang dengan hati yang cukup dongkol karena memikirkan orang tuanya yang tidak akan peduli padanya. Ditambah dengan angkutan umum menuju rumahnya yang lama sekali datangnya. Sekalinya datang, jalanan Ibu Kota yang memang selalu ramai ini membuat Fersya makin kesal.


Dan saat pulang ke rumah, Fersya yang berharap tidak akan bertemu Mamanya atau Farsya malah mendapati kedua orang tuanya beserta kemabarannya berada di ruang tamu. Tumben sekali Ayahnya itu sudah pulang di sore hari begini.


"Dari mana aja kamu Eca? Kok nggak bilang sama Mama kalau kamu mau main? Dan kamu main kemana, Mama kira kamu main sama Aries, tapi pas Mama telpon Aries katanya kamu nggak lagi sama dia. Jadi kamu kemana tadi Eca?"


Pertanyaan beruntun dari Mamanya itu seharusnya membuat Fersya merasa senang. Pikiran tentang orang tuanya yang tidak peduli padanya segera terhapus, tapi saat Fersya melihat kembarannya itu entah kenapa ingatan tentang malam itu datang, membuat emosinya yang tadinya sudah surut jadi muncul lagi.


Dan perkataan yang tak ingin diucapkan Fersyapun tanpa sadar keluar dari mulutnya. "Apa peduli Mama? Selama ini Mama juga nggak peduli Eca mau main kemana dan sama siapa. Setelah Eca bilang kalau Eca mau main ke rumah teman, apa pernah Mama bilang siapa teman yang Eca maksud? Nggak. Setelah itu Mama cuman bilang ya udah. Apa Mama juga pernah tanya kapan Eca bakal pulang habis main dari rumah teman? Nggak. Selalu Eca yang jelasin semua kapan pulangnya. Jadi Eca pikir juga buat apa Eca minta izin sama Mama, toh sama aja."


"Fersya jaga bicara kamu!" bentakan Ayahnya itu membuat Fersya menciut, ditambah Ayahnya memanggil namanya dengan jelas bukan memanggil panggilan yang biasa Ayahnya sebut.


Fersya seharusnya bilang kalau tadi ia lupa untuk minta izin, tapi perkataan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Beginilah kalau seseorang yang jarang mengeluarkan emosinya, sekali kamu sudah merasa sangat sesak dan sudah tak bisa menampungnya lagi, emosi itu akan meledak.


Fersya itu bagaikan bom waktu, seharusnya gadis itu bisa menceritakan segala keluh kesahnya pada siapapun, tapi melihat orang tuanya yang tidak pernah memberi kesempatan padanya untuk bercerita dan orang tuanya yang tidak mendengar dirinya saat Fersya memiliki kemauan membuat Fersya berpikir kalau orang tuanya saja tidak bisa mendengar dirinya, bagaimana dengan orang lain yang tak memiliki ikatan darah padanya.


Fersya tahu kalau pikirannya ini skeptis sekali, tapi tak bisa dipungkiri hal tersebut telah menjadi kebiasaan bagi Fersya. Kalau tidak ditanya Fersya tidak akan bercerita. Sama Alya yang merupakan teman terdekatnya selain Aries pun begitu, Alya harus pandai-pandai membaca emosi Fersya agar dirinya bisa tahu apakah Fersya sedang ada masalah atau tidak.


Tapi pengecualian untuk Aries, lelaki itu seakan memiliki kelebihan tersendiri yang bisa membuat Fersya nyaman untuk bercerita padanya tanpa harus ditanya. Tapi mengingat sekarang ia yang sudah jarang bermain dengan Aries karena belajar untuk ujian membuat Fersya memendam segala hal yang terjadi belakangan ini.


Tapi sepertinya, bom ini belum waktunya untuk meledak sepenuhnya. Fersya tidak ingin melanjutkan perdebatan ini lagi. Fersya tidak ingin menyakiti hati orang tuanya lebih dalam lagi.


Tanpa mempedulikan apa-apa lagi, Fersya segera menuju kamarnya. Membanting pintu dan melempar tasnya ke sembarang arah lalu menyembunyikan kepalanya lagi dibalik bantal.

__ADS_1


Jika ditanya Fersya merasa lega atau tidak, entah Fersya tidak bisa mendeskripsikannya. Disatu sisi Fersya merasa lega karena hal yang sudah dipendamnya cukup lama akhirnya berhasil ia suarakan, walaupun hal tadi belum sepenuhnya ia suarakan tapi beban dipundaknya sedikit terangkat.


Tapi disisi lain Fersya merasa marah, kecewa dan sedih pada dirinya. Ia telah menyakiti hati orang tuanya, terutama Mamanya. Fersya sadar saat perkataan menyakitkan itu keluar dari mulutnya tadi reaksi Mamanya terkejut dan jika Fersya tidak salah lihat ada genangan air mata disana.


Memikirkan hal itu membuat tangisan Fersya makin deras. Sepertinya malam ini Fersya tidak bisa belajar untuk ujian besok.


***


Fersya ketiduran dan baru bangun jam sembilan malam. Kepalanya sedikit berdenyut, mungkin karena ia tidur sehabis menangis hebat tadi.


Seragam sekolahnya masih melekat di tubuh Fersya dan sepertinya ia melewatkan makan malam kali ini. Aahh, lagipula siapa yang mood untuk makan dikeadaan seperti ini. Tapi perut Fersya tidak bisa bohong, karena sedari tadi perutnya terus saja berbunyi. Biarlah ia akan menahannya sedikit lagi, karena mungkin saja orang tuanya dan Farsya masih ada di bawah sana. Saat ini Fersya sedang tidak ingin melihat mereka.


Saat Fersya bingung apa yang harus dilakukannya, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamarnya.


"Eca, kamu masih tidur sayang?" itu suara Ayahnya. Bagaimana Ayahnya bisa tahu kalau Fersya tidur tadi. Aahh, Fersya lupa mengunci pintunya.


Fersya memilih untuk tak menjawab. Ya, Fersya tahu kalau sikapnya ini kekanakkan sekali, tapi kalian juga pernah melakukan hal seperti ini kan?


"Ayah masuk ya?" Fersya tadinya tidak ingin menjawab lagi, tapi melihat Ayahnya yang mungkin saja akan menunggu di depan kamarnya terus membuat Fersya tidak tega. Lagipula bagaimana Ayahnya bisa tahu kalau Fersya sudah bangun dan sedang mendengarkannya sekarang ini?


"Masuk aja Ayah."


Tinggal satu lagi putrinya yang belum makan dan kali ini Rido sadar mungkin saja Fersya akan jauh lebih susah untuk dibujuk daripada istrinya. Belum sempat Rido menawarkan makanan kepada Fersya, putrinya itu lebih dulu menolak.


"Eca nggak laper Yah."


"Makan sedikit aja ya? Kamu kan baru makan tadi pagi doang, itupun cuman roti."


Fersya tidak menjawab, ia sadar kalau ia laper saat ini, tapi gengsinya terlalu tinggi untuk menerima tawaran Ayahnya itu.


"Kalau nggak mau Ayah suapin nih." tidak mempedulikan ancaman---entahlah apa bisa dibilang ancaman atau tidak---Ayahnya itu, Fersya memutuskan untuk memalingkan wajahnya.


Rupanya Rido tidak main-main dengan kata-katanya, dilayangkan sendok yang sudah berisi nasi dan ayam goring itu. Tidak hanya itu saja, Rido juga menjadikan sendok berisi makanan itu seperti pesawat seakan sedang berusaha menyuapi anaknya yang masih berumur tiga tahun.


"Wiiiing.... Wiiing.... Pesawat ingin mendaraaat..." tanpa sadar hal itu membuat Fersya terkekeh. Sudah lama sekali Ayahnya tidak melakukan itu, tentu saja Fersya kan sudah besar, tidak mungkin Fersya masih meminta untuk disuapi seperti itu.


Tapi melihat hal itu membuat Fersya bernostalgia. Saat umurnya delapan tahun, saat itu Fersya sedang sakit dan tidak ingin makan. Mamanya sudah tidak bisa lagi membujuknya untuk makan, untung saja hari itu hari Minggu jadi Ayahnya tidak bekerja dan bisa membantu Mamanya untuk membujuk Fersya. Seperti yang dilakukan Ayahnya saat ini, Ayahnya dulu juga membujuknya seperti itu.

__ADS_1


"Ayah, apa siiih, emangnya Eca masih kecil?" bibirnya mungkin cemberut, tapi Rido tahu kalau Fersya senang dengan perlakuannya.


"Ya udah, buka mulutnya dong, tangan Ayah pegel nih." Rido mengira mungkin saja putrinya akan menolak lagi, tapi rupanya Fersya malah menerima suapan darinya. Hal itu membuat hati Rido menghangat.


Rido tahu saat ini Fersya sedang kecewa dengan perlakuan tidak adil dirinya dan juga istrinya. Rido sadar kalau perlakuan mereka tidak adil atau timpang sebelah, tapi Rido mengerti kenapa istrinya begitu protektif pada Farsya ketimbang Fersya. Fani menjadi saksi dimana Ibunya meregang nyawa karena asma akut yang dideritanya. Hal itu membuat Fani trauma dan tidak ingin kejadian itu terjadi pada Farsya.


Satu suapan saja sepertinya sudah cukup, karena Fersya langsung mengambil alih sendok yang dipegangnya dan memakan makanan yang dibawanya tadi dengan tangannya sendiri.


Setelah Fersya selesai dengan makanan dan minumannya, Rido mengambil nampan tersebut dan menaruhnya di bawah kasur putrinya itu.


Dihadapkan tubuhnya pada Fersya dan menggenggam tangannya. "Fersya, maafin Mama sama Ayah ya yang nggak bisa bersikap adil sama kamu."


Fersya sebenarnya sudah tahu apa maksud kedatangan Ayahnya ke sini, tidak mungkin hanya membujuk Fersya untuk makan. Fersya hanya diam mendengarkan, ia membiarkan Ayahnya menyelesaikan semua ucapannya.


Memang ketimbang Mamanya, Fersya kadang jauh lebih nyaman bersama Ayahnya. Tapi karena Ayahnya terlalu sibuk di kantor dan jarang di rumah, hal itu seperti tidak ada artinya. Karena disaat Fersya sedang butuh Ayahnya, tapi Ayahnya malah sibuk dan tidak bisa membantunya.


Rido yang tak melihat reaksi dari putrinya itu memutuskan untuk melanjutkan ucapannya. "Ayah, terutama Mama sama sekali nggak bermaksud seperti itu sama kamu sayang. Mama bukannya tidak peduli sama kamu, tapi Mama percaya sama kamu. Mama percaya kalau Eca pasti berteman dengan teman yang baik-baik, Mama percaya kalau Eca tidak akan pulang kelewat malam dan membuat Mamanya kuatir."


"Tapi kenapa Mama nggak percaya dengan mimpinya Eca? Kenapa setiap Eca punya kemauan nggak pernah didengar?"


"Sayang, Malang itu cukup jauh dari Jakarta, kalau kamu kuliah di sana kamu akan sendirian di sana karena nggak ada saudara satupun di sana. Ayah sama Mama nggak bisa mengawasi dan menjaga kamu dengan benar. Kami takut kalau terjadi sesuatu sama kamu di sana dan kami nggak bisa langsung hadir untuk membantu kamu. Mama kamu kuatir kamu akan kesusahan di sana."


"Tapi Eca mau kuliah di sana Yah." kata Fersya sambil cemberut.


"Apapun mimpi Eca, Ayah akan selalu dukung, walau Ayah diam doang kalau Mama mu itu lagi ngomong tapi Ayah berusaha membujuk Mamamu juga di kamar. Jadi jangan berpikir tidak ada yang mendukung kamu ya sayang?"


Rido mengambil nampan yang tadi ditaruh di bawah kasur Fersya dan bangkit. Tapi ucapan Fersya membuatnya berhenti melangkah.


"Ayah, apapun halangannya kali ini Eca nggak akan diam seperti biasanya. Eca akan berusaha untuk menggapai mimpi Eca."


Rido berbalik badan menghadap putrinya itu. "Ayah akan mendukung sebisa Ayah. Kalau Eca memang yakin untuk kuliah di sana, Ayah akan berusaha untuk memberikan kepercayaan Ayah sama kamu." berjalan mendekati putrinya lagi, kemudian ia mengelus lembut rambut pendek putrinya. "Besok minta maaf ya sama Mama, bahasa kamu kasar banget tadi."


"Maaf, Yah."


Rido mengangguk. "Maaf juga Ayah nggak bisa selalu ada buat kamu."


Setelah Ayahnya pergi, Fersya tidur telentang dan menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong. Entahlah, apakah pembicaraan tadi sudah sampai pada kesimpulan atau belum.

__ADS_1


"Huft."


__ADS_2