
Ruang keluarga si kembar ramai oleh tawa hari ini. Ada si kembar, serta Niko juga Aries di sana. Hari ini adalah hari yang spesial untuk peserta UTBK. Ya, kalian benar. Hari ini adalah penentu apakah Fersya dan Niko lolos atau tidak.
Ruang keluarga ini memiliki dua sofa panjang, satu sofa kecil, karpet bulu warna merah dibawahnya dan juga televisi yang berhadapan dengan sofa. Karpet bulu merah itu sudah terisi penuh oleh berbagai cemilan, baik yang disediakan oleh tuan rumah ataupun yang dibawa Niko atau Aries.
Saat ini mereka masih sempat untuk tertawa karena baik Fersya ataupun Niko belum melihat hasil ujian mereka. Mereka memutuskan untuk menonton satu film dulu baru setelah itu melihat hasil ujiannya.
Setelah film yang mereka tonton habis, Fesya dan Niko segera mengambil laptop yang sudah mereka simpan di atas sofa. Membuka laptop dan mulai browsing laman web UTBK. Tak bisa dibohongi kalau sebenarnya mereka berdua sedang gugup saat ini.
Fersya berdoa, apapun hasilnya nanti semoga itu yang terbaik untuknya. Fersya memencet kursor laptopnya dan langsung memejamkan matanya karena tidak berani melihat hasil ujiannya.
"Fer, sumpah lo harus liat hasil UTBK lo." kata Farsya sambil menggoyangkan bahunya.
Mendengar suara Farsya yang antusias membuat Fersya jadi penasaran. Perlahan ia membuka kedua matanya dan disanalah ia melihat namanya beserta kampus dan jurusan impiannya tertera di layar laptop.
Si kembar langsung berteriak dan saling berpelukan. Berbeda dengan hasil UTBK Fersya, hasil UTBK Niko tidak sesuai keinginannya. Bukan. Bukan karena Niko tidak lulus UTBK ini, namanya tertera di layar laptop, tapi kampus dan jurusan yang menyertai namanya bukanlah kampus impiannya dan bukanlah jurusan impiannya.
Fersya yang tersadar kalau sikap Niko berbanding terbalik dengan dirinya segera melihat layar laptop milik pria itu dan tahu kenapa Niko bersikap seperti itu.
"Setidaknya lo udah berusaha semaksimal mungkin, Nik." tangannya terangkat mengelus bahu Niko. Niko tersenyum dan mengangguk, tiba-tiba suara opening Netfl*x mengalihkan perhatian mereka. Rupanya Aries sudah menyetel salah satu film.
"Mending lanjutin nonton."
Begitu kata Aries, si kembar dan Niko yang memang sudah biasa dengan tabiat Aries yang seperti itu hanya menggeleng saja. Tapi Niko bersyukur karena tindakan Aries sedikit banyak membuat Niko teralihkan.
***
Hari-hari terus berlalu, si kembar dan Niko sibuk mempersiapkan pendaftaran ulang. Terlebih lagi Fersya juga harus mencari kost-an untuk tempat tinggalnya nanti di Malang. Sedangkan Aries sibuk latihan bersama Pak Andre.
Setelah semua berkas pendaftaran ulang sudah selesai di urus dan Fersya juga sudah menemukan tepat kost yang ia rasa cukup nyaman untuk Fersya tinggali. Fersya berencana untuk jalan-jalan ke tempat yang Farsya suka. Apalagi kalau bukan buku. Kembarannya itu selalu suka hal-hal yang berbau buku.
Tapi bukan perpustakaan yang menjadi rencana Fersya, melainkan kafe. Jaman sekarang sudah banyak sekali kafe-kafe yang mengusung tema perpustakaan dan ada salah satu kafe buku yang berada di Central Park, Jakarta Barat, kafe itu membuat Fersya tertarik untuk mendatanginya.
Sebelumnya Fersya sudah prepare transportasi apa yang akan digunakan untuk pergi ke sana. Beruntungnya Central Park memiliki transportasi yang mudah dijangkau, salah satunya Transjakarta. Dan ini adalah kali kedua si kembar menaiki bus Transjakarta.
Kalau waktu itu keadaan bus tidak terlalu ramai, bedanya sekarang, keadaan cukup ramai sampai-sampai si kembar harus merapat ke salah satu pintu bus. Si kembar bertatapan dan setelahnya mereka bedua tertawa.
"Emang lo mau ajak gue kemana sih Fer?" tanya Farsya.
"Udah lo tinggal ngikut aja. Pokoknya dari berangkat sampe pulang gue yang traktir."
Farsya mengangguk sambil mencebikkan bibirnya kesal, kemudian mengalihkan pandangan dengan melihat keadaan jalan raya melalui pintu bus, "Tapi gue kepo banget nih, seenggaknya lo kasih clue kek."
"Iya deh, kita bakal ke Central Park."
Farsya memukul lengan kembarannya, "Ngapain deh nge-mall jauh-jauh."
Fersya membalas dengan cebikkan di bibirnya dan mengelus lengannya yang tadi dipukul Farsya.
Akhirnya mereka sampai di halte tujuan. Fersya segera menggenggam tangan kembarannya dan membawanya ke tempat tujuan. Farsya yang dari tadi penasaran dibawa kemana oleh kembarannya ini, akhirnya tahu. Fersya membawa dirinya ke salah satu kafe buku yang bernama Nanny's Pavillon Library.
Farsya melihat ke arah Fersya dan menggeleng. Ia tidak mengerti lagi dengan kembarannya ini, bagaimana kembarannya itu bisa tahu kalau Farsya ingin sekali datang ke kafe ini. Sempat beberapa kali niat untuk bertandang ke kafe ini sendiri, tapi kerena Farsya belum berani, terlebih jarak rumahnya dengan kafe ini cukup jauh, jadi Farsya selalu mengurungkan niatnya itu. Beruntungnya Farsya memiliki Fersya di dalam hidupnya.
Setelah ini mereka berdua akan sibuk dengan tugas masing-masing dan mereka akan jarang sekali bertemu. Farsya sudah harus belajar mandiri dan berani untuk pergi kemana-mana sendiri, karena cepat atau lambat hal seperti ini pasti akan terjadi. Orang-orang akan selalu datang dan pergi, mau yang dekat ataupun jauh.
Si kembar segera masuk ke dalam kafe dan menghabiskan waktu di sana. Farsya yang sibuk dengan buku pinjamannya dan Fersya sibuk dengan makanannya. Jika kita sedang menikmati suatu hal bersama orang terkasih, biasanya waktu akan cepat sekali berlalu. Dan itulah yang dirasakan si kembar. Kalau saja Mamanya tidak menghubungi Fersya, mungkin mereka akan di sana sampe malam hari.
***
__ADS_1
Saat hendak tidur, ponsel Fersya berdering, ia bertanya siapa yang berani mengganggunya yang hendak tidur begini. Terpampanglah nama Aries di sana dan segera ia terima panggilan itu.
"Ada apa Ris telpon malem-malem?" tanya Fersya langsung setelah panggilan itu ia angkat.
"Dih, gaya banget, biasanya juga aku telpon jam segini."
"Hahahaha. Kok masih agak risih ya kita ngomongnya aku kamu."
"Senyaman kamu aja Fer, nggak masalah kok. Panggilan bukan hal yang terlalu penting. Karena aku tau, mau kamu manggil aku kayak apapun itu, kamu tetep suka sama aku."
"Aris, Aris, heran kenapa kegeeran kamu tuh nggak pernah ilang-ilang." Fersya geleng-geleng kepala sambil memindahkan posisinya dengan telentang.
Jeda sejenak, Fersya bingung kenapa Aries tidak kunjung menimpali ejekannya itu. Apa Aries tertidur? Itu pikir Fersya.
"Ris? Lo nggak ninggalin guedengan tidur duluan kan?" tanya Fersya memastikan benarkah Aries tertidur.
"Nggak kok, cuman tadi keingetan sesuatu pas liat tanggal."
"Inget apa?"
"Besok aja aku kasih taunya. Besok bisa kan ketemuan di taman?"
"Rumah aku atau rumah kamu?"
"Rumah kamu aja, biar nanti aku yang jemput ke rumah."
Fersya hanya mengangguk, ia tahu Aries pasti tahu jawabannya. Karena besok ia hanya harus menunggu Aries menjemput.
"Ohiya, gimana tadi jalan-jalannya sama kembaran?" kali ini Aries yang pindah posisi, dari meja belajar menuju kasur dan tidur telentang.
Fersya asyik saja bercerita kepada Aries, menurutnya Aries adalah pendengar yang sangat baik. Padahal Aries adalah tipikal orang yang banyak omong, tapi ia tahu tempat dimana harus berbicara dan dimana harus diam dan mendengarkan. Itulah kenapa Fersya merasa nyaman dengan Aries.
Pindah posisi ke kanan, lalu ke kiri, dan tengkurap. Sampai yang tersisa hanyalah dengkuran halus milik Fersya. Iya, Fersya ketiduran dan Aries sadar itu. Walau Fersya tidak mendengarnya, tidak ada salahnya untuk mengatakannya.
"Selamat tidur Fer, kalau mimpi buruk, pas bangun jangan lupa doa. Besok aku jemput kamu ya. Sekali lagi selamat tidur."
Aries mematikan sambungan telpon mereka dan segera beranjak tidur juga. Di sisi lain Fersya sudah terlelap dengan posisi tengkurap dan ponsel yang masih tergenggam di tangannya.
***
Fersya sudah cantik dengan balutan dress mini punya Farsya. Iya, Fersya pinjam dress punya Farsya. Bukan berarti Fersya tidak punya dress, ia punya, hanya saja ia lupa menaruhnya dimana. Karena Fersya lebih sering pakai celana ketimbang dress ataupun rok kalau sedang bepergian beginilah jadinya.
"Tumben pake dress, sayang?" tanya Fani saat ia keluar dari kamarnya.
Fersya melirik Mamanya itu dan lanjut memainkan ponselnya. "Lagi pengen aja Ma."
Fani duduk di samping Fersya dan mengambil remote yang ada di samping kanannya. "Mau ketemu Aris ya? Jangan lupa bilang sama dia kalau kamu seminggu lagi bakal pergi ke Malang."
Ah, iya Fersya lupa kalau satu minggu dari sekarang Fersya akan pergi ke Malang. Lebih tepatnya menetap selama proses pendidikan berlangsung. Dan bisa-bisanya Fersya lupa memberi tahu Aries.
Akhirnya Aries datang beserta motornya, ia menitipkan motornya di rumah Fersya dan pamit pada Fani. Aries bilang kalau ia hanya mengajak Fersya ke taman komplek. Fani bercanda, dibawa kemanapun Fersya pasti suka dan Fani akan selalu mengizinkan. Fersya hanya mencebikkan mulutnya kesal saat Aries dan Fani tertawa dengan guyonan mereka.
Aries dan Fersya mengobrol sepanjang perjalanan menuju taman, sesampainya di taman mereka duduk di tempat favorit mereka.
"Ris, kok kamu nggak tanya kenapa aku hari ini pake dress?" tanya Fersya. Sebenarnya Fersya ingin tahu tanggapan Aries mengenai dirinya hari ini. Apa mungkin ia terlihat jelek mengenakan dress mangkannya Aries tidak menggubrisnya sama sekali.
"Kenapa harus ditanyain? Pake baju apapun yang kamu suka Fer. Karena mau kamu pake baju apapun jawaban aku tetap sama. Cantik."
__ADS_1
Fersya tersipu dengan ucapan Aries, dan untuk menutupinya Fersya malah mencebikkan mulutnya dan pura-pura menatap kesal pada Aries.
"Gombal deh."
Aries hanya tertawa saja sebagai balasannya. Mereka diam sejenak, menikmati semilir angin yang menerpa dan melihat orang-orang berlalu-lalang di depan mereka. Sore hari begini, taman memang selalu ramai. Karena cuaca yang tidak terlalu panas atau dingin membuat orang ingin berkumpul dan menghabiskan senja di sini.
"Oh iya, kamu mau kasih tau aku apa Ris?"
Aries merogoh kantung celananya dan mengeluarkan dompet di sana. Fersya bingung tentu saja, tapi ia hanya menunggu apa yang akan Aries keluarkan dari dompetnya itu.
"Tiket?"
Aries mengangguk, "Lusa aku seleksi dan itu tiket masuknya."
"Serius?!" kata Fersya terkejut sambil melihat tiketnya, "Aku pasti dateng."
"Besok ke rumah aja dulu, biar berangkatnya bareng sama Ibu."
"Ibu aja? Ayah, mbak Ira nggak ikut? Apa karena aku mereka jadi nggak bisa ikut? Tiketnya terbatas kan Ris? Seharusnya kamu kasih keluarga kamu aja Aris." ucap Fersya beruntun yang membuat Aries tertawa.
"Tiketnya emang terbatas, tapi bukan karena kamu kok Fer. Ayah di hari itu tuh keluar kota karena ada kerjaan, sedangkan mbak Ira nggak bisa ninggalin kelasnya karena ada presentasi. Cuman mereka titip dividioin aja sih."
Fersya tertawa, "Ah, itu mah gampang. Nanti aku vidioin."
Fersya masih melihat-lihat tiket yang diberikan Aries dan ia tetiba teringat, ada hal yang harus Fersya beri tahu juga ke Aries.
"Oh iya Ris."
Aries menoleh ke arah Fersya, "Hm?"
"Minggu depan aku pergi ke Malang, Ris. Lebih tepatnya, aku bakal menetap di Malang mulai minggu depan." Fersya balas menatap Aries.
Aries hanya mengangguk.
"Ris, kok semenjak pacaran sama aku kamu jadi pendiem gini sih, biasanyakan bawel."
"Aku laper Fer. Kamu nggak sadar apa, di belakang kamu tuh lagi ada tukang bakso dan sebenernya aku lagi curi-curi pandang ke tukang bakso itu."
Fersya menghela napas dan melihat ke belakang. Benar saja, di sana ada tukang bakso. Fersya menarik tangan Aries dan membawanya ke sana. Mereka pesan dua porsi mangkok dan makan di sana.
Mereka sudah selesai dengan makanan masing-masing dan tetiba saja Fersya terpikirkan sesuatu. "Ris, hubungan kita bakal baik-baik aja kan?"
"Karena LDR?" Fersya mengangguk.
"Entah. Kita nggak tau apa yang akan terjadi nanti. Jadi," yang tadinya tatapan Aries lurus ke depan, ia pindahkan arahnya ke hadapan Fersya.
"Jadi, daripada mengkhawatirkan masa depan yang kita nggak tau akan seperti apa. Lebih baik kita usahakan sebisa mungkin untuk hubungan kita. Nikmatin setiap proses dan perjalanan dari hubungan kita. Aku harap sih komunikasi kita tetep lancar."
Fersya menghela napas, Ariesbenar, daripada mengkhawatirkan masa depan yang entah akan seperti apa, lebih baik melakukan yang terbaik di masa sekarang yang nantinya untuk masa depan.
"Kita berdua harus saling jaga komunikasi lah."
Aries dan Fersya masih asyik mengobrol sampai Aries rasa waktu maghrib akan segera tiba. Jadi, mereka berdua pulang ke rumah Fersya. Setelah Aries solat maghrib di Mushola komplek, ia berpamitan dan segera pulang.
Fersya mengantarnya sampai teras rumah dan menunggu Aries pergi menjalankan motornya baru ia akan masuk kerumah. Aries berpamitan pada Fersya dan melambaikan tangannya.
"Hati-hati, Ris"
__ADS_1