
Ujian Nasional memang sudah selesai, masuk sekolahpun sudah tidak wajib lagi untuk mereka yang berada di kelas 12. Tapi masih ada beberapa murid kelas 12 yang masuk sekolah. Salah satunya Fersya. Yah, tahulah kalau untuk Fersya sih demi dapat uang jajan. Alasan lain sih karena hari ini pengumuman hasil SNMPTN dan si kembar, Niko dan Aries---yang omong-omong tidak ikut SNMPTN---memutuskan untuk berkumpul di taman baca.
Sebenarnya walaupun libur sekalipun si kembar tetap dikasih uang jajan, tapi hanya setengah dari uang jajan mereka jika mereka masuk sekolah, jadi jelas saja Fersya memilih untuk masuk sekolah bertemu dengan teman-temannya---walaupun tidak semua teman-temannya masuk sekolah---dan bisa mendapat uang jajan yang utuh.
Fersya butuh uang itu untuk menabung dan menggunakan uangnya untuk pendaftaran UTBK. Fersya tidak mau melibatkan uang orang tuanya, walaupun Fersya yakin kalau orang tuanya pasti akan memberikan uang itu secara cuma-cuma. Bahkan Fersya yakin Mamanya yang kurang setuju ia kuliah di luar kota pun tetap akan memberikan uang, doa dan dukungan untuknya. Tapi ini adalah pilihan Fersya sendiri, jadi untuk urusan biaya pendaftaran harus menggunakan uang Fersya sendiri.
Kalau perlu saat Fersya sudah diterima di jurusan yang diinginkannya, ia akan mencari beasiswa agar orang tuanya tidak mengeluarkan biaya banyak. Fersya tahu kalau orang tuanya memang mampu untuk menyekolahkan mereka di sekolah mahal sekalipun, tapi Fersya yang sebagai anak merasa harus membantu orang tuanya walaupun hal kecil sekalipun.
Tanpa sadar Fersya sudah sampai di kelasnya. Fersya pikir kelasnya akan sepi seperti kelas-kelas lainnya, tapi rupanya teman-temannya ini terlalu cinta dengan SMA Sebangsa dan memilih untuk masuk sekolah. Mungkin alasannya tidak jauh berbeda dengan Fersya.
Alya yang melihat kedatangan teman sebangkunya itu langsung meminta Fersya untuk duduk. Fersya baru sadar kalau tempat duduk mereka berdua sedang dikerubungi teman-teman ceweknya---teman-teman cowoknya sih tidak usah ditanya lagi ya mereka lagi ngapain, tentu saja mereka sedang main game.
Bahkan Sisil cs yang tidak terlalu dekat dengan Fersya pun ikut nimbrung. Asal tahu saja Sisil cs ini adalah lambe turah kelasnya Fersya, jadi Fersya berpikir kalau ada yang tidak beres disini, terutama tentang dirinya. Karena saat Fersya sudah duduk di bangkunya teman-teman ceweknya itu sudah menatapnya dengan penasaran, apalagi Sisil sang ketua geng lamber turah.
"Pasti ada yang nggak beres kan? Kenapa sih mereka natap gue kayak gitu?" bisik Fersya pada Alya.
"Kata si Sisil lo ditembak Aris kemarin. Bener?"
"HA?!"
"Iya, kemarin gue liat lo sama Aris lagi di empang. Tadinya mau gue biarin aja, lagian lo berdua kan emang kayak sendal, barengan mulu. Terus nggak sengaja gue denger si Aris ngomong 'Kalo gitu lo aja yang jadi pacar gue.'" kata Sisil sambil meniru gaya bicara Aries waktu itu.
Ya, Fersya akui, tiruannya mirip sekali. Bukan karena suaranya yang bisa menyerupai suara khas Aries yang serak-serak basah itu---ya, Fersya tahu deh kalau suara Aries tuh sebenarnya seksi, cuman kalau kalian dengar suara kagetnya Aries, pikiran suara seksi itu akan hilang seketika---tapi gestur dan nada yang ditiru Sisil seratus persen mirip sama yang Aries lakuin waktu itu.
Fersya jadi berpikir kalau tidak mengherankan untuk Sisil jadi ketua geng lambe turah, karena jiwa Sisil itu lambe turah sejati.
Melihat teman-temannya yang penasaran, Sisil dengan bangganya melanjutkan ceritanya. "Habis denger kayak gitu nggak jadilah gue biarin begitu aja. Gue manfaatkan untuk nguping pembicaraan mereka."
Hebat sekali ya Sisil ini, dia berbicara selancar itu seakan-akan orang yang bersangkutan tidak ada disana. Padahal Fersya ada tepat di depan cewek itu lhoo.
"Kalo lo nguping obrolan gue sama Aris sampe selesai, berarti lo tau dong kalo Aris cuman bercanda." mendengar perkataanku yang mungkin menurut mereka mengejutkan itu, teman-temannya melayangkan protes pada ketua geng lambe turah itu, bahkan Alya juga. Fersya tak menyangka kalau Alya juga penasaran urusan begituan, pikir Fersya Alya hanya penasaran soal novel saja.
__ADS_1
"Iya sih." lagi-lagi para pendengar melayangkan protesnya pada sang lambe turah, tak terkecuali Alya. Buru-buru Sisil member klarifikasi, "Tapi emang lo nggak sadar kalau nada bicara Aris pas bilang bercanda tuh aneh?" kali ini Sisil berkata dengan serius.
"Nggak ah biasa aja. Lo kali yang nganggepnya gitu, kan lo suka mendramatisasi."
"Jahat banget sih sindiran lo." kata Sisil, mungkin perkataannya terdengar menyedihkan, tapi kalian jangan tertipu ya, wajahnya menampakkan yang sebaliknya. "Tapi gue serius Fer, nada bicara Aris pas ngomong bercanda tuh aneh, bahkan pas dia nembak lo aja gue pikir dia beneran ngomong kayak gitu, soalnya nada bicaranya serius banget pas nembak lo. Eh taunya dia bilang cuman bercanda dan nadanya jadi aneh dari sebelumnya, kayak... malu keceplosan gitu lhoo. Lagian lo juga sempet ngira dia serius ngajak lo pacaran kan?"
Teman-teman ceweknya hanya melihat ke arah Fersya, menunggu jawaban apa yang akan dilontarkan Fersya. Fersya yang merasa seperti sedang di sidang jadi risih, ia memutuskan untuk menghindar dengan alasan ingin ke toilet.
Belum sempat berdiri dan menjalankan rencananya untuk kabur, tiba-tiba ada yang memanggilnya. "Fersya."
Aries.
Duh, kenapa Aris harus datang disaat yang nggak tepat sih?!!
***
Fersya berhasil kabur dari teman-temannya, walaupun harus menerima berbagai ejekan dari teman-temannya itu. Saat Aries memanggil namanya bukan hanya Fersya yang diam membeku, teman-temannya juga ikutan diam, seakan terkejut dengan kedatangan Aries. Ya, bagaimana tidak terkejut kalau orang yang sedang diomongin nongol ditengah-tengah mereka.
Aries yang masih berdiri di ambang pintu hanya diam dengan keterbingungannya, tanpa ba-bi-bu lagi Fersya langsung mengambil langkah seribu dan menyeret Aries untuk ikut bersamanya.
Sampai di pertengahan koridor menuju lapangan belakang ini Aries masih bingung kenapa teman-temannya tadi mengejek mereka berdua. Fersya sengaja tidak ingin memberitahu Aries karena ia malu.
Sejujurnya pertanyaan dari Sisil tadi masih terngiang di otak Ferysa. Apa benar bercandaan Aries itu bukan candaan? Fersya sadar sih kalau Aries awal ngomongnya tuh serius, mangkannya Fersya sampai ngira Aries beneran nembak dia dan jadi berharap---sampai sekarang.
Tuh kan, Fersya lagi-lagi malah mikirin itu.
"Fer, lo nggak bawa laptop?" tanya Aries memutuskan lamunannya.
"Aaaahh, jadi lupa kan. Ketinggalan di kelas. Males deh ih balik ke kelas, nanti diledek lagi." kata Fersya memasang wajah cemberut.
"Lagian emang temen-temen lo ngeledekin apaan sih? Daritadi gue nanya lhoo tapi nggak dijawab-jawab. Sedih dedek."
__ADS_1
"Ris, please stop! Geli tau ih! Gue balik ke kelas dulu deh, sana lo ke belakang duluan nanti gue nyusul." Fersya langsung pergi menuju kelasnya.
Aries hanya geleng-geleng kepala, cowok itu memilih untuk menunggu Fersya di koridor perbatasan lapangan depan dengan lapangan belakang. Tidak lama kemudian Fersya datang dengan sedikit berlari.
"Diledekin lagi?" Fersya hanya balas nyengir. Aries tidak mau memaksa Fersya untuk menjawab kenapa Fersya---dan dirinya---diledekin teman-teman kelas Fersya. Walau sebenarnya Aries penasaran pake banget, tapi Fersya kalau semakin dipaksa semakin bungkam, yang ada Aries dicuekin sampe besok. Bahaya kalau itu sampai terjadi.
Fersya langsung duduk di samping kembarannya dan menaruh laptop itu di meja. Mereka berempat---si kembar, Niko dan Aries---berada di taman baca dekat empang. Ya, sekarang selain kantin dekat kios soto Umi, tempat ini akan menjadi tempat yang akan mereka rindukan jika mereka sudah benar-benar lulus dari SMA Sebangsa.
Mereka berempat berkumpul di sana untuk melihat hasil SNMPTN. Kecuali Aries tentunya. Hari ini memang hari pengumuman hasil SNMPTN, si kembar dan juga Niko sudah siap dengan laptop mereka, siap menerima hasil apapun yang akan keluar dari layar laptop mereka.
Fersya sudah tahu hasilnya akan seperti yang ia lihat di layar laptopnya ini. Entah, Fersya ingin bersyukur tapi tak urung Fersya juga merasa sedikit kecewa karena gagal. Bagaimana pun ada kampus pilihannya dipilihan kedua, tapi mengetahui bahwa Fersya saja tidak lolos untuk seleksi masuk kampus pilihannya, bagaimana saat UTBK nanti?
Fersya harus belajar dengan giat agar bisa membuktikan kepada Mamanya bahwa Fersya bisa, tidak hanya pada Mamanya saja tapi Fersya juga harus membuktikannya pada dirinya sendiri.
"Gimana Fer?" pertanyaan Farsya membuat lamunan Ferysa buyar dan Fersya menggeleng dengan lesu.
"Gue tau kalo lo sebenernya seneng kan nggak lolos?" kali ini Aries yang bertanya.
"Seneng nggak seneng sih. Gimanapun kan ada kampus pilihan gue disitu, tapi nggak lolos juga. Kayaknya emang doa gue dijabah kalau gue bakal berjuang di UTBK. Lo gimana Far, Nik?"
"Gue diterima Fer. Dipilihan pertama." kata Farsya.
"Serius? Waaaahh, coba liat. Ikut seneng gue, habis ini lo urus pendaftaran ulang dong?" Farsya hanya balas menggangguk.
"Lo gimana Nik?" lagi-lagi itu pertanyaan dari Aries. Sepertinya yang paling penasaran soal pengumuman hasil SNMPTN ini Aries ketimbang mereka bertiga.
"Masih harus berjuang gue di SBM nanti."
"Sama kita cuy." kata Fersya sambil mengangkat tangan mengajak Niko untuk bertos ria.
Setelah itu obrolan mereka berlanjut sampai bel istirahat berbunyi dan mereka berempat memutuskan menuju tempat favorit mereka yang lainnya. Tentu saja kios soto Umi.
__ADS_1