
Malam datang dengan cepat dan api unggun sedang disiapkan. Saat Farsya ingin ke lapangan belakang karena di ajak teman-temannya untuk menunggu api unggun itu jadi, tetiba ia teringat kalau inhaler-nya tertinggal di tangan Fersya. Ia segera mencari saudara kembarnya itu.
Ia bilang pada teman-temannya kalau mereka jalan saja duluan, ia ingin mencari Fersya dulu. Mereka pun membalas dengan anggukan.
Makan malam telah usai, ia pikir Fersya akan ada di kelas yang akan ia tiduri nanti. Tapi, saat sampai sana dan menelisik ruangan yang cukup ramai itu tak ditemukannya Fersya.
Farsya berbalik dan ingin mencari Fersya di lapangan belakang, tempat berlangsungnya acara api unggun nanti. Mungkin saja kembarannya ada di sana. Namun, langkahnya tertahan karena lelaki yang memenuhi pikirannya belakangan ini.
Gilang.
Farsya menatap Gilang dengan tanda tanya, tak ada percakapan diantara mereka untuk beberapa detik. Sampai tangan lelaki itu menarik halus tangan Farsya dan membawanya ke depan mading yang memiliki cahaya cukup terang.
"Ada apa?" tanya Farsya cukup sinis, ia sedang berusaha menghilangkan kegugupannya.
"Aku mau bilang soal," jeda beberapa detik. Namun, jeda beberapa detik itu terasa sangat lama untuk Farsya yang sudah penasaran.
"Soal apa?" tak sabar Farsya menunggu.
"Soal hubungan kita." mendengar hal itu membuat wajah Farysa sedikit pias. Ia semakin gugup, Fersya takut apa yang dipikirkannya akan menjadi nyata.
Sepertinya dugaannya benar kalau Niko sudah melabrak Gilang tadi saat Farsya berusaha menguping pembicaraan mereka.
Mungkin Farsya sedikit senang karena, berkat Niko, akhirnya Gilang buka suara. Tapi yang tidak disukanya adalah Niko yang terlalu ikut campur dengan urusannya. Ia tak memintanya untuk melakukan hal itu. Karena ia merasa, ia harus menunggu sampai Gilang yang bilang sendiri karena kemauannya bukan karena paksaan.
Tak mendengar jawaban dari wanita di depannya ini membuat Gilang menghela napas.
"Sya, kita sama-sama tau perasaan kita masing-masing. Perasaan kita saling merestui. Tapi gue merasa keadaan yang nggak merestui." kata Gilang lagi yang membuat Farsya bertanya keadaan seperti apa yang tidak merestui mereka?
"Setelah lulus, gue disuruh bokap buat kuliah di luar negeri." Mendengar itu membuat Farsya makin bertanya.
"Terus keadaan seperti apa maksud lo yang nggak merestui kita?"
"Setelah ini kita bakal sibuk sama entah itu try out, ujian praktek sampai UN. Kita bakal sibuk banget, Sya. Mangkannya gue selalu tarik ulur hubungan kita. Karena gue pikir kita nggak akan bisa. Dan setelah lulus nanti gue bakal kuliah di luar negeri. Makin dikit aja intensitas kita ketemu, Sya.
Jadi, lebih baik kita temenan biasa aja. Kalau lo masih mau berteman dengan gue, gue sangat berterima kasih. Tapi kalau nggak mau juga nggak apa-apa. Karena gue tau, walaupun kita belum pernah memulai, rasa itu emang udah ada. Sya, ini pun nggak mudah buat gue. Maaf, Sya. Maafin gue yang brengsek ini."
Terlalu panjang penjelasan Gilang membuatnya tak bisa menampung semua ucapannya. Ia tak mengerti, tak paham, dan bingung harus menanggapi seperti apa.
Logikanya menyetujui apa yang dikatakan Gilang, tapi hatinya menolak.
Nanti mereka akan sibuk dengan segala macam ujian, lalu kuliah atau berkerja dijalannya masing-masing. Tapi, apakah hal seperti itu harus dijadikan alasan? Apakah Gilang takut untuk menjalani hubungan jarak jauh?
Ia masih bingung untuk menanggapi ucapan Gilang dan tanpa sengaja ia melihat tangannya yang masih dalam genggaman Gilang. Pikirannya kalut sekali sekarang ini, Fersya masih belum bisa membalas ucapan Gilang. Seperti yang ia bilang tadi, logikanya menyetujui segala ucapan Gilang, itu masuk akal tapi hatinya membantah bahkan menolak untuk menyetujui hal itu.
Ia memutuskan untuk melepas genggaman tangan Gilang dan berlari. Entah ia akan kemana, mungkin lebih baik ia ke lapangan belakang dimana teman-temannya berada.
Tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seseorang. Untung saja orang itu menangkap tangannya dengan sigap, sehingga ia tidak terjatuh.
"Farsya lo kenapa?" tanya orang itu.
__ADS_1
Ia mendongak dan mengetahui bahwa itu adalah Niko, langsung saja ia tumpahkan semua kekesalan yang ada ke Niko.
"Tadi pagi gue liat lo sama Gilang, lo ngomong apa ke Gilang hah?! Lo certain semua curhatan gue ke Gilang?! Kenapa lo ikut campur urusan gue hah?! Lebih baik gue nggak denger penjelasan sampah kayak gitu ketimbang gue digantung! Lo harusnya nggak ngelakuin itu, Nik!" teriak Farsya sambil menangis.
Mungkin masih ada beberapa orang yang lalu-lalang disekitar mereka yang sedang menatap heran Niko dan Farsya. Tapi selebihnya ada di lapangan belakang. Mungkin sedang menikmati api unggun yang sudah jadi. Tapi Farsya tak peduli semua itu, ia butuh pelampiasan saat ini.
Saat seperti ini, Niko tau lebih baik ia diam dan menerima semua hardikkan Farsya. Dibawanya tubuh Farsya dalam dekapannya. Walau Farsya sempat memberontak, namun akhirnya ia diam dan menerima dekapannya. Niko tak peduli apabila nanti akan ada yang melihat dan mengadukannya ke guru atau sebagainya, saat ini pusat perhatiannya hanya Farsya.
Dibiarkannya Farsya menangis, sampai ia puas. Sampai saat tubuh Farsya yang tetiba lemas dan sesak mulai menyerangnya. Niko yang panik, menanyakan dimana inhaler milik Farsya. Dengan susah payah Farsya bilang itu ada pada Fersya.
Niko berpikir, ia tidak mungkin untuk mencari Fersya sekarang. Lebih baik ia membawa Farsya ke UKS. Diangkat tubuh Farsya yang lemas ke dalam gendongannya. Ia segera berlari menuju UKS.
Niko bertemu dengan Gilang di persimpangan menuju UKS. Tidak ada waktu untuk berbasa-basi dengan Gilang saat ini, jadi Niko memutuskan untuk mempercepat langkahnya menuju UKS.
Gilangpun yang melihat Farsya dalam gendongan Niko langsung mengikuti langkah Niko menuju UKS. Sesampainya di UKS, Farsya langsung ditangani oleh anggota PMR yang sedang berjaga malam ini. Niko dan Gilang menunggu di luar, tidak ingin mengganggu anggota PMR di dalam.
Setelah anggota PMR tersebut keluar, Niko langsung menanyakan bagaimana keadaan Farsya dan dijawab sudah jauh lebih baik. Ia merasa lega karena Farsya baik-baik saja sekarang. Ia langsung masuk ke dalam dan saat melihat Farsya yang sedang tidur membuatnya bersyukur sekali lagi.
Kemudian, ada yang membuka pintu UKS, saat ia lihat ternyata yang datang adalah Gilang. Tak dihiraukannya Gilang, karena pikirannya sepenuhnya tertuju pada Farsya.
Selang beberapa menit kemudian, ada yang membuka pintu UKS lagi. Niko pikir mungkin saja itu anggota PMR. Namun, saat yang dilihatnya Fersya. Ia langsung geram dan tak bisa tinggal diam begitu saja.
***
Puncak dari kegiatan Persami sedang disiapkan, yaitu api unggun. Inilah yang ditunggu-tunggu si kembar saat mendengar kata Persami. Karena dari cerita teman-teman mereka hanya itulah yang menurut mereka paling mengasikkan, paling ditunggu-tunggu. Karena di acara api unggun tersebut ada banyak penampilan dari para peserta juga kakak pembina dan anggota Pramuka inti yang ikut menyemarakkan acara api unggun ini.
Mulai dari penampilan yel-yel, drama pendek, nyanyi, nari dan hal-hal seru lainnya. Hal yang diutarakan oleh teman mereka itu membuat Fersya tidak sabar menunggu api unggunnya jadi.
Kemana dia?
Baru ingin mencari Farsya tiba-tiba saja langkahnya terhenti karena kedatangan Aries.
"Kenapa disaat gue lagi cari Farsya, disitu lo selalu datang?" tanya Fersya yang terkejut karena datangnya Aries yang tiba-tiba.
Sambil cengengesan Aries menjawab, "Hehe, karena gue tau lo lagi membutuhkan gue."
"Dih, geer banget lo." dengus Fersya.
Sebenarnya ia mengiakan dalam hati saat Aries bilang kalau Fersya membutuhkannya. Karena malam-malam begini, yang mana ini hampir tengah malam ia tak berani untuk mencari Farsya sendirian dengan keliling sekolah.
"Mau cari kemana dulu?" kata Aries sambil mengikuti langkah Fersya. Fersya berpikir mungkin Farsya ada di kelas yang menjadi tempatnya tidur bersama regunya.
Tidak mendengar jawaban dari Fersya, Aries memutuskan tidak mengatakan atau bertanya lagi. Ia ikuti setiap langkah Fersya yang menyusuri koridor. Tapi, tiba-tiba saja ia punya ide untuk menjahili Fersya. Ia memutuskan untuk sembunyi dibalik pilar dekat kelas XII IPS 4 untuk menakut-nakuti Fersya.
Menyadari Aries yang tak kunjung menyamai langkahnya membuat Fersya noleh ke belakang buat teriakin Aries supaya jalanya jangan lelet. Tapi, saat ia lihat di belakangnya tak ada siapa-siapa, hal itu membuatnya panik. Ia menoleh ke segala arah dan meneriakkan nama Aries namun tak ada jawaban.
Koridor yang dilewatinya ini sedang sepi karena hampir semua orang berkumpul di lapangan belakang tempat acara api unggun berlangsung.
Dengan panik, ia memanggil Aries sekali lagi berikut ancamannya, "Aris! Jangan bercanda ah! Gue itung sampe tiga kalo lo nggak keluar juga gue tinggalin. Biarin lo di sini sendirian!"
__ADS_1
Jeda beberapa detik sebelum akhirnya Fersya mulai merujuk supaya Aries keluar dari persembunyiannya. Melihat Fersya yang seperti itu membuat Aries tidak tega untuk berlama-lama menjahilinya. Okay, ini untuk yang terakhir kalinya, batin Aries. Namun, baru saja ia ingin keluar dari persembunyiannya untuk mengagetkan Fersya tetiba saja ada yang menghampiri Fersya dengan tergesah-gesah seperti ada hal gawat yang terjadi.
"Fersya! Fer, untung gue nemuin lo di sini. Gue udah cariin lo kemana-mana." kata Anis salah satu teman sekelas Farsya dan juga satu regu dengannya sambil memegang kedua pahanya sebagai tumpuan badannya karena lelah.
Kebetulan sekali, pikir Fersya.
"Lo liat Farsya, nggak?" tanya Fersya langsung pada Anis.
Aries yang merasa rencananya tadi sudah gagal karena kedatangan orang itu, langsung saja ia keluar dari persembunyiannya dan menghampiri mereka berdua dan bertanya pada Fersya, kenapa? Fersya tidak menggubrisnya.
"Justru itu! Gue mau kasih tau lo kalo asma Farsya kambuh tadi, terus katanya inhaler-nya sama lo. Mangkannya daritadi gue cariin lo." mendengar itu membuatnya sadar kalau daritadi ia mengantongi inhaler-nya Farsya.
Farsya memang menitipkan inhaler padanya tadi saat di kamar mandi selesai makan siang dan ia lupa untuk mengembalikannya.
Bodoh sekali dirinya, rutuk Fersya pada diri sendiri.
Dengan panik ia berlari dan bertanya pada Anis dimana Farsya sekarang. Aries yang mendengar hal itu juga buru-buru mengikuti langkah Fersya.
Sesampainya mereka di UKS, ada sekitar tiga anggota PMR yang mungkin sedang berjaga malam ini. Langsung saja ia bilang kalau ingin menjenguk Farsya di dalam.
Niko dan Gilang yang sedang menjaga Farsya di dalam UKS menoleh begitu mendengar bunyi pintu UKS terbuka. Saat dilihatnya Fersya yang tadi membuka pintu UKS, Niko langsung menghardik dan mendorong bahu sebelah kanan Fersya.
"Kemana aja lo hah?! Lo liat sekarang, gara-gara lo saudara kembar lo ini hampir mati karena sesak napas," geram Niko.
"dan lo malah asik-asikkan di lapangan belakang sama Aris?!" dengus Niko tak habis pikir saat melihat Aries yang juga datang bersama dengan Fersya.
Fersya yang mendapati perlakuan dan caci maki seperti itu dari Niko hanya bisa diam. Menerima? Entahlah, ia merasa kalau yang diucapakan Niko memang benar. Ini semua salahnya, ia yang membuat Farsya seperti ini. Entah akan seperti apa reaksi orang tuanya saat mendengar hal ini. Ia tidak peduli.
Melihat Fersya yang diam saja didorong oleh Niko membuat Aries maju dan melindungi tubuh Fersya dari Niko. Aries balas perkataan Niko dengan bilang bahwa tadi Fersya ingin mencari Farsya. Namun, tertahan karenanya.
Niko tak percaya apa yang dikatakan Aries dan tak memberi ruang untuk Fersya berbicara.
Kenapa Niko sampai segininya? Kenapa ia tak member Fersya kesempatan untuk bicara, kenapa Niko tak percaya padanya. Fersya tahu kalau ini salahnya, kelalaiannya, tapi apa semua harus dikait-kaitkan denganya, apa semua yang berhubungan dengan Farsya harus selalu ia yang disalahkan?
Saat diberi tahu Anis kalau asma Farsya kambuh dan ia mencari Fersya karena inhaler Farsya ada bersamanya, Fersya benar-benar panik dan takut. Bukan takut akan reaksi orang tuanya atau Niko nantinya---karena sungguh ia tak peduli atau mencoba untuk tidak peduli---tapi ia benar-benar takut kalau terjadi apa-apa pada Farsya, jika itu sampai terjadi sudah jelas itu memang salahnya.
Melihat Farsya yang sedang tidur, membuatnya sedikit lega kalau mungkin Farsya sudah baik-baik saja. Ia mengambil inhaler Farsya dari kantung rok Pramukanya, kemudian bergantian memandang Farsya. Ia ingin meminta maaf padanya secara langsung, tapi Farsya masih tidur. Jadi ia urungkan.
Ditatapnya punggung cowok di depannya ini yang masih membelanya, ia memutuskan untuk menarik sedikit ujung lengan seragam cowok itu dengan kepala tertunduk. Aries langsung menoleh.
Saat dilihatnya Fersya yang menunduk dengan bahu gemetaran, ia tahu bahwa Fersya ingin cepat-cepat keluar dari ruangan itu. Langsung saja ia menggenggam tangan kanan Fersya dan menuntunya keluar.
Melihat Aries yang keluar bersama dengan Fersya membuat Niko semakin geram karena hardikkannya belum selesai.
Tak digubrisnya panggilan Niko, Aries terus menarik lengan Fersya dengan lembut.
Tapi, tiba-tiba Fersya menghentikan langkahnya dan melepaskan genggamannya. Kemudian Fersya menuju salah satu anggota PMR yang sedang berjaga dan memberikan inhaler milik Farsya kepada anggota PMR tersebut. Setelah itu Fersya melanjutkan langkahnya tanpa melirik Aries. Ia paham dan mengikuti Fersya kemana pun kaki Fersya melangkah.
Niko sempat ingin menyusul mereka berdua, namun ditahan oleh Gilang yang sedaritadi hanya menyaksikan perdebatan mereka.
__ADS_1
Gilang bilang, "Udahlah biarin aja, nggak sepenuhnya salah Fersya juga. Kenapa lo tumpahin semua kesalahan sama dia, seakan-akan lo pun nggak bersalah di sini?" hal itu membuat Niko tak berkutik, ia tak membalas ucapan Gilang ataupun meliriknya.
Kemudian, Niko menatapwajah damai Farsya yang sedang tidur dan membatin dengan kata maaf.