
Perdebatan itu tidak membuahkan hasil apapun karena orang tua si kembar tidak mengungkitnya lagi. Fersya pun memutuskan untuk masa bodo juga dengan hal itu karena apapun yang terjadi, untuk kali ini Fersya akan memperjuangkan pilihannya sendiri.
Libur semester sudah dimulai sejak dua hari yang lalu yang berarti sekarang adalah hari Senin. Dan dua hari yang lalu dihabiskan Fersya dengan bermain ke rumah Aries terus-terusan. Hari ini pun juga sama, bedanya adalah Fersya tidak akan main ke rumah Aries tapi ia meminta Aries untuk menemaninya membeli buku SBMPTN.
Fersya sudah pergi sekitar jam sembilan pagi dan sekarang ia sedang berada di busway menuju toko buku besar yang ada di daerah Matraman itu. Fersya dan Aries janjian bertemu di sana.
Saat Fersya meminta izin sama orang tuanya tadi, ia melihat kembarannya yang menatap dirinya. Fersya sadar maksud tatapan itu, Farsya ingin ikut pergi bersamanya.
Tapi maaf Far, gue nggak bisa ngajak lo karena gue sedang tidak ingin ada lo atau salah satu anggota keluarga kita. Batin Fersya saat itu.
Tentu saja Fersya masih kesal sama perdebatan beberapa hari lalu, ia juga sudah menceritakannya pada Aries. Saat itu Aries hanya diam, tidak Aries memang selalu diam saat Fersya sedang bercerita. Kalau bisa dibilang hal yang bisa membuat mulut cerewet Aries diam adalah dengan ceritanya Fersya.
Fersya pun memang lebih suka didengar karena ia hanya ingin mengeluarkan keluh kesahnya saja. Untuk masalah solusi Fersya memilih untuk mencarinya sendiri. Walau kadang Aries atau Alya yang sering menjadi tong sampah ceritanya ikut membantu mencari solusi.
Dan untuk masalah ini Fersya sudah dapat solusinya, yaitu ia akan berjuang habis-habisan di SBMPTN nanti. Sehingga, saat Fersya diterima nanti Mamanya tidak bisa berbuat apa-apa.
Fersya egois? Memangnya Fersya peduli omongan kalian? Tidak. Fersya juga sudah mulai mencari kos-kosan dekat kampus yang diinginkannya itu agar Mamanya tidak perlu kuatir nantinya. Fersya sudah bilang bukan ia akan berjuang habis-habisan kali ini untuk mencapai impiannya.
Entah ini impian Fersya atau sekedar keinginan saja, yang jelas Fersya benar-benar ingin masuk jurusan Pariwisata dan jauh dari orang tuanya.
Saat busway sudah sampai di halte tujuannya, Fersya segera turun dan menuju toko buku besar tersebut. Disapunya seluruh lantai satu toko buku ini dengan matanya, namun Fersya belum menemukan Aries.
Kemana sih tuh orang? Bikin kesel aja.
Fersya memutuskan untuk menelpon Aries sambil berjalan menuju lantai dua. Ia ingin lihat-lihat dulu baru membeli buku yang diinginkannya.
"Ris, gue udah sampe nih. Dimana sih lo?!" kesal Fersya saat telponnya langsung diangkat Aries tadi.
"Hahaha. Gue liat lo tadi Fer, tapi gue diemin aja biarin. Seru habisan, muka lo jadi lucu gitu."
"Muka kesel gue lucu ya Ris. Cepet kasih tau gue lo dimana, biar langsung gue sleding kepala lo!" balas Fersya sambil misuh-misuh. Ia sudah naik escalator yang menuju lantai dua dan handphonenya masih setiap di telinga.
"Kalo kayak gitu gue malah nggak mau ketemu lo. Serem banget sih lo!"
"Lama deh Ris, elah. Gue udah di lantai dua nih, cepet ke sini kalau nggak ya udah."
"Ya udah apa?"
"Ya udah terserah lo!"
Fersya langsung menutup teleponnya dengan kesal dan saat itulah Aries datang mengagetkannya. Langsung saja Fersya beri pukulan bertubi-tubi di lengan Aries sampai cowok itu memintanya untuk berhenti.
Dengan perasaan yang masih kesal Fersya berjalan menuju setiap rak, melihat-lihat buku yang ada di sana. Sebenarnya Fersya jarang ke toko buku, yang kecil sekalipun jarang apalagi yang besar seperti toko buku ini. Mangkannya saat ke toko buku besar seperti ini Fersya sedikit bingung harus mencarinya dilantai berapa. Jadi ia memutuskan untuk menyusuri seluruh lantai saja, sekalian Fersya juga ingin membeli novel untuk Farsya karena sebentar lagi hari ulang tahunnya.
Jika kalian belum tahu, ulang tahun Farsya dan Fersya ini beda tanggal. Farsya lahir tanggal 30 Desember pada pertengahan malam dan beberapa menit kemudian Fersya lahir yang mana tanggal sudah berganti menjadi 31 Desember.
__ADS_1
Ya, bisa dibilang begitulah filosofi si kembar beda tanggal ini.
Aries daritadi hanya mengikuti Fersya, dari rak satu ke rak lainnya. Dari lantai satu ke lantai lainnya. Fersya jadi bingung apa Aries tidak mempersiapkan apapun untuk masuk kuliah yang diinginkannya nanti?
"Ris, lo nggak ikut cari buku juga?"
"Buku apa?" tanya Aries dengan polosnya.
"Ya, buku SBM lah Ris. Emang lo nggak ada persiapan apapun gitu?"
"Nggak beli buku bukan berarti nggak mempersiapkan apapun kan?"
"Ya, nggak sih. Emangnya lo mau kuliah dimana Ris?" tanya Fersya penasaran sambil ia melihat-lihat novel.
Fersya sudah mendapat buku yang diinginkannya, terlepas dari harganya yang cukup mahal untuk pelajar, ia rasa buku ini bagus untuk dipelajari. Untung saja Fersya sudah merencanakan ini dari jauh hari jadi ia punya tabungan yang cukup untuk membeli kedua buku tersebut.
Fersya sebenarnya tidak tahu novel seperti apa yang disukai Farsya, tapi yang ia lihat dari teman-teman kelasnya yang suka membaca novel mereka suka dengan genre romance. Dan di rak inilah sekarang Fersya berada bersama Aries yang masih setia menemaninya.
"Gue belum ada bayangan mau kemana sebenernya." perkataan Aries cukup membuatnya terkejut. Fersya tahu kalau bukan Aries saja yang masih belum ada bayangan untuk kuliah dimana, teman-teman kelasnya pun masih banyak yang belum memikirkan ke sana.
Tapi melihat orang tua Aries yang cukup peduli pada pendidikan anaknya membuat Fersya berspekulasi mungkin saja Aries sudah merencanakan banyak hal jauh sebelum dirinya.
"Emangnya Ibu sama Ayah nggak nanyain?" tanya Fersya.
"Ibu ngebebasin gue mau dimana aja, asal gue istiqomah ngejalaninnya nanti."
Fersya sadar kalau perlakuan tiap orang tua pada anaknya itu berbeda-beda. Mungkin kalau Fersya jadi Aries, ia akan beranggapan Ibu dan Ayah tidak peduli ia masuk kuliah dimana. Tapi Fersya bisa mengerti maksud dari Ibu dan Ayah yang membebaskan pilihan pada Aries adalah karena mereka berdua percaya kalau Aries bisa bertanggungjawab atas pilihannya.
Bayangan perdebatan beberapa hari lalu menghampirinya lagi. Fersya sadar kalau Mamanya mau yang terbaik untuknya, tapi selama ini Fersya tidak bisa bebas dengan pilihannya sendiri dan orang tuanya selalu menuntunnya untuk memilih jalan yang sama dengan apa yang orang tuanya pilih.
Fersya jadi sedikit kesal pada Aries karena tidak mempergunakan hal itu dengan baik. Fersya kalau jadi Aries pasti sudah senang sekali bisa memilih kampus dan jurusan yang diinginkannya. Tapi sekali lagi Fersya sadar kalau setiap orang tua punya caranya sendiri untuk membimbing anak mereka, tinggal bagaimana sang anak menanggapinya.
Tidak ada pembicaraan lagi, Fersya sudah menemukan novel yang ingin dibelinya. Ia langsung menuju kasir untuk membayar dua buku yang dibawanya. Sedangkan Aries menunggunya di dekat escalator.
***
Fersya dan Aries tidak langsung pulang, mereka memutuskan untuk makan dulu. Sambil menunggu makanan yang dipesan jadi mereka melanjutkan pembicaraan yang tadi, lebih tepatnya Fersya yang kembali bertanya.
"Lo beneran belum kepikiran mau masuk mana?"
"Lebih tepatnya gue emang nggak mau kuliah Fer." ucapan Aries itu cukup membuat Fersya terkejut.
"Kenapa?" hanya itu yang bisa Fersya tanyakan sekarang.
Aries tidak langsung menjawab, ia diam beberapa saat sedang menimbang-nimbang apakah sebaiknya ia beritahu Fersya atau tidak.
__ADS_1
Aries sadar kalau tatapan Fersya masih melekat padanya, gadis itu masih menunggu jawabannya.
"Gue mau jadi pesepak bola Fer. Ketimbang belajar gue lebih suka main bola. Lo tau itu kan?"
Fersya balas mengangguk, "Jadi lo mau masuk Timnas Indonesia?" tanya Fersya sambil tersenyum meledek. Bukan meledek yang negative tapi Fersya hanya sedang menggoda Aries saja.
Aries hanya balas mengangguk sambil cengar-cengir sok malu.
Tidak lama kemudian, makanan yang mereka pesan datang dan mereka memilih untuk melanjutkan pembicaraan nanti karena suara perut mereka lebih mendesak dari apapun.
Aries yang lebih dulu menyelesaikan makanannya. Disela-sela Fersya yang sedang berusaha menghabiskan makanannya ia bertanya.
"Lo kenapa mau masuk Pariwisata Fer?"
Fersya hanya menatap Aries dan memilih untuk melanjutkan makannya dulu karena nanggung sisa satu suap lagi, pikirnya. Dan Aries setia menunggu Fersya untuk menyelesaikan makannya dulu. Salahnya juga kenapa ia bertanya disaat Fersya masih menyantap makananya.
"Karena gue suka jalan-jalan." kata Fersya sambil mengambil minumannya karena ia sudah selesai dengan makanannya. Aries menatap Fersya heran yang membuat Fersya tertawa geli. Ia sudah pernah melihat tatapan itu pada mata Alya saat temannya itu menanyakan hal yang sama padanya.
"Picik banget ya gue, pengen masuk pariwisata cuman karena jalan-jalan. Tapi jujur emang itu alasan utama gue dan setelah itu gue searching-searching lagi tentang jurusan itu yang ternyata nggak cuman jalan-jalan aja tapi juga belajar tentang manajemen, bahasa, geografi dan sebagainya. Dan gue nggak mempermasalahkan hal itu karena gue merasa pasti bisa ngelewatinnya karena memang jurusan itu yang gue mau."
Sekarang gantian Aries yang balas mengangguk sambil senyum-senyum meledek.
"Gue tau sih, nilai ekonomi gue tuh nggak bisa dibilang bagus, mangkannya gue milih buat berjuang habis-habisan di SBM nanti. Lo sendiri udah cari tau syarat apa aja yang harus dipersiapin dan jadwal seleksinya" lanjut Fersya.
"Soal itu sih gue udah cari-cari dari jauh hari, cuman yang jadi permasalahan gimana cara gue ngomong sama ortu."
"Bukannya lo bilang kalau Ibu sama Ayah ngebebasin lo memilih?" tanya Fersya heran.
Sebenarnya ada alasan kenapa Aries mempermasalahkan hal itu. Dulu saat kelas 10 ada hal yang terjadi di keluarganya karena hal itu membuat Aries jadi sedikit bimbang sekarang.
Sambil mengaduk-aduk minumannya yang sisa es batu saja Aries menjawab, "Iya, tapi entah kenapa gue merasa nggak enak sama mereka. Karena bagaimanapun mereka pasti mau anaknya kuliah trus kerja kantoran seperti anak teman-teman mereka." akhirnya Aries memilih jawaban ini. Daripada Fersya penasaran dan terus-terusan membanjirinya dengan pertanyaan itu.
Fersya membalas sambil menghela napas, "Lo pikir menjadi atlet bukan pekerjaan? Pekerjaan itu hanya profesi Ris, percuma pekerjaan lo setinggi direktur tapi lo nggak menikmatinya itu nggak ada gunanya. Ibu sama Ayah emang mau yang terbaik buat lo tapi terlepas dari itu semua orang tua juga ingin anaknya bahagia atas pilihannya sendiri."
"Ya ampun bahasa gue, sok bijak banget sih lo Fer." lanjut Fersya sambil tertawa geli karena memikirkan kata-kata bijaknya tadi.
"Hahaha! Fersya Teguh sedang memberi nasihat pada seorang Aries. Beruntungnya aku." ledek Aries dengan candanya.
"****** lo!" kesal Fersya sambil memukul lengan Aries pelan.
"Nggak kok Fer, justru gue makasih banger ke lo.berkat lo gue sedikit sadar. Kayaknya nanti pulang gue bakal bicarain ini sama Ibu dan Ayah."
"Baguslah kalau gitu. Terus kasih tau gue setiap perkembangannya ya!" pinta Fersya.
"Lo juga Fer."
__ADS_1
Mereka memutuskan untuk pulang dan membayar makanan mereka setelah pembicaraan tadi usai. Fersya pulang diantar Aries karena cowok itu memaksa untuk mengantar Fersya pulang sampai rumah.
Fersya memang berangkat menggunakan busway tadi pagi karena memang sedang ingin dan sekarang hari sudah sore pasti busway lebih ramai, jadi Fersya iyakan saja ajakan Aries. Habis Aries memaksa.