
"Abang, lagi ada urusan di luar katanya, Pi. Biar aja, lagipula, Hawa udah baikan," jawab Hawa. Bagaimana pun sikap dari Faruq akhir-akhir ini, dia selalu menutupinya dari Samudera. Karena, ia tau, sang papi tidak akan rela ia di sakiti oleh siapapun. Bukankah, memang salah satu kewajiban serta tanda bakti seorang istri adalah menutupi aib dari suaminya sendiri?
"Ya sudah, kalau kamu tidak apa-apa. Katakanlah pada, suamimu. Jangan terlalu sibuk diluar. Apa yang ia cari. Harta kalian sudah berkecukupan. Apalagi, keadaanmu ini sangat membutuhkan perhatian. Katakan juga padanya. Papi tidak peduli berapa pendapatannya. Terpenting anak-anak tidak kekurangan perhatian dan kasih sayang. Jangan kau sibuk, dia juga sibuk," tutur Samudera mengingatkan. Karena tidak mungkin jika dia yang bicara langsung pada Faruq.
Samudera , tidak mau terkesan mencampuri urusan rumah tangga anak-anaknya. Jika di butuhkan, dirinya hanya akan memberi nasihat dan masukan saja. Selebihnya, semua keputusan dan pilihan ia serahkan pada sang anak.
"Insyaallah, Pi. Nanti, Hawa sampaikan hal ini. Terimakasih, sudah banyak mendukung kami selama ini. Susah mau menjaga kedua putri Hawa juga. Papi, juga ... janganlah terlalu sibuk. Pikirkan kesehatan dan kebahagiaan. Jangan sering keluar kota. Apalagi keluar negeri. Biarkan anak buah Papi saja yang bekerja. Papi tinggal pantau," balas Hawa. Hal itu membuat Samudera menggeleng.
"Kau ini memang dasar perempuan. Sama seperti, Keysha. Papi bicara dia kalimat, kalian akan membalas dengan satu paragraf," ucap Samudera sambil tertawa. Terkadang rasa sedih menghampiri, jika ia kembali mengingat mendiang istrinya itu.
..."Ya, kan Hawa anak mami, Pi!" celetuk Hawa. Hal itu lantas membuat Samudera semakin tergelak. ...
...Hawa paham, Pi. Kau sedang merindukan mami. Tawamu sengaja untuk mengalihkan rindu dan sedih itu. Aku tau, Pi. Hawa mengerti. Karena Hawa pun merasakan hal yang sama....
Hawa menatap nanar ke arah Samudera, hingga pria yang masih nampak gagah di usia senjanya itu, tersenyum getir dan menghela napas.
"Bagiamana, Papi tidak merindukannya, Wa. Kau, tujuh puluh lima persen mengambil setiap kemiripan darinya. Melihat kau sakit begini, membuat papi takut," ungkap Samudera. Pria ini mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar Hawa. Karena sesungguhnya dia masih menginginkan berbicara banyak dengan putrinya itu.
Karena, hanya Hawa. Anak yang tinggal dekat dengannya. Sementara putri pertamanya di luar negeri ikut suami. sedangkan putra bungsunya sedang menempuh pendidikan di negeri Paman Sam.
"Bukan hanya, Papi. Hawa juga. Berbagai penyesalan terkadang membuat dada ini sesak Pi. Namun, sekali lagi semua ini adalah takdir dari Allah. Mungkin, dan semoga saja. Pada saat ini, mami lebih bahagia sesuai dengan harapan kita," tutur Hawa. Mengungkapkan perasaannya juga.
"Aamiin, semoga saja. Apa yang kita inginkan adalah sebuah kenyataan. Mami mendapat kebahagiaannya di sana," ucap Samudera seraya memijat pangkal hidung. Ia sangat mencintai Keysha. Namun, wanita itu telah keburu pergi sebelum merasakan berbagai kemewahan yang mereka perjuangkan bersama.
"Yakinlah, akan ketentuan Allah itu yang paling indah dan terbaik, Pi," ucap Hawa seraya mendekatkan diri untuk memeluk orang tua satu-satunya itu.
"Hawa beruntung banget ada Papi yang selalu dampingi. Papi yang hebat dan luar biasa sabar. Hingga kami semua menjadi sosok yang juga kuat dan sukses. Jazakallahu, Pi. Semoga panjang umur," bisik Hawa. Dimana ucapannya barusan membuat Samudera tersenyum bahagia.
__ADS_1
Atas kuasa dan kebesaran Allah, dirinya mampu membesarkan ketiga anaknya sendirian. Sekarang kedua anak perempuannya telah lepas dari tanggung jawabnya. Mereka berdua telah mempunyai imam masing-masing. Namun, bukan berarti hal itu menjadikan Samudera melepas mereka begitu saja.
Sesekali ia akan memantau keadaan, kemudian memberi peringatan jika sekiranya para putrinya ini ingin melenceng. Sebagai orang tua, ia tetap merasa masih bertanggung jawab. Sebelum, waktunya tiba untuk memanggilnya kembali menghadap Sang khalik.
"Tania ikut, Yeye. Biar mama mu istirahat sayang," ajak Samudera pada cucu keduanya itu. Tania pun menurut dan meraih uluran tangan dari kakeknya itu.
Malam harinya, selepas isya. Faruq baru pulang. Pria itu langsung mandi dan makan. Tanpa menanyakan bagaimana keadaan Hawa. Dia langsung tertidur begitu saja.
Tengah malamnya, Hawa terbangun karena menggigil hebat. Bahkan tempat tidur sampai bergetar. Faruq tak bergeming, pria itu tetap pulas di balik selimutnya.
Hawa yang masih terus menggigil tak mampu menggerakkan bibirnya untuk sekedar memanggil suaminya itu. Matanya terpejam merasakan dingin yang menusuk hingga ke jantung. Bahkan, Hawa mulai sesak bernapas.
Tak lama kemudian, rasa dingin itu terlewati. Hawa merasakan lemas di sekujur tubuhnya. Ia masih belum bisa membuka mulut maupun menggerakkan lidahnya.
"Ya Allah, kematian rasanya sangat dekat. Hamba lemah sekali. Kau beri dingin saja lidah ku tak mampu bergerak. Tenggorokanku tak sanggup mengeluarkan suara. Anggota tubuh tak mampu ku gerakkan. Sejatinya, aku selalu sendirian. Menghadapi semua sendirian. Karena, bang Faruq bahkan tak sadar. Jika, aku baru saja mengalami hal yang membahayakan ," gumam Hawa pelan.
"Bang!" panggil Hawa seraya menggerakkan bahu, Faruq.
"Eugh!" Faruq hanya menggeliat dan menaikkan selimutnya yang turun. Tanpa membuka mata apalagi menoleh.
"Bang. Tolongin, Hawa. Bangun, Bang!" panggil Hawa lagi. Untuk berbicara seperti ini saja Hawa harus mengeluarkan tenaga ekstra. Susah sekali menggerakkan mulutnya. Rasanya sangatlah lemas tak bertenaga. Hawa pun bingung akan apa yang ia alami saat ini.
"Kenapa sih!" protes Faruq yang berbalik dan melihat istrinya dengan mata setengah terbuka. " Kanapa sih, bangunin aku? Udah subuh emang?" cecar Faruq dengan suara orang khas bangun tidur.
"Belum. Bang ..." jawab Hawa sangat pelan. Ia menguatkan dirinya untuk tetap dalam keadaan sadar.
"Ya terus kenapa kamu bangunin, Abang? Mau minta jatah ya? Emangnya kamu udah kuat ngajak aku main, Wa?" cecar Faruq lagi. Ia masih setengah terbangun jadi belum menatap Hawa secara sempurna.
__ADS_1
"Antar aku, kerumah sakit," ucap Hawa tegas. Karena ia mengeluarkan tenaga terakhirnya. Setelah itu, ia terkulai lemas tak sadarkan diri.
"Apa, Wa? Wa!" Kedua bola mata Faruq pun langsung membola besar. Karena setelah memutarkan permintaannya, Hawa tak bergerak dengan kedua mata terpejam.
"Ya Allah kamu kenapa?" Faruq pun seketika bingung. Karena seluruh tubuh Hawa sangat panas.
Faruq pun berlari keluar dari kamar sambil berteriak memanggil papi mertuanya. " Pi, Papi! Papii!" Faruq berlari hingga ke depan pintu kamar Samudera kemudian mengetuknya dengan keras.
"Astagfirullah, kenapa, Far?"
"Hawa, Pi. Pingsan di kamar!" ujar Faruq mengabarkan keadaan Hawa. Samudera yang kaget langsung berlari ke kamar putrinya kini.
"Bangunin sopir, suruh nyalain mobil!" titah Samudera. Ia tak habis pikir. Bukankah Hawa tadi sore sudah terlihat lebih sehat dan segar. Kenapa sekarang menjadi seperti mayat hidup begini. Kulitnya sangatlah pucat.
"Kau ini kenapa? Jangan membuat Papi takut," gumam Samudera, dengan air mata yang tanpa peringatan main jatuh begitu saja.
Sesampainya di rumah sakit. Hawa langsung ditangani oleh dokter di ruang instalasi gawat darurat. Karena Hawa sempat mengalami gagal bernapas. Kebetulan dokter yang biasa menangani seluruh keluarga Samudera memang sedang bertugas.
"Sepertinya, pasien sudah mengalami gagal bernapas selama beberapa menit. Jika terlambat sedikit saja mungkin akan sangat berbahaya. Apalagi keadaannya saat ini sedang mengandung. Untuk lebih jelasnya lagi nanti kami akan memindahkannya pada dokter spesialis kandungan," jelas dokter wanita yang menangani Hawa. Samudera terlihat memegangi dada sebelah kiri. Kejadiannya hampir sama dengan yang dialami oleh mendiang istrinya.
Samudera menoleh ke arah Faruq Albani yang juga nampak terkejut. Karena, Hawa ternyata, tengah mengandung anak ketiga mereka.
"Lain kali, kalau tidur jangan seperti orang mati. Hawa pasti sudah berkali-kali mencoba membangunkanmu," ketus Samudera.
Sialan ni mulut orang tua!
...Bersambung ...
__ADS_1