Godaan Daun Muda

Godaan Daun Muda
Bab. 17. Ketemuan Lagi.


__ADS_3

[ Ketemuan lagi? Em ... apa gapapa, Mas? Aku --]


"Kenapa? Apa pacar kamu marah?" Faruq menelepon Fradya di roof top, sengaja demi mencari ketenangan. Sambil merasakan hembusan angin semilir yang menerpa wajahnya.


[ Bukan gitu sih. Kenapa juga dia harus marah, kan aku sama Mas cuma berkawan aja. Iya kan, Mas? ]


"Iya dong. Jadi gak masalah ya seharusnya?" Faruq agak mendesak Fradya. Meksipun ia tau jika gadis itu sudah memiliki pacar. Karena ia pikir, gadis muda akan lebih tertarik dan nyaman jalan dengan pria berduit. Walupun dari segi kebugaran dan ketampanan, Faruq jauh dari Irham, pacar Fradya yang anak kuliahan itu.


[ Seharusnya sih enggak. Tapi, nanti sore Dya kabarin lagi ya. ]


"Ok siap. Mas bakalan nungguin kok. Semoga, posisiku sedikit penting. Karena, aku lagi butuh banget temen ngobrol," ucap Faruq sedikit lirih. Dengan maksud, menyentuh hati Fradya. Membuat, seakan-akan dirinya saat ini sedang galau berat dan tidak ada semangat.


Padahal, itu semua hanya akal-akalan dari faruq saja. Meriang karena hasratnya belum kesampaian. Berniat melepaskan endorfinnya dengan menikmati kesegaran dari daun muda. Semakin lama, Faruq semakin terobsesi dengan gadis penjaga konter pulsa itu.


"Aku harus buat kamu memilih aku ketimbang anak bau kencur itu, Dy. Cowok itu gak punya apa-apa ketimbang aku. Dia gak bisa memenuhi keinginan kamu. Gadis semahal kamu gak boleh dapet cowok miskin," gumam Faruq, dengan senyum miring yang menghias wajahnya.


Kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku, dan beranjak turun ke bawah. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Semangatnya agak naik setelah mendengar suara Fradya. Sementara, telepon dari Hawa entah sudah berapa kali dia reject.


Sementara itu terlihat Hawa mondar-mandir di dalam kantornya. "Bang. Kok gak diangkat sih telponnya? Apa sibuk banget ya?" gumam Hawa sembari memperhatikan layar ponselnya. Karena sejak tadi teleponnya di abaikan oleh Faruq.


"Astagfirullah, nelpon suami sendiri susahnya minta ampun. Aku cuma mau minta tolong," keluhan Hawa pun pada akhirnya keluar juga dari mulutnya. Padahal selama ini ia adakah tipikal wanita yang selalu menerima apapun keadaan sang suami. Mau bagaimanapun sikap dan perangai Faruq padanya. Tapi, entah pengaruh hormon atau apa, kesabarannya perlahan terkikis.


Siangnya, Hawa memutuskan untuk ijin dari kantor. Merelakan pekerjaannya di handle dulu oleh beberapa orang kepercayaannya. Karena, Hawa memutuskan untuk segera menemui dokter kandungan. Hawa ingin mengkonsultasikan keadaan kulitnya. Selama hamil ia belum pernah memiliki waktu untuk mengurus keadaan dirinya.


Namun, semenjak beberapa kali mendapat penolakan dari suaminya. Hawa merasa bersalah. Karena sebagai seorang Istri dia belum bisa memberikan kenyamanan dalam memenuhi hak prerogatif milik Faruq.


Hawa merasa abai dan lalai. Karena masa kehamilannya kali ini, ia merasa sungguh sangat malas dalam mengurus dirinya. Apalagi ditambah dengan kesibukannya di dunia. Membuat Hawa semakin menomorduakan keadaan tubuhnya.


Semula ia berpikir, Faruq akan memakluminya. Karena, keadaan ini bukanlah keinginan dari dirinya sendiri. Namun, ternyata Hawa tetaplah harus mengesampingkan egonya. Ia membuang jauh-jauh rasa malas itu. Demi kesempurnaan penampilan untuk membahagiakan suaminya.


Bukankah, istri adalah perhiasan bagi suaminya. Istri adalah penghiburan bagi suaminya. Hawa, yang selalu menempatkan diri dalam berusaha semaksimal mungkin mengabdi pada sang suami. Dimana, para istri akan dapat masuk dari pintu surga manapun selama ia mendapat ridho dari suaminya itu.

__ADS_1


Itulah, pedoman yang Hawa pegang selama ini. Ia ingin menjadi sosok istri yang sempurna bagi suaminya. Melakukan serta memberikan segala yang terbaik bagi Faruq.


Akhirnya Hawa pun bertemu dokter spesialis. Kemudian ia mendapat perawatan khusus yang bisa dilakukan rumah. Senyum Hawa terukir lebar. Setidaknya ia sudah mendapatkan solusi untuk memudarkan bekas garis-garis menganggu di sekitar kulit perutnya itu.


Hawa ke rumah sakit seorang diri. Sementara sang suami sedang makan siang dengan gadis muda yang sejak tadi melempar senyum manisnya. Karena apa? Karena Faruq baru saja mengirim sejumlah uang ke dalam rekening gadis itu. Hingga, Fradya merasa dirinya tak perlu bekerja lagi. Toh dengan cara menemani pria dewasa seperti ini saja, sudah mampu membuat ATM-nya gendut.


Apalagi Faruq sangatlah royal padanya. Hingga, Fradya sama sekali tidak menyesal ketika membatalkan agenda ketemuannya dengan sang kekasih Irham. Pria tampan bin manis, yang sudah dia tahun ini ia pacari.


"Eh, itu bukannya cewek si Irham ya?" tunjuk seorang pemuda ke arah Fradya yang sedang duduk berhadapan bersama Faruq. Sambil bertanya pada wanita yang berjalan di sampingnya.


"Kayaknya iya. Gue sering liat tuh cewek di postingannya si Irham. Bidadariku konon. Ternyata, jalan sama sugar Daddy!" ejeknya mencibir. Membuat pria di sebelahnya terkekeh.


"Gila dong. Si Irham kena dikibuli tuh cewek," celetuknya. Masih terus tertawa. Bahkan mereka berdua, menghentikan langkah demi memperhatikan seraya mengambil beberapa foto.


"Ya namanya juga cewek. Apalagi merasa kalo dirinya tuh cakep," ucap wanita di sebelahnya sambil mengambil beberapa foto secara diam-diam.


"Padahal ukhti ya. Tapi kok kelakuannya, kayak Kunti?" seloroh pria di sebelahnya lagi. Seraya melirik sekilas ke arah wanita yang juga mengenakan kerudung di sebelahnya ini.


"Iya iya sorry. Gue salah ngomong. Maaf. Lu kan gak kayak gitu ya. Berhijab tapi bisa menjaga diri dan tau batas diri juga. Sampe gue aja gak bisa megang tangan Lo!" ungkap pria itu sambil nyengir. Karena ia agak ngeri melihat raut kemarahan di wajah kekasihnya ini.


"Mau megang gue? Nanti kalo udah jabat tangan ma bokap gue. Masih bagus aja gue mau jalan Ama Lo!" Wanita itu langsung jalan lebih dulu. Kesel, karena mulut nyinyir pria di sebelahnya tadi.


Memang menyebalkan ketika melihat wanita berkerudung yang tidak memiliki norma dan pengertian dari, bagaimana cara perempuan muslimah menjaga tingkah laku serta kepribadiannya.


Sehingga, mereka yang berada di garis lurus juga terkena imbasnya. Orang awam bahkan akan menganggap bahwa mereka semua sama. Padahal sikap dan kepribadian itu menyasar pada individu bukan komunitas maupun agama.


Keduanya pantas tidak terima, karena mereka adalah sahabat dari Irham.


"Makasih ya, Mas. Udah dikirim yang jajan lagi. Aku jadi gak enak Lo. Setiap ketemu ada aja yang Mas kasih ke aku," tutur Fradya takut jika Faruq mengira dirinya seperti perempuan matre.


"Kalo gak enak. Kasih kucing aja. Atau kasih ke ayam kek!" celetuk Faruq menanggapi omongan Fradya. Tentu saja dia tidak sayang mengeluarkan uang untuk gadis muda di hadapannya ini.

__ADS_1


Karena apa yang telah Faruq berikan tidak seberapa dengan kesenangan yang ia dapatkan. Setiap mengobrol dan jalan dengan Fradya, maka, Faruq akan merasa jika dirinya dua puluh tahun lebih muda. Ia merasa sangat bersemangat dan kembali bergairah.


"Kasian kucingnya atuh, masa di kasih yang gak enak," seloroh Fradya hingga keduanya berakhir tertawa.


"Gimana aku nggak senang ngasih jajan buat kamu. Karena kalau udah ketemu kamu tuh aku rasanya senang banget. Lupa sama semua masalah dalam hidup aku. Lupa dengan semua beban hidup yang menghimpit dada aku. Aku rasanya bahagia dan bebas," ungkap Faruq dengan tatapannya yang sulit diartikan ke arah Fradya.


Deg!


Fradya merasakan debaran jantungnya menjadi tak beraturan. Mendadak Fradya terkena serangan, gombal syndrom.


"Kita jalan ya. Janji gak akan sampe malam banget kok!" ajak Faruq. Karena ia belum mendapatkan apa yang ia inginkan sebenarnya dari pertemuan dengan Fradya.


"Mau kemana? Memangnya, Mas nanti gak di cariin gitu sama istri dan anaknya? Aku gak mau loh, Mas kalo di cap sebagai --"


Faruq menghentikan ucapan Fradya yang ia tau akan ke arah mana. Dengan menempelkan jari telunjuk ke depan bibir tebal nan mungil milik Fradya.


"Gak ada yang mengira seperti itu. Kita berteman bukan? Wajar dong kalo teman itu menghabiskan waktu bersama sesekali. Lagipula, aku masih tau batasan dan juga ingat status aku. Tenang aja, gak ada yang berani mengecap kamu sembarangan."


Mendengar ucapan dari pria dewasa di hadapannya ini maka, Fradya pun mengangguk dan tersenyum. Keduanya pun pamit untuk kembali pada pekerjaannya masing-masing. Dan akan ketemuan lagi nanti sore.


Fradya akan meminta ijin terlebih dulu pada Kokom, sang emak. Agar ibunya yang terkenal cerewet itu tidak lagi berpikiran macam-macam padanya.


Malam harinya.


Hawa sudah mempersiapkan dirinya. memberi olesan dari oli khusus pada area sekitar perut leher serta ketiaknya. Ia sengaja menggunakan bahan krim yang alami pada wajahnya. Dengan aroma wangi yang tidak berlebihan. Karena, semenjak hamil Hawa sangat sensitif penciumannya.


Bahkan semenjak hamil pula, pakaiannya tidak ada yang menggunakan pewangi ketika di cuci maupun di setrika.


"Abang, semakin hari sering pulang malam. Apa sebenci itu, Abang sama aku." Hawa yang perasaannya lebih sensitif semenjak hamil pun tak tahan untuk tidak menjatuhkan air matanya. Ketika jam di dinding menunjukkan angka sepuluh lewat lima belas.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2