Godaan Daun Muda

Godaan Daun Muda
Bab. 12. Kepercayaan Hawa.


__ADS_3

"Kamu kemana Bang? Kenapa jam segini belum juga pulang?" Hawa bergumam seraya merasakan resah dan khawatir di dalam isi kepalanya. Kepalanya mendongak untuk melihat arah jarum jam sekali lagi. Hampir tengah malam.


Ia telah berpikir macam-macam. Akan tetapi semua tentang keselamatan dari Faruq suaminya. Ia sungguh sangat mempercayai suaminya ini. Tak pernah sekalipun terlintas untuk mencurigai Faruq, bermain api di belakangnya. Karena bagi, Hawa ... Faruq mengerti tentang hukum perzinahan.


Hawa kembali mual muntah. Pikirannya yang berkecamuk membuatnya tak berselera memasukkan apapun ke dalam perutnya. Nampaknya, kehamilan kali ini lebih parah dari sebelumnya.


"Sudah beberapa hari aku tidak menjalankan tugasku sebagai seorang istri. Bang Faruq pasti membutuhkan penyaluran. Bagaimana ini, tubuhku sangatlah lemah." Lagi-lagi, Hawa bermonolog.


Ia menghampiri cermin, menyentuh wajahnya yang pucat pasi serta bibirnya yang kering. Tatapannya menuju pakaiannya yang kurang menarik. Segera, Hawa berjalan cepat masuk ke walk on closed. Ia mengganti pakaiannya dengan yang lebih pantas dan layak. Memoles wajahnya yang pucat dengan riasan. Melupakan rasa lemas dan pusing yang mendera. Ia hanya ingin ketika suaminya pulang penampilannya tidak lagi berantakan.


Hawa tersenyum tipis. Sekali lagi melihat penampilannya yang nampak lebih segar dengan dress berbahan tipis. Sehingga, pakaian tersebut memperlihatkan bentuk tubuhnya.


"Bang Faruq pasti akan senang ketika pulang nanti. Bagaimanapun aku harus menawarkannya. Karena ini kewajiban, dan aku tak mau hal ini dijadikan alasan baginya untuk menduakan aku. Tidak, aku tidak akan bisa terima. Membayangkannya pun akan terasa sangat sulit." Hawa memang kepalanya dan menggeleng cepat. Menghempaskan segala pikiran buruk yang seketika berkelebat.


Sementara itu.


Faruq mengantar Fradya hingga depan gerbang pagar rumah sederhana gadis itu. Kebetulan, jalannya cukup besar untuk dilalui mobil. Sebab, tempat tinggal Fradya dan keluarganya menjorok agak ke kampung. Bahkan, dekat dengan danau buatan yang biasa di sebut setu.


"Makasih ya, Mas. Udah ajak aku bersenang-senang malam ini dan diantar pula selamat sampe rumah. Ini masih ada oleh-oleh juga buat emak sama bapak," ucap Fradya senang. Tentu saja, karena baru kali ini ia dimanja oleh lelaki seperti ini. Siapa yang bisa menolak?


Kalau jalan dengan pacarnya, Irham. Paling jauh mereka hanya akan nongkrong di depan mall. Lalu makan nasi goreng sepiring berdua. Atau makan batagor sambil duduk di atas motor. Menikmati suasana malam di pinggir flyover.


Faruq hanya menanggapi dengan senyum lebar. Ia pun sebenarnya juga sangat senang. Tapi ini baru permulaan. Ia takkan melakukan hal yang lebih jauh dari ini. Karena, ia tau Fradya adalah gadis yang masih memegang tabu dalam suatu hubungan.


"Saya yang harusnya berterimakasih, karena kamu mau meluangkan waktu istirahat demi menemani saya. Saya, harap kamu gak kapok ya ... jika suatu saat saya mengajakmu pergi lagi," ucap Faruq yang tetap berada didepan kemudi. Ia hanya menurunkan kaca jendela mobilnya saja.


"Maaf, gak bisa ngajak Mas Faruq mampir. Karena ini sudah malam," ucap Fradya menjelaskan dengan mimik wajah penuh sesal.

__ADS_1


"Iya gak apa. Aku juga tau diri sih. Udah bawa anak gadis orang sampe malem gini. Sampein maaf aku ke ayah kamu ya. Lain kali gak akan kebablasan gini lagi. Ya, kalo lain kali kamu mau jalan sama saya itu juga."


"Mau kok!" Fradya keceplosan, ia pun segera menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangannya.


"Emangnya gak ada yang marah nanti?"


"Siapa? Bapak? Ah, nanti Dya jelasin. Pasti bapak ngerti. Apalagi ini ada makanan kesukaannya," ucap Fradya sambil mengangkat bungkusan berisikan martabak telur spesial.


"Pacar kamu mungkin?" tebak Faruq sengaja mengulik.


"Sudah malam, Dya masuk dulu ya, Mas," ucap Fradya yang mencoba mengalihkan pembicaraan. Kebetulan, ia tau bahwa sang bapak dan emak sedang mengintip lewat jendela ruang tamu.


"Ah ya, kamu benar. Ah, saya emang keterlaluan. Ya sudah masuk sana. Dalam buat orang tua kami, sampaikan permintaan maaf dari saya. Dan, pikirkan tawaran saya, soal pekerjaan," ucap Faruq lagi. Hingga, akhirnya ia ajukan kendaraannya untuk menjauh dari depan rumah Fradya.


Fradya membuka pintu pagar yang memang belum di kunci itu. Lalu ia menguncinya menggunakan gembok. Membawa kuncinya ke dalam. Bahkan, pintu rumah juga belum di kunci. Dan ketika ia membuka pintu, sang ibu langsung menarik tangannya mengajak duduk di kursi rotan.


Wanita usia sekitar empat puluh tahun lebih, mengenakan daster besar karena tubuhnya juga besar. Kebetulan, Fradya adalah anak pertamanya.


Sementara, sang bapak hanya berdiri seraya bersidekap dada.


"Kalo nanya satu-satu. Dya juga bingung mau jawab pertanyaan kamu yang mana!" ujarnya tepat dan mengenai sasaran.


"Itu temennya bos Chandra. Tadi kita ada acara. Makanya baru pulang. Soalnya makan-makan di restoran gitu. Kalo gak percaya, tanya aja sama Jeni," jawab Fradya berbohong.


"Nih, ada oleh-oleh buat bapak sama emak! Gak usah mikir macem-macem ke Fradya. Nanti, pikirannya jadi kenyataan mau emang?" setelah mengatakan kekesalan di hatinya, Fradya pun menyerahkan kotak makanan yang tadi Faruq beli untuk kedua orang tuanya. Kemudian, ia melewati kedua orang tuanya begitu saja dan pergi berlalu menuju kamarnya.


"Eh, Dya! Ku cuci kaki ma tangan dulu gih ke kamar mandi. Jangan langsung tidur!" teriak emak. Membuat putrinya itu keluar lagi dengan handuk yang tersampir di bahunya. Sementara kerudungnya telah dibuka, hingga rambut panjangnya berwarna hitam legam terlihat di gerai lepas. Kemudian, Fradya mengambil kunciran di laci bufet. Ia pun menggelung rambutnya itu asal. Dya meninggalkan tatapan emak dengan wajah cemberut ke belakang.

__ADS_1


"Udah, lu ma anak kayak musuh tau gak! Mending kita makan nih martabak spesial. Pasti mahal dan enak!" cerocos sang bapak. Pria yang hanya mengenakan singlet dan kain sarung ini makan dengan lahap.


"Bapak mah, gampang di sogok. Ama makanan aja langsung diem. Tar kalo anak gadis kita bunting baru deh kelabakan!" omel wanita yang mengenakan daster kelelawar itu. Hingga jendelanya kelihatan ketika ia mengangkat lengannya yang bergelambir.


Di kediaman Hawa.


Faruq baru saja memasukkan kendaraan roda empatnya ke dalam garasi. Sang penjaga rumah yang berkumis tebal hanya menggeleng pelan ketika suami majikannya itu berlalu kedalam rumah. Karena dirinya tau jika sang nyonya sedang tidak sehat.


"Tumben pak bos baru pulang. Katanya Ibu lagi hamil lagi, kenapa pak bos malah keluar?" tanya kawan dari sekuriti tersebut yang berkepala pelontos. Hingga ia dipanggil pak Ogah.


"Husst, diem Luh! Gak usah ikut campur! Tar di pecat nyaho!" kecam Pak Kumis pada teman kerjanya itu.


" Ada juga nanti yang di pecat tuh pak bos. Kan yang kaya Ibu!" seloroh pak Ogah. Hingga pak Kumis, menjejalkan pisang kukus yang baru diantar pelayan sebagai teman bergadang mereka kedalam mulutnya.


"Julid banget punya mulut! Nih mending makan tuh pisang!"


"Pisang sih pisang, Bro! Tapi gak pake kulitnya juga kalik!"


Di lantai atas. Hawa yang sudah tau suaminya pulang. Kembali menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya itu. Ia sengaja membuka pintu kamar dan tetap menyalakan lampu.


Hingga Faruq yang sampai di depan pintu kamar Mereka berdiri terpaku.


"Kamu ngapain?" Faruq bertanya dengan alis menukik sambil melewati Hawa begitu saja. Namun, kedua matanya terus melirik penampilan Hawa dari atas hingga bawah.


"Kamu kan lagi hamil muda. Jangan sok godain aku!" seru Faruq yang tau-tau sudah menyergap Hawa hingga istrinya itu jatuh terlentang di atas kasur dengan ia yang mengungkung di atasnya.


"Kau tau aku hamil. Lalu kenapa kasar sih, Bang? Alh, perutku!"

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2