
"Kalian masuklah. Sekolah yang rajin. Supaya jadi orang sukses kagak bunda sama ayah. Kalo perlu melebihi kesuksesan kami," pesan Faruq kepada kedua putrinya. Rania dan Tania pun mencium punggung tangan ayah mereka. Lalu Faruq seperti biasa, melabuhkan kecupan di ujung kepala kedua putrinya itu.
"Yah, kata bunda. Kami di sekolahkan di tempat ini agar mengerti agama lebih baik. Bahkan dari ayah bunda dan juga kakek. Bunda, juga bilang kalau--" Ucapan Rania pun terpotong oleh perkataan ayah mereka setelahnya.
"Sudah, Ayah juga paham. Tadi juga maksud ayah seperti itu. Cuma mau menyemangati saja. Ingat dunia itu juga penting. Karena kalau kau kalah ketika di dunia, maka kau akan kesulitan dalam meraih akhirat," tambah Faruq kemudian.
Dia memang sayang kepada kedua putrinya ini, namun ia terkadang tidak sejalan dengan pemikiran dari Hawa . Karena, istrinya itu seperti orang yang munafik. Katanya dunia tidak penting tapi buktinya dia sangat sibuk dan semakin sibuk saja. Bahkan, karirnya sudah berada di atas puncak pada saat ini.
"Aku nggak boleh kalah dan lembek di hadapan Hawa. Aku harus menunjukkan padanya bahwa posisiku sebagai iman dalam keluarga, bagaimanapun juga lebih tinggi ketimbang posisinya. Walaupun, jabatanku lebih rendah dengan gaji yang lebih kecil. Hawa, tidak boleh memperlakukanku seenaknya. Meskipun, sejak pernikahan kami, dia tidak pernah sekalipun menuntut nafkah dariku. Hawa, dengan kodratnya harus tetap menunduk padaku," batin Faruq dengan segala pikiran buruk mengenai, Hawa.
Hingga beberapa hari kemudian Faruq kembali meminta haknya pada Hawa. Tentu saja hal itu membuat Hawa senang dan tenang. Ia segera menyiapkan segala sesuatunya. Mengesampingkan rasa mual yang berkibar muntah hingga Hawa harus mengeluarkan cairan kuning dari lambungnya.
Ia bela, berendam dalam cairan susu yang aromanya membuat tubuh sangat wangi. Meskipun setelah itu Hawa akan muntah sampai lemas. Karena ia tak kuat mencium aroma tubuhnya sendiri yang terlalu wangi. Tapi, mau bagiamana lagi, ini adakah aroma kesukaan suaminya. Hawa, akan berjuang dan berkorban demi surga. Begitulah pikirnya. Hawa yang selalu mencoba dan berusaha untuk menjadi istri yang shalihah. Mendapat ridho dari suaminya.
"Nah gini dong. Kan enak wangi. Kamu kan tau, aku tuh selalu suka perempuan yang wangi. Apalagi, aroma yang membangkitkan gairah seperti ini. Ingat Hawa. Istri itu adakah perhiasan bagi suami mereka. Karena itu dirinya wajib berhias dan mempercantik diri di depan suaminya bukan ketika kondangan atau arisan," tutur Faruq yang di jawab oleh Hawa melalui anggukan kepala.
Faruq tidak tau, jika istrinya ini sedang menahan gejolak dalam perutnya. Karena, aroma wangi yang semerbak dan berasal dari tubuhnya sendiri itu, membuat sensasi mual itu menguasai keadaan tubuh Hawa.
"Kamu kenapa sih. Daritadi aku ngomong malah diam aja?" Faruq yang mulai merasa tak nyaman karena, Hawa seakan tidak merespon rangsangan yang ia berikan.
Tak menjawab Hawa justru berjalan dengan cepat ke kamar mandi. Seketika itu juga, terdengar suara muntah selama beberapa saat. Bukannya kasihan, justru Faruq mengedarkan kedua gerahamnya hingga bunyi bergemeletak. Ia bahkan mencengkeram sisi tempat tidur. Karena, lagi-lagi acaranya harus berantakan karena Hawa yang masih saja mengalami mual dan muntah. Padahal, usia kandungannya sudah memasuki perkiraan lahiran.
Faruq tak tahu dan tak mengerti, karena memang pria ini tidak pernah mau mencari tahu apa saja yang bisa terjadi terhadap wanita yang sedang hamil. Padahal Hawa sengaja membeli beberapa buku tentang parenting dan kehamilan agar Faruq dapat mempelajarinya. Karena Hawa tidak mungkin mengatakan secara langsung. Sebab ia tahu bagaimana sikap Faruq yang tidak suka diceramahi oleh orang lain.
__ADS_1
Faruq paling anti jika ada orang yang merasa lebih pintar dan lebih tinggi ketimbang dirinya. Meskipun semua itu sesuai dengan kenyataan. Bahkan sejak awal sudah jelas bahwa Hawa memiliki latar belakang pendidikan yang lebih tinggi ketimbang dirinya.
Hawa juga memiliki jabatan yang lebih tinggi dan menjamin ketimbang dirinya. Faruq selalu merasa hanya menjadi bayang-bayang dari istrinya itu. Yang sebenarnya ia inginkan adalah, menggantikan posisi Hawa dan membiarkan istrinya itu diam di rumah menjadi ibu rumah tangga biasa.
Namun, apa yang Faruq inginkan tidak semudah ucapannya. Jabatan serta kedudukan yang haw memiliki saat ini semua sudah sesuai dengan kredibilitas dan kemampuan yang Hawa miliki. Sementara, Faruk tidak menyadari bahwa kedudukannya saat ini, di mana Dirinya berada di posisi sebagai ketua divisi sudah melalui campur tangan dari Samudera, yang tak lain adalah Mertuanya.
Faruq tidak pernah berkaca bahwa apa yang ia miliki pada saat ini berkat siapa.
"Sial! Ketika sudah di ujung harus gagal lagi. Kau memang menguji kesabaranku, Hawa!" Faruq yang tak lagi tahan dalam menahan emosinya kini berteriak di depan pintu kamar mandi.
Hawa pun keluar dengan wajah pucat pasi. Bahkan ya berjalan seraya berpegangan pada dinding. Bagian bawah perutnya juga sakit, hingga satu tangannya berada di bagian itu.
"Maaf, Bang. Kalau saja, Hawa tidak mengenakan minyak wangi mungkin hal ini tidak akan terjadi," ucap Hawa tetap lembut dan sopan. Meskipun tadi suaminya itu berteriak padanya.
Hawa yang merasakan lemas sekujur tubuhnya tidak mampu menjawab dengan cepat apa yang telah suaminya sangkakan padanya. Hawa justru terlihat memegang kepalanya yang pusing. Berharap, Faruq menggendongnya hingga ke tempat tidur. Karena untuk berjalan itu rasanya sangat sulit.
Namun, melihat kemarahan di raut wajah suaminya. Hawa menguatkan dirinya untuk dapat menjelaskan. "Mana mungkin jika semua keadaan ini sengaja ku buat-buat. apa yang terjadi padaku saat ini itu sungguh sangat wajar dialami oleh wanita hamil manapun. Semua ini akan kembali normal seperti semula setelah aku melahirkan Bang. Jadi, Aku sama sekali tidak ada niat untuk menyiksa Abang. Demi Allah, Bang," jelas Hawa, bahkan ia menyebut nama Tuhan-nya agar Faruq percaya.
Namun, apa yang ia katakan barusan justru semakin memicu kemarahan dari Faruq.
"Jangan bawa-bawa nama Tuhan! jangan kau merasa lebih pintar dariku lalu kau berusaha untuk membodohi suamimu sendiri!" teriak Faruq di depan wajah Hawa. Pria itu hanya dapat menelan ludahnya ketika pakaian tidur yang Hawa kenakan menampilkan lekuk tubuhnya. Tapi, mengingat bahwa Hawa baru saja muntah, hal itu tentu saja menghilangkan gairahnya.
"Kau itu semakin tidak berguna sebagai seorang istri! Percuma saja jabatanmu tinggi! Kau memang berguna bagi orang banyak, tapi tidak untukku!" Sebelum keluar dari kamar itu, Faruq mengucapkan kalimat yang sangat melukai hati istrinya. Akan tetapi ia tidak tahu bahkan seakan tidak peduli.
__ADS_1
Karena dirinya merasa berada di posisi yang tersakiti pada saat ini.
Faruq menutup pintu dengan kasar, hingga Samudera sang ayah mertua yang kebetulan berada di depan kamarnya menoleh serta menghampiri.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau berteriak kepada Hawa?" cecar Samudera seraya menelisik ke arah menantunya ini.
"Ini urusan rumah tanggaku, Papa tidak perlu tahu!" ketus Faruq.
"Kau!"
"Papa tau hukumnya kan? Aku juga tau!" Faruq pun berlalu meninggalkan Samudera.
"Dia benar, aku tidak boleh ikut campur."
Samudera pun masuk kedalam kamarnya dengan sesekali melirik ke arah kamar, Hawa.
"Apapun masalah kalian semoga semua selesai sebelum pagi," doa Samudera, sebelum ia masuk dan menutup pintu kamarnya.
Faruq menyalakan mobil dan melaju meninggalkan rumah mewah itu. Bermaksud mencari pelampiasan entah apa itu.
Dia terlihat menelpon di balik kemudi. "Halo, Dy. Aku mau ketemu sama kamu. Mas butuh kamu, please!"
...Bersambung ...
__ADS_1