Godaan Daun Muda

Godaan Daun Muda
Bab. 27. Luka Yang Di Torehkan Untuk Dua Hati.


__ADS_3

"Jadi anda ingin membuat gugatan kepada istri anda?" Seorang pria paruh baya berpakaian rapi parlente yang duduk di seberang meja menetap Faruq dengan seksama.


Pria yang akan menjadi kliennya ini pun menjawab dengan lugas terhadap pertanyaannya barusan. "Itu benar. Dan, saya ingin semua berjalan cepat. Berapapun biayanya ... itu tidak masalah."


Ya, Faruq mendatangi gedung advokat. Ia membutuhkan seorang pengacara untuk dapat memuluskan rencananya. Karena ia merasa hanya membuang waktu jika masih ingin mempertahankan rumah tangganya dengan Hawa. Sementara, istrinya itu sudah mulai membangkang dan tidak menjadi penurut lagi.


Dirinya merasa seakan tidak memiliki istri, ketika lagi-lagi hasratnya harus ditahan dan tertunda. Padahal yang ia tahu istrinya itu melakukan proses melahirkan dengan cara operasi yang memakan dia sangat mahal. Bahkan pemulihannya yang cepat juga memakan biaya yang tidak sedikit. Akan tetapi Hawa menggunakan masa setelah pulih itu untuk segera kembali bekerja.


Faruq merasa bahwa istrinya tidak pernah lagi memikirkan kebutuhannya. Dia seorang suami bukan patung. Hawa tidak bisa seenak itu terhadap dirinya. Apalagi, ketika di rumah istri itu akan menyimpulkan diri dengan bayi yang baru dilahirkannya. Padahal semua juga tahu jika pelayan di kediaman Hawa itu sangatlah banyak. Satu yang Faruq inginkan adalah, ketika di rumah Hawa mendedikasikan waktu serta dirinya untuk sang suami saja.


Terdengar egois memang. Tapi hal itu baginya adalah hak mutlak. Ia sejatinya adalah seorang pemimpin di rumah itu. Akan tetapi ia merasa tidak seperti itu selama dua belas tahun belakangan ini. Hanya, pendapat Samudera sang bertuah serta Hawa istrinya, yang akan dilaksanakan di rumah itu.

__ADS_1


Semua diatur, tanpa ada hak darinya ikut campur. Faruq, tidak menyadari satu hal. Bahwa Apa yang dilakukan oleh Samudera dan juga Hawa, notabene semua itu demi kebaikan putra-putrinya juga.


Hawa, tidak ingin jika anak-anaknya itu lebih dekat kepada pelayan serta pengasuh mereka. Karena sebagai seorang ibu Hawa merasa tidak mampu memberikan waktu full time. Karena itu jika dia sudah berada di rumah maka seluruh waktunya jadi dikasihkan untuk anak dan juga suaminya. Hanya saja Faruq menginginkan lebih dari itu. Ia selalu merasa kurang dan kurang terhadap apa yang telah Hawa berikan.


Faruq silakan menolak rasa syukur karena telah diberikan sosok seorang istri yang begitu baik budinya. Hawa bahkan rela tidak diberi nafkah, agar suaminya itu memiliki tabungan yang sewaktu-waktu bisa digunakan untuk mensejahterakan keluarganya. Apalagi, Hawa tahu jika adik-adiknya masih bisa melanjutkan sekolah. Ibunya yang sudah tua juga sering sakit-sakitan. Belum lagi beberapa keponakan, yang memang tergolong dari keluarga tidak mampu.


Maksud Hawa dia ingin agar sosok suaminya itu tidak lagi dipandang sebelah mata, di antara keluarganya yang lain. Apalagi, Faruq memiliki saudara dari ayahnya yang terbilang orang berada. Tapi, sayang maksud dari Hawa tidak diterima dengan baik oleh Faruq. Karena surat itu sibuk memikirkan perasaannya sendiri.


"Gak asuh anak biar dengan ibunya. Tapi, saya ingin menuntut harta gono gini agar sesuai karena kami sudah menikah selama belasan tahun," ungkap Faruq cahaya menarik berkas tersebut kemudian menuliskan apa yang ada di dalam kepalanya. Sekilas terlihat dia tersenyum sinis.


Mendingan aku lamar Fradya. Gadis itu pasti dapat menuruti semua kemauanku. Aku yakin keluarganya pasti akan menerima. Mereka tidak akan pernah menolak permintaan, dari seorang penolong bukan?

__ADS_1


Faruq semakin menarik sudut bibirnya ke atas, hingga garis itu seakan hampir menyentuh telinganya. Angan-angannya sungguh indah. Tanpa memikirkan Bagaimana nasib putra-putrinya tanpa kehadiran sosok seorang ayah.


Ternyata benar, the power of money itu terbukti. Bahwa kekuatan uang memang dapat membuat segalanya menjadi lebih mudah. Meskipun, telah menurut surat gugatan cerai akan tetapi Faruq tetap pulang ke kediaman Hawa. Ia pun tetap bertingkah laku sewajarnya. Karena itu Samudera begitu tak habis pikir, ketika putrinya menunjukkan surat gugatan cerai yang diantarkan oleh kurir dari kantor pos.


"Apa-apaan ini? Mana pria tidak tau diri itu! Seharusnya dia bisa bicara baik-baik denganku. Bukan memulangkanmu dengan cara seperti ini!" Samudera sangat marah hingga kedua tangannya mengepal kencang di atas meja makan.


"Pa. Kendalikan emosimu. Biar saja Abang melakukan apapun yang diinginkan. Hawa, juga tidak sanggup jika meneruskan rumah tangga dengan laki-laki yang sudah tidak menginginkanku lagi." Hawa berucap sangat lirih, ia berusaha sekuat tenaga menahan agar tidak menangis di depan pria yang merupakan orang tua satu-satunya.


Hawa tahu jika saat ini sang papa, adalah salah satu orang yang sangat terluka, selain dirinya.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2