Godaan Daun Muda

Godaan Daun Muda
Bab. 37. Hiburan Dari Pak Sopir.


__ADS_3

Burhan memutuskan untuk menceritakan kembali kisah Abu Nawas.


Seorang penyair Arab yang hidup di jaman kepemimpinan Raja Harun Al Rasyid di Baghdad.


"Wah, Kak. Pak Burhan kalo udah cerita pasti seru dan lucu," ucap Tania antusias. Rania setuju dan sangat senang sekali. Karena sang adik perlahan mulai melupakan kesedihannya.


"Ayo, Pak di mulai," ucap Rania.


"Baiklah. Simak baik-baik ya. Karena di setiap kisah lucu Abu Nawas pasti ada pesan moral yang bisa kita ambil," terang Pak Burhan.


"Jadi gini nih awalnya." Baru Burhan mau cerita, kedua nona kecilnya ini sudah cekikikan lebih dulu.


"Pada suatu sore ... ketika Abu Nawas ke warung teh, kawan-kawannya itu udah lebih dulu berada di sana. Ternyata mereka emang sengaja nungguin si pria cerdik ini datang. Sekilas mereka menyapa dan pada saat itu, Abu Nawas pun memesan minuman."


“Hei, Abu. Kita tau deh .. engkau paling bisa melepaskan diri dari perangkap, Raja Harun Al-Rasyid. Tapi nih ya, kami tuh yakin kali ini engkau pasti bakalan kena hukum." Pak Burhan terdengar menirukan suara beberapa orang.


“Apa yang harus kutakutkan. Tidak ada sesuatu apapun yang perlu ditakuti kecuali Allah! Kata Abu Nawas menentang kawannya."

__ADS_1


"Singkat cerita mereka semua memberi tantangan kepada abu Nawas untuk memantati Baginda raja Harun Ar-Rasyid. Akan tetapi abu Nawas mengatakan bahwa hal itu adalah suatu pelecehan besar terhadap raja. Jika, yang melakukannya maka akan terkena hukuman pancung."


"Namun, kawan-kawannya itu mengatakan lagi bahwa di sinilah sensasi menegangkannya. Mereka sangat ingin tahu, mampukah abu Nawas yang terkenal sangat cerdik mengerjakan tantangan itu. Kemudian abu Nawas bertanya kalau ia bisa melakukannya lalu hadiahnya apa? Para kawan yang jahil tersebut berjanji akan memberikan 100 keping emas kepada abu Nawas setelah berhasil melakukan tantangan tersebut."


"Bukan Abu Nawas dong, kalo enggak bisa menyelesaikan suatu masalah. Ia menyanggupi tawaran yang amat berbahaya itu dan kembali pulang ke rumahnya. Hingga, hari-hari yang di tunggu pun tiba. Terdapat acara di alun-alun kerajaan yang mengundang banyak para penceramah. Tausiah demi tausiah yang mengesankan mulai disampaikan oleh para ahli. Kemudian giliran Raja, menyampaikan pidatonya. Setelah itu sang baginda melihat Abu Nawas duduk sendirian ditempat yang tidak ada karpetnya. Karena merasa heran baginda pun bertanya, kenapa abu Nawas tidak duduk di karpet." Burhan berhenti sejenak untuk melihat sejauh mana kedua nona kecilnya ini mengerti.


"Lanjut lagi dong, Pak. Pake loading segala!" celetuk Tania.


Burhan pun tersenyum melihat betapa antusias, sang nona kecil mendengar cerita yang ia bawakan.


"Baginda bingung dong, mendengar pengakuan Abu Nawas. Karena baginda melihat sendiri Abu Nawas duduk di atas lantai. Akhirnya karena paksaan di raja maka abu Nawas pun maju mendekat dengan jalan beringsut menggunakan pantatnya."


"Nah, setelah di rasa cukup dekat dengan sang raja, abu Nawas pun berdiri, kemudian dia ?menungging. Dia langsung menunjukkan potongan karpet yang ditempelkan di bagian pantatnya." Burhan menghentikan ceritanya ketika dua nona mudanya ini tertawa terpingkal-pingkal, seperti Raja yang ada di dalam cerita.


"Kak, hebat ya si abu Nawas ini. Bisa nunjukin bokongnya ke raja. Sumpah, cerdik banget,"ucap Tania masih dengan sisa tawanya.


"Iya, idenya bagus dengan menempelkan karpet dalam ukuran kecil. Jadi, beliau tidak bohong," tutur Rania.

__ADS_1


Burhan senang kedua bocah perempuan di hadapannya ini paham akan apa yang ia sampaikan. Satu hal yang terpenting adalah, perasaan keduanya sudah membaik terlihat dari wajah mereka yang berseri-seri kembali. Memang, anak kecil itu lebih mudah sembuh jika terluka. Mereka mudah melupakan apa yang terjadi dalam hidupnya.


Senangnya jadi anak kecil.


Mudah marah mudah lupa.


Mudah sedih mudah kembali tertawa.


Karena, hati mereka masih bersih.


Masih berwarna merah muda.


Tidak kehitaman seperti orang-orang dewasa.


Sehingga, mereka mudah menaruh dendam. Mengingat-ingat kejahatan orang lain dan melupakan kebaikan yang orang lain berikan.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2