Godaan Daun Muda

Godaan Daun Muda
Bab 7. Penjual Pulsa Yang Menggoda.


__ADS_3

"Emh, saya mau isi pulsa. Tiga ratus ribu ya," ucap Faruq ramah. Pandangannya tak beralih sedikit pun dari gadis di hadapannya ini.


"Silakan isi nomer ponselnya ya, Pak," ucap gadis itu pun sopan. Senyum tak lepas dari wajahnya yang begitu segar dan muda. Hidung yang mancung kecil serta bibir yang merah alami. Ah, jantung Faruq bertalu-talu macam bedug masjid.


"Oh, tulis di sini ya?"


"Iya, Pak. Hati-hati jangan sampai salah. Nanti nyampenya ke nomer orang lain," tegur gadis cantik tersebut.


"Jangan panggil, Pak dong. Nama saya, Faruq. Panggil aja bang atau mas juga boleh," ucap Faruq penuh percaya diri. Ia membenarkan kaca mata yang bertengger di atas hidungnya yang juga mancung itu.


"Nama kamu siapa? Udah lama kerja di sini?" cecar Faruq.


"Nama saya, Fradya, Mas. Baru beberapa bulan sih. Soalnya baru lulus juga," jawab gadia itu seraya membenarkan ujung kerudungnya yang menjuntai kedepan. Membuat seketika kedua mata Faruq memandang dia tonjolan yang tercetak di balik kemeja Fradya.


Haih, pasti masih kenceng banget itu. Baru mekar. Sialan. Gue malah jadi bayangin gimana **********. 


Faruq mencoba mengusir isi pikiran kotornya dengan berdehem dan melihat ke sekeliling isi konter tersebut.


Tanpa Faruq sadari, ternyata gadis muda di hadapannya ini yang sedang mengetik angka pada ponselnya tenaga terpana juga. Akan apa yang ia lihat di hadapannya.

__ADS_1


Mimpi apa ya aku semalam. Ketemu sugar Daddy ganteng kayak gini. Hihii --


Gadis penjaga konter yang masih muda belia itu, menyembunyikan senyum simpulnya. Ia sejak tadi sebenarnya juga terpukau dengan tatapan Faruq yang intens ke arah dirinya. Saking, gugupnya, Fradya berkali-kali membenarkan letak ujung kerudungnya.


"Udah terkirim ya, Mas. Semuanya jadi tiga ratus tiga ribu," ucap Fradya seraya menyerahkan struk pada pelanggannya ini.


"Ini uangnya ada empat lembar. Sisanya buat kamu aja," ucap Faruq. Membuat, kedua mata Fradya yang besar dan lentik membola.


"Ha, yang bener nih, Mas? Ini kan banyak banget loh?" cecar Fradya. Ia tak yakin pria di hadapannya ini tak ambil kembalian yang cukup banyak jumlahnya. Memang sih punya mobil, tapi kan gak gini juga. Begitu fikir Fradya. Ia merasa aneh.


"Beneran buat kamu aja. Buat nanti siang makan cilok atau baso Aci kek. Terserah kamu lah." Faruq menaikkan kacamatanya seraya menatap penuh arti pada Fradya. Lupa sudah jika waktu semakin maju.


"Ya salam. Ketawanya gemesin banget sih. Boleh dibawa pulang gak?" goda Faruq. Pria ini benar-benar lupa sudah akan tanggung jawabnya sebagai kepala divisi. Ia malah menggoda gadis di bawah umur yang seumuran dengan adik bungsunya itu.


"Mas-nya bisa aja. Gak boleh di bawa pulang ih, nanti bapak saya marah, Mas," jawab Fradya, dengan senyum simpulnya.


'Aduh ni cewek. Anaknya siapa sih. Kok bisa punya anak yang bikin orang gregetan. Mana senyum mulu lagi daritadi. Fradya ... nama yang cantik secantik orangnya. '


Faruq tak henti memuji keindahan Fradya dalam hatinya. Rasanya berat sekali sepasang kaki kekar nan panjang miliknya untuk pergi dari tempat itu. Satu pelayan lain hanya sesekali melirik ke arah mereka berdua. Karena Faruq dan Fradya saling melempar tawa.

__ADS_1


Tak lama kemudian, nampak turun dari lantai atas. Seorang pria yang berpenampilan semi formal. Ia terdengar memberi perintah pada Fradya.


"Dy, pesanan saya go-car ya. Soalnya mobil saya masuk bengkel lagi hari ini," ucap pria itu sambil membenarkan kancing jasnya.


Pada saat itulah, Faruq nampak menoleh ke asal suara dan ia berteriak memanggil.


"Candra!" Panggil Faruq. Membuat sang empunya nama menoleh kaget. Karena tak ada yang tau nama aslinya. Para pegawai hanya memanggilnya Koh A lung.


"Faruq Albani! Ini elu, Bro!" kaget Candra. Pria bermata sipit ini menelisik penampilan kawan sewaktu kuliahnya ini secara detil.


"Iya, ini gue.  Siapa lagi," jawab Faruq, seraya membenarkan letak dasinya.


"Wah, sukses lu orang sekarang ya!" Candra membuka pintu dan keluar. Lalu memberi jabat tangan ala anak muda. Cara mereka ketika masih di bangku kuliah dulu.


"Masih inget aja lu ama gaya salam kita," kekeh Faruq.


"Inget dong! Gila ya lu orang keren sekarang. Itu mobil lu Bro?" cecar Candra. Dia yang tau bagaimana keadaan Faruq kala itu nampak tak habis pikir. Ia pun berdecak dan menggelengkan kepalanya. Apalagi, kendaraan milik Faruq lebih bagus dan mewah ketimbang miliknya.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2