Godaan Daun Muda

Godaan Daun Muda
Bab. 13. Kucing Garong.


__ADS_3

Hawa memegangi bawah perutnya. Sementara, suaminya terus menciumi ceruk lehernya. Dia telah terlanjur terbakar oleh gelora napsunya kala melihat pemandangan indah yang Hawa hamparkan padanya. Di dukung cuaca yang gerimis di luar serta udara dingin di dalam kamar.


Faruq seakan tuli dan tak mendengar rintihan serta keluhan yang keluar dari bibir istrinya ini. Ia tetap menjamah raga indah di bawah kungkungan raganya.


"Bang, perutku sakit," rintih Hawa lirih. Namun, Faruq seakan tak peduli. Suaminya itu terus menikmati inchi demi inchi bagian tubuhnya yang telah terbuka. Hingg, mau tak mau Hawa pasrah dan menarik selimut tebal untuk menutupi raga polos keduanya. Bukankah, dia yang telah bernai menggoda suaminya di saat lemah begini.


"Jangan memintaku berhenti. Kau yang sudah menggodaku kan? Aku akan bermain pelan, dan sekali saja. Aku janji Hawa," ucap Faruq, ia telah berlutut di antara kedua kaki istrinya itu. Menatap dengan pandangan berkabut apa yang terpampang nyata dan indah di hadapannya. Hingga, Faruq menikmati itu semua tanpa henti. Terlupa sudah dengan janjinya barusan yang katanya akan perlahan dan sekali saja.


Jika, Hawa tidak mendorong tubuhnya kasar, mungkin Faruq akan menggagahinya hingga fajar menyingsing. Sungguh gelora dari birahi suaminya itu sangatlah tinggi. Semakin lama, Hawa keteteran. Apalagi, ada keadaan janin di dalam kandungannya yang harus ia pikirkan.


Hawa, menutup tubuh telanjangnya dengan selimut. Ia melangkah pelan ke kamar mandi. Perbuatan Faruq meninggalkan bekas ngilu di **** *************. Selalu saja begitu jika mereka selesai bercinta. Suaminya itu selalu saja kasar. Tapi, Faruq selalu beralasan jika semua itu lantaran dirinya terlalu menggairahkan. Hawa pun terima saja. Bukankah bagus jika sang suami selalu berhasrat padanya. Sehingga, ia tak membutuhkan wanita lain untuk memuaskan napsunya itu. Pikir Hawa.


Hawa bersyukur, tidak ada yang terjadi pada kandungannya. Meskipun, Faruq menghantamnya tanpa ampun. Hanya saja Hawa menjadi agak kesulitan berjalan. Karena selangkangannya yang sakit. Ia kembali merebahkan diri di samping tubuh suaminya itu. Menggoyang tubuh Faruq, untuk membangunkannya.


"Bang. Bangun! Bersihkan tubuh dulu, wudhu!" ucap Hawa sedikit keras sambil menggoyang bahu suaminya itu.


"Diam ah! Aku ngantuk!" Hardik Faruq menepis tangan Hawa dan kembali menaikkan selimutnya hingga menutupi kepala. Ia berbalik melawan arah dan membelakangi istrinya itu.


"Ya Allah, Bang. Padahal cuma sebentar, nanti bisa tidur lagi," ucap Hawa lirih. Ia memegangi telapak tangannya yang di tepis keras hingga terasa pedih. Di kulit dan juga di dalam hatinya. Faruq telah berubah. Tidak seperti di awal pernikahan mereka dulu. Sikapnya semakin semena-mena dan jauh dari adab ajaran agamanya. Namun, Hawa tidak boleh menyerah ia harus tetap mengingatkan suaminya itu. Untuk malam ini, Hawa memilih membiarkan saja.


Tubuhnya juga sudah sangat lelah. Ia tak ada tenaga lagi untuk menerima kemarahan suaminya nanti. Hawa mencoba memaklumi sikap serta segala perubahan sifat dari suaminya. Karena usia seperti Faruq sekarang memang rentan dan juga sensitif. Hawa harus paham dan memaklumi.

__ADS_1


Ia ingin menjaga rumah tangganya agar tetap utuh dan berdiri kokoh. Bukankah sudah tugas seorang istri untuk terus berusaha menerima dan memaklumi perangai dari suaminya. Bagaimanapun Hawa yang paling mengerti bagaimana keinginan dan apa yang di sukai dari seorang Faruq Albani.


"Aku akan menerima apapun dan bagaimana sikapmu padaku. Asal kau tetap menjaga kesucian cinta serta keutuhan rumah tangga kita. Karena ku tidak akan menerima penghianatan di dalamnya. Aku tidak akan menerima itu, Bang. Lakukanlah apapun yang kau mau hanya padaku." Hawa bergumam sebelum ia memejamkan kedua matanya untuk beristirahat malam itu. Masih ada beberapa jam lagi sebelum waktu solat tahajjud.


___________


Paginya, ketika ayam jago baru saja menyelesaikan kokokan terakhirnya. Sebuah teriakan dari wanita berdaster memekik kencang dari arah dapur.


"Dya, bantuin emak nyuci! Jangan main tik-tok aja pagi-pagi!" teriakannya nyaring membangunkan seisi rumah. Bahkan rumah tetangga sekalipun.


"Emak! Kebiasaan banget sih suka teriak-teriak. Malu tauk sama tetangga!" protes Fradya yang langsung masuk ke dapur sambil menguncir rambut panjangnya itu asal.


"Hey, Dya. Emak liat yang nganter kamu pulang semalam itu orang kaya. Mobilnya aja bagus. Orangnya juga baik sama kamu. Tuh, kalo cari gebetan yang kayak begitu. Biar derajat keluarga kita tuh naik! Jangan pacaran sama orang kere. Naik motor butut makan angin. Masih pacaran aja udah pait kayak pare, apalagi nanti kalo udah nikah. Bisa kayak empedu!" sindir sang emak sambil melirik ke arah suaminya yang sedang menuang air panas ke dalam cangkir. Pria itu membuat kopi sendiri karena ia belum memberi uang untuk belanja hari ini.


Bapak, Fradya hanya seorang sopir angkot. Dimana pada saat ini susah sekali dalam mencari penumpang. Jangankan untuk membeli uang belanja berlebih, bahkan ia terkadang nombok yang bensin.


"Teman bos Chandra itu sudah punya anak istri, Mak. Gila aja kali kalo, Dya gebet dia. Lagian, Irham kan juga lagi usaha. Dia kerja sambil kuliah. Makanya harus irit," ketusnya. Menjawab hasil analisa menyebalkan wanita yang kebetulan telah melahirkannya ini.


Kalau urusan paras tentu, Fradya akan memilih Irham. Selain masih muda juga tampan. Bahkan, Fradya selalu di elu-elukan kawannya ketika ia memposting kebersamaannya dengan pria itu. Berbeda dengan, Faruq yang sudah dewasa dan berkerut.


"Ya, gapapa. Kan laki-laki boleh beristri lebih dari satu!" dalih Kokom Komariah sebagai emak.

__ADS_1


"Kom! Elu kalo ngomong asal aja! Masa anak perawan bapak satu-satunya di jadiin bini kedua!" omel Pak Jamal yang merupakan bapak kandung Fradya ini.


Pusing mendengar perdebatan kedua orang tuanya. Fradya membanting pintu kamar manis. Ia berusaha menyelesaikan tugas mencuci dan mandi dengan cepat. Meskipun, ini hari liburnya bekerja. Fradya memutuskan untuk keluar dari rumah.


Setelah masuk kamar ia menghubungi Jeni. Karena jenuh mungkin ia akan meminjam motor matic milik Jeni untuk main kerumah kawannya. Dan ia mengatakan akan mengambilnya ke konter.


Kebetulan, Faruq memang sedang mampir menemui Chandra. Ia berniat untuk membahas soal penjualan ruko tiga lantai yang tempo hari mereka bicarakan. Karena, Faruq ada niat untuk membuka usaha ritel seperti Chandra. Tabungannya sudah banyak dan itu cukup membeli ruko yang cukup luas. Chanda mengajarkan agar menyewa saja dulu, sambil meraba lokasi. Jika, omset bagus baru beli.


"Loh, katanya kamu libur?"


"Iya, Mas. Tapi, Dya malas dirumah. Makanya ini mau makan dan minjem motor Jeni dulu. Biar gak Anik angkot desak-desakan, aku males," jawab Fradya malu-malu menunduk. Karena Faruq selalu menatapnya intens ketika berbicara.


"Duh, sayang banget ya." Faruq menghela napas membuat kening Fradya berkerut.


"Sayang, karena saya gak libur. Malah harus keluar kota nanti malam," sambung Faruq seakan mengerti kebingungan gadis manis muda belia dihadapannya ini yang membuat dirinya gemas setengah mati.


"Oh, gitu. Ya udah, hati-hati, Mas. Dya jalan dulu, permisi !" seru Fradya setelah ia menerima kunci kontak dari Jeni. Kawannya itu hanya menggeleng melihat tatapan Faruq pada Fradya.


Dasar kucing garong!


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2