
Apa pesan moral yang nona ambil dari kisah ini?" tanya Burhan. Hingga kedua anak kecil di hadapannya mengerutkan alis tanda berpikir.
"Ha, Tania tau!"
"Apa tuh, Non?"
"Bahwa kita harus pandai dalam menerka maksud dari orang-orang yang hendak menjatuhkan kita. Menunjukkan itu semua dengan pikiran yang cerdas. Setidaknya perbuatan cerdik yang menggunakan akal pikiran tidak akan merendahkan orang lain serta mencelakakan diri sendiri," kata Rania panjang kali lebar.
"Masyaallah! Nona Rania memang cerdas," puji Burhan jujur dan tulus. Bahkan ia berharap segala kebaikan yang terdapat pada diri Rania maupun Tania dapat menular pada kedua putrinya di rumah. Memang, sudah sangat sering kedua anak kecilnya ini memberi hadiah kepada putrinya. Hingga, anak-anak Burhan sangat mengidolakan kedua Putri majikannya itu.
"Yuk kita pulang. Batere-nya udah penuh lagi. Makasih banyak ya Pak. Anda emang debes!" puji Rania, seraya menunjukkan dua jempol tangannya. Begitu juga dengan Tania.
"Alhamdulillah! Yuk kita pulang!"
Burhan kembali menjalankan kendaraan mewah roda empat itu dengan kecepatan sedang. Mungkin Karena kelelahan hingga kedua anak kecilnya itu tertidur di kursi belakang.
__ADS_1
"Sebenarnya, tuan Faruq sangat beruntung memiliki dua malaikat kecil seperti Nona Rania dan juga Tania. Mereka adalah dua gadis yang sangat cerdas dan juga baik hati. Mereka memiliki pikiran yang dewasa hingga tidak mau pulang jika dalam keadaan gelisah dan sedih. Biasanya, anak kecil pasti akan buru-buru mengadu kepada Ibu mereka. Tapi, tidak dengan mereka," monolog Burhan, seraya berkali-kali mengucap syukur.
Sesampainya di rumah, kedua putri dari Hawa langsung berlari menghambur ke arah Bunda mereka.
"Assalamualaikum, Bunda!" seru keduanya serempak.
"Wa'alaikum salam! Kalian seneng banget. Pasti seru ya!" tanya Hawa antusias. Dia yakin jika acaranya pasti sangat mewah sehingga kedua putrinya betah dan baru pulang menjelang sore.
"Seru banget. Tapi kita capek mau mandi. Ceritanya nanti aja ya, Bun!" teriak Rania sambil berlalu menaiki anak tangga menuju kamarnya. Namun, pandangan Hawa beralih pada Tania.
Meski demikian, Hawa dapat melihat luka itu meskipun sekilas.
"Bagaimana pun, ayah akan selamanya menjadi ayah kalian. Jika nanti besar, kalian berdua akan sangat membutuhkan ridho dan juga restu, serta perwalian dari ayah. Karena kelak kalian berdua akan menikah. Terlepas dari segala kesalahan yang ayah perbuat pada kita semua, itu adalah sebuah tanda bahwa tidak ada manusia yang sempurna kecuali Rasulullah, Muhammad shallallahu alaihi wasallam," tutur Hawa memberi nasihat dengan ucapan yang lembut kepada Tania.
Hawa, menarik tubuh kecil putri keduanya dan mendekapnya erat.
__ADS_1
Apapun, yang telah kau lakukan terhadap kedua putri kita, dan satu putra kita, semoga Allah akan mengampuni semua dosa-dosamu itu.
Aku, sangat berharap kau segera sadar, Mas Sebelum ... kau menuai apa yang telah kau tanam.
Hawa, sama sekali tidak menyimpan dendam dan juga tidak mengajarkan hal itu kepada ketiga anaknya kelak. Bagaimana pun pria itu pernah menjadi raja di singgasana hatinya. Pernah menjadi imam yang memimpin rumah tangga, juga menanggung semua dosa-dosanya.
Hawa, berjanji dan berniat dalam hatinya bahwa ia akan membesarkan ketiga anaknya dengan hati yang ikhlas agar ia dan mereka bahagia. Semua kebesaran hati ini tak luput atas didikan sang papa. Siapa lagi kalau bukan seorang mualaf, yang berasal dari Tionghoa bernama Samudera.
Pria itu yang, membuat dirinya memiliki mental yang kuat dalam menjalani dan menerima setiap masalah dalam kehidupan rumah tangganya. Hawa, berharap kedua putrinya nanti tidak salah dalam memilih imam keluarga.
"Aku ikhlas, Mas. Aku ridho. Semoga, Allah segera memberi hidayah padamu. Sebelum waktu itu tiba," gumam Hawa. Seraya tersenyum menikmati semilir angin di atas balkon rumahnya.
"Aku tidak akan menikah lagi. Aku hanya ingin membesarkan ketiga anak-anakku."
...SELESAI...
__ADS_1