
Faruq mengabaikan kemarahan dari bapak mertuanya itu. Ia memilih mengikuti perawat yang mengajaknya masuk kedalam ruangan observasi bayi.
Melihat sosok bayi mungil yang tengah di bedong itu, lantas hatinya menghangat. Ia sungguh senang karena akhirnya kembali memiliki buah hati yang menakjubkan. Sekelebat perasaan bersalah atas perlakuannya selama ini terhadap Hawa pun menghantui perasaannya.
Namun, sekali lagi sisi egois dalam dirinya, menguasai pikiran sehat Faruq. Semua karena Hawa yang terlalu sibuk dan mementingkan kebutuhan orang lain ketimbang dia suaminya sendiri. Hingga, Hawa tak sempat merawat tubuhnya. Kurang waktu memperhatikan dan memenuhi kebutuhan biologisnya.
"Silakan Pak. Bayinya di azani," ucap perawat perempuan tersebut. Menyadarkan Faruq dari lamunannya. Perawat berseragam serba putih itu terlihat masih muda dan berkerudung ala kadarnya. Sepertinya dia masih magang. Posturnya mungil, sehingga Faruq teringat akan sosok Fradya.
"Ini, Pak. Anaknya cakep," ucap sang perawat. Seraya menyerahkan bayi mungil itu ke tangan sang papa.
"Makasih, Sus." Faruq pun menerima bayi mungil yang terbungkus selimut berwarna grey itu dengan hati-hati. Dirinya sudah terbiasa dengan dua anak yang sebelumnya. Sehingga sudah tidak kaki lagi ketika menggendong bayi baru lahir. Faruq mendekapnya dan bertanya. " Anak saya cewek apa cowok ya, Sus?"
"Laki-laki, Pak. Berat badan 3800 gram, tinggi badan 52 centimeter. " Perawat tersebut menjawab dengan singkat.
"Ini, data-datanya." Ia pun menyerahkan selembar kertas berisikan biodata dari bayi tersebut. Termasuk ada jejak kaki di sana. Setelah itu, Faruq bersiap melantunkan azan untuk bayinya.
__ADS_1
Haihh, keadaanku kan sedang junub. Bagaimana ini? Sementara aku harus azan ke telinga bayi laki-lakiku.
Faruq terlihat ragu, karena tau bahwa dirinya saat ini tengah tidak suci. Justru lebih tepatnya penuh kotoran, bukan hanya fisik tapi juga hati dan pikirannya. Namun, bukan Faruq namanya kalau tidak melawan aturan.
Ia tetap melakukan yang seharusnya dilakukan seorang ayah pada bayinya yang baru lahir. Setelah selesai, perawat mengambil kembali baginya dan membawa ke ruangan khusus. Faruq menanyakan keadaan istrinya. Namun perawat mengatakan jika Hawa masih menjalani proses selanjutnya.
Beberapa jam kemudian, Hawa telah pindah rumah observasi. Samudera telah menyediakan pelayanan yang terbaik bagi putri dan juga cucu ketiganya ini. Karena ia tau, jika Faruq tidak memikirkan itu semua. Menantunya itu terlanjur mengandalkan dirinya.
Faruq masuk paling akhir setelah, Samudera. Karena ia di tugaskan oleh mertuanya itu untuk menunggui Hawa di rumah sakit. Perihal baju ganti, pelayan yang nanti akan mengantarkannya. Mau tak mau, Faruq harus menurut. Meskipun hatinya merasa berat. Karena dengan begini dia takkan bebas menelepon Fradya.
"Seluruh tubuhku sakit, Bang. Juga hatiku. Kau kemana saja tadi? Kenapa, membiarkan aku berjuang sendirian?" cecar Hawa pada suaminya. Tatapan matanya yang sendu membuat Faruq merasa bersalah.
"Maaf. Aku tidak tau kalau kamu mau melahirkan. Aku juga pergi gak bawa power bank. Ponselku low setelah di buat main game. Jadi, sengaja aku. biarkan saja dia mati. Mana ku tau kalau kau melahirkan. Setelah sampai rumah aku langsung kesini. Ternyata, bayi kita sudah lahir," jelas Faruq, dengan suara yang sedikit di lembutkan.
"Aku juga sudah melihatnya. Bayi kita laki-laki, dan dia sangat tampan," ucap Hawa dengan air mata yang jatuh berderai. Faruq lantas mengambil tissue dan mengusap pipi Hawa.
__ADS_1
"Jangan sedih. Penting dia sudah lahir dan kalian selamat. Kedepannya ku harap kita tidak akan bertengkar lagi masalah hak dan kewajiban. Kau bisa mengurus diri lagi untuk menyenangkanku," ucap Faruq santai. Namun, membuat kening Hawa berkerut.
"Bang. Aku baru saja melahirkan. Bahkan pengaruh bius belum juga hilang. Bisa-bisanya, Abang membahas masalah itu lagi," protes Hawa dengan suara lemah. Ia pikir suaminya akan meminta maaf karena telah menyakiti hati serta pisiknya beberapa saat yang lalu. Tapi kenyataannya, Faruq kembali membahas bentuk tubuhnya.
"Lah, memang apa salahnya? Setidaknya aku malah memberikan kesempatan kepadamu untuk dapat berbakti kembali kepadaku. Menyenangkan suami adalah tugas utamamu sebagai istri. Untuk apa kau bekerja sekeras itu, Hawa. Jika ujungnya kau tidak berguna untuk ku!" ujar Faruq tegas.
Sekali lagi, hati Hawa tersentak.
Sungguh tega, pria ini berkata demikian padanya yang baru saja melahirkan. Apa tidak bisa berkata yang baik dan penuh perhatian. Hati, Hawa sungguh pedih, bak teriris.
"Aku mengerti, Bang. Semua yang aku lakukan untuk keluargaku dan juga sesama. Karena aku ingin ilmu yang kumiliki ini bukan hanya berguna bagi diriku sendiri tapi juga orang banyak. Aku minta maaf, jika kehamilanku kali ini membuatmu tidak nyaman. Itu, di luar kuasaku, Bang," tutur Hawa dengan segenap tenaga yang ia paksakan. Tak ada kecupan atau sekedar pelukan untuk menguatkan batinnya, maupun menghilangkan ketakutannya beberapa saat tadi. Yang ada justru kalimat demi kalimat protes dan permintaan dari suaminya.
"Aku kurang ngerti gimana? Kau tau kan jika libidoku tinggi. Sementara kau tidak mampu menaklukkannya. Kau seharusnya bersyukur aku tidak berzina," tukas Faruq.
"Astagfirullah, Bang. Bisa tidak bahas yang lain dulu. Aku ... akh!"
__ADS_1
...Bersambung...