
"Gak mau!" pekik Tania. Gadis kecil ini benar-benar mencari perhatian ayahnya. Ia merasa teramat kesal karena sudah dilupakan sejak pagi tadi. Sang Ayah benar-benar lupa akan keberadaan dirinya dan sang kakak.
Sontak, Faruq menempelkan telapak tangannya ke mulut mungil Tania untuk membekap agar suaranya yang nyaring itu tidak terdengar oleh para tamu. Karena, Faruq sebenarnya sudah malu pada kedua mertuanya dan juga saudara-saudara dari istrinya itu.
Mereka, yang notabenenya adalah orang kaya dan berkelas, ternyata tidak memiliki attitude yang baik. Karena, anak sekecil itu berani meneriaki ayahnya sendiri. Beberapa pandang mata yang menilai, tidak tahu apa yang terjadi di belakang itu semua. Jika saja, sejak awal Faruq menempatkan putri-putrinya itu dengan layak, mungkin Tania tidak akan naik pitam seperti itu.
Tania mencoba melepaskan bekapan sang ayah di mulutnya. Bukan ini yang dia inginkan, kenapa ayahnya tidak mau mengerti. Pikir Tania. Akhirnya, Tania menggeram sambil menghentakkan kakinya. Hal yang dia lakukan itu lantas membuat sang ayah melotot.
Hancurlah perasaan garis kecil itu saat ini. Dan, bukan kesal lagi yang ada di dalam hati Tania, akan tetapi sakit hati dan perih yang membuat air mata gadis kecil itu mengalir deras seketika. Bahkan, suara Tania juga ikutan menggelegar di atas panggung.
Bahkan, suara penyanyi yang mengisi acara pesta pernikahan megah tersebut, kalah dengan lengkingan suara tangisan dari Tania.
"Astagfirullah, Mas! Kenapa kau buat dia malah menangis!" omel Fradya. Karena kini semua mata tertuju pada mereka yang berada di atas panggung.
"Aku tidak melakukan apa-apa padanya. Hanya menyuruh dia diam. Huh, dia malah nangis kencang!" jawab Faruq geram.
__ADS_1
"Tania diam!" titah Faruq dengan sepasang matanya yang masih mendelik seram ke arah putrinya itu. Bukannya berhenti justru tangis
Tania semakin kencang. Bahkan, gadis kecil itu ikutan memanggil bundanya.
"Bundaaa ....! Huaaaa ....!"
"Astaga Tania!"
Faruq kelimpungan karena tidak tahu bagaimana cara mendiamkan putri kecilnya itu. Keringatnya sudah banyak keluar mengalir di pelipisnya.
"Ih, Mas. Anakmu bikin malu deh," sungut Fradya. Ingin rasanya ia mencubit kencang Tania agar diam. Suara gadis kecil itu sungguh memekakkan telinga. Bahkan, membuat kacau pestanya yang sempurna.
"Siapa dia? Kali ini pembawaannya sangat sopan dan adem sekali?" tanya Kokom pada suaminya, yang lantas menaikkan kedua bahunya tanda tidak tahu.
"Permisi," ucap Rania membuka pagar orang yang berdiri mengerubungi sang adik yang sudah nampak ketakutan.
__ADS_1
"Rania."
"Cepat, Nak. Kau bawa turun adikmu yang pembuat onar itu!" titah Faruq kepada putri pertamanya. Namun, ia justru mendapat senyum dari Rania. Gadis remaja itu meraih tangan Tania, kemudian menarik adiknya itu agar bersembunyi di belakang punggung. Tania langsung melingkarkan kedua lengannya di pinggang sang kakak. Tubuhnya terasa bergetar hebat. Hati Rania ikut sakit melihat sang adik seperti itu.
"Wahai ayahku yang terhormat. Maafkan kesalahan kami. Sungguh luar biasa sekali, karena Ayah sudah membuat Tania ketakutan seperti itu. Mungkin, adik dan juga aku telah lancang berdiri di atas punggung pelaminan dari pernikahan ayah. Akan tetapi, tidak seharusnya Ayah menempatkan posisi Tania sebagai pesakitan yang dikerubungi orang-orang seperti tadi. Tania hanya ingin berada di sisi Ayah. Dan, dia bukan pembuat onar ... Ayah. Tania anak Ayah! Dan dia hanya ketakutan karena itu dia menangis!" ujar Rania penuh penekanan pada setiap kata-katanya. Bahkan, auranya mampu membuat Faruq dan yang lainnya terdiam.
"Sekali lagi, aku dan Tania mohon maaf. Kami pamit pulang. Sejak awal, seharusnya Ayah tidak perlu mengundang kami untuk datang." Rania segera balik badan kemudian ia menuruni tangga seraya menuntun lengan sang adik. Keduanya meninggalkan panggung pelaminan tanpa menoleh. Dan, keluar dari ruangan tersebut dengan tatapan lurus ke depan.
"Masih kecil aja udah kayak gitu kharismanya."
"Jadi, mereka berdua anak dari mempelai pria?"
"Cantik-cantik ya?"
"Pasti ibunya juga cantik deh. Bibitnya aja kayak gitu."
__ADS_1
"Iya juga ya. Tapi kok di cerai?"
...Bersambung...