Godaan Daun Muda

Godaan Daun Muda
Bab. 20. Hawa Mau Melahirkan.


__ADS_3

Hawa mencengkeram kuat dadanya. Ia merasakan sesak yang teramat sangat menekan jantungnya itu. Teriakan serta tuduhan yang dilayangkan oleh suaminya sungguh sangat membekas serta melukai hatinya sebagai seorang istri. Apalagi posisinya pada saat ini sedang mengandung dan hampir mendekati waktu melahirkan.


Hawa tak habis pikir kenapa, suaminya itu semakin egois saja. Kenapa akhir-akhir ini Faruq hanya memikirkan kebutuhan serta kepentingannya sendiri.


"Kenapa, kamu tidak pernah memikirkan perasaanku Bang. Kenapa kau tidak mengerti Bagaimana caraku memperlakukanmu selama ini. Kenapa Kau sangat tega menuduhku seperti itu! Kenapa kau sampai hati, mengatakan bahwa Aku ini adalah istri yang tidak berguna. Kenapa kau tega, Bang!" Hawa, menutup pintu dan menguncinya. Karena dia ingin menangis sejadi-jadinya.


Kalau tidak dikeluarkan maka Hawa akan merasakan sesak yang tidak kunjung hilang. Ia harus mengeluarkan emosinya. Hingga, hal itu berlalu selama beberapa saat. Hawa berjalan menuju tempat tidurnya perlahan. Tubuhnya semakin lemah saja serta bagian bawah perutnya semakin nyeri.


Namun, lama-kelamaan nyeri itu menjalar hingga pinggang dan sampai ke punggungnya. Hawa, menarik nafas dalam-dalam. Berharap jika yang dirasakan ini hanyalah kontraksi palsu. Karena, hari perkiraan lahirannya masih beberapa pekan lagi. Tapi, menurut dokter yang menanganinya, hari kelahiran yang maju pun menjadi hal yang biasa terjadi.


"Ya Allah. Apa Aku mau melahirkan sekarang. Tapi, bang Faruq tidak ada di rumah. Dan dia pergi dalam keadaan marah. Ya Allah, engkau Yang maha tahu. Ampunilah dosa-dosaku. Maafkanlah, segala kebodohanku." Hawa mengucapkan doa sembari meringis merasakan sakit.


Kontraksi itu masih datang dan pergi. Karena itu Hawa memutuskan untuk tetap diam di dalam kamarnya tanpa memberitahu siapapun. Termasuk papanya. Akan tetapi, beberapa saat kemudian, kontraksi yang ia rasakan semakin rapat dan berjarak pendek-pendek.


Hawa, semakin tak kuat menahan rasa sakitnya. Apalagi, hal merasa ada yang keluar dari bagian intinya. Ia pun menguatkan diri untuk bangun dan berjalan menuju pintu kamar. Merasa tak kuat, akhirnya Hawa terduduk di depan pintu kamarnya. Ia terpaksa berteriak memanggil Samudera.


"Pa! Papa! Tolong Hawa, Pa!" teriak Hawa sekuat tenaganya. Ia berharap dua anaknya tidak bangun ketika mendengar teriakannya yang kencang ini.

__ADS_1


"Seperti ada yang berteriak?" gumam Samudera dari balik selimutnya. Pria paruh baya yang bermata sipit ini baru saja hendak memejamkan kedua matanya. Setelah beberapa saat tadi ia hanya sibuk mondar-mandir karena memikirkan keadaan Hawa.


"Apa mungkin itu --," Demi mengikuti kata hatinya samudra pun turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya. Alangkah kagetnya ketika dirinya melihat bahwa Sang Putri sedang terduduk lemas sambil meringis di depan kamarnya sendiri.


"Astagfirullah! Hawa!" teriak Samudera panik seraya menghampiri putrinya itu.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya pria bermata sipit dengan rambut yang sudah hampir memutih itu kepada Hawa. Raut wajahnya sungguh sangat panik dan bingung.


"Ha–Hawa, mau melahirkan, Pa. Tolong ...," jawabnya lirih. Keringat sebesar biji jagung telah membasahi wajah serta tubuhnya. Kontraksi yang Hawa rasakan saat ini lebih hebat ketimbang dua kehamilan sebelumnya.


"Dimana suamimu?" tanya Samudera. Bahkan ya terlupa jika tadi berpapasan dengan menantunya itu.


"Paaa!" Hawa kembali memetik seraya mencengkram lengan Samudera. Rasa sakit itu datang lagi menerpa tubuhnya. Hingga, berteriak sekencang-kencangnya untuk membangunkan seisi rumah. Para pelayan pun bangun dan mereka langsung panik.


Ada yang segera menghubungi Rumah Sakit. Mempersiapkan mobil dan juga segala perlengkapan yang akan dibawa Hawa nanti. Tak ada satupun yang ingat untuk menghubungi Faruq.


Kepanikan juga menghampiri kedua putri dari Hawa.

__ADS_1


"Bunda ...!" Rania dan Tania hanya bisa menangis ketika melihat Bunda mereka meringis kesakitan. Mereka baru tahu, seperti itulah perjuangan sang Bunda, ketika hendak melahirkan bayi.


"Mobilnya sudah siap, Tuan Besar!" lapor, sang sopir yang masih mengenakan kain sarung dan bermuka bantal itu. Ia tak peduli adalah dapat segera membawa majikannya itu ke rumah sakit.


"Siapa yang akan menggendong Nyonya?"


Samudera dan Hawa pun saling pandang. Karena kondisinya yang sudah renta tak mungkin sanggup menggendong putrinya yang saat ini hamil besar sekali. Begitupun dengan sopir mereka yang berbadan kurus.


Sementara, Hawa sudah terlihat tidak sanggup untuk berjalan hingga ke lantai bawah.


"Kurdi, Bima dan Bonang! Kita bawa Nyonya kalian ini bersama-sama!" titah Samudera, kepada supir dan tukang kebunnya itu. Sementara, sang penjaga rumah juga ikut membopong, Hawa.


"Gapapa ya, Nak. Ini emergency," ucap Samudera. Agar Hawa ridho karena akan di pegang oleh beberapa pria yang bukan mahramnya.


Sementara, itu terlihat Faruq duduk di sebuah taman pinggir komplek di temani oleh seorang gadis yang mengenakan hoddie.


"Mas, kenapa keliatan gelisah banget dan ngajak ketemuannya dadakan gini?"

__ADS_1


"Bantuin aku, Dy. Mas, sedang tersiksa."


...Bersambung ...


__ADS_2