
"Bantuin apa? Dya gak ngerti?" Fradya terus bertanya karena gadis ini memang bingung sungguhan. Apalagi, wajah faruq terlihat aneh. Pria itu mengeluarkan keringat dingin yang sangat banyak. Raut wajahnya terlihat seperti sedang menahan sesuatu. Napasnya memburu seperti habis lari marathon.
jika tidak mengingat kebaikannya, Fradya juga tidak akan mau keluar rumah malam-malam begini. Apalagi, harus diam-diam dari kedua orang tuanya.
"Aku–aku ...," Faruq ragu mengatakannya. Tapi, dia adalah pria dengan birahi tinggi. Sudah beberapa kali gagal bercinta membuat ia merasa begitu tersiksa. Keadaan, Hawa membuatnya jijik tak berselera. Akan tetapi, gairahnya tidak lantas padam. Faruq butuh pelepasan atau ia akan meledak.
"Iya, Mas kenapa? ngomong yang jelas, biar Dya paham!" cecar Fradya seraya memegang lengan Faruq. Mendapat sentuhan seperti itu seakan membangkitkan mode setan yang sedang berusaha ia pertahankan untuk tidak keluar.
"Dya, Mas butuh kamu. Aku gak akan merebut kesucian mu. Hanya saja aku--" Faruq menghentikan ucapannya ketika ia melihat raut wajah dari gadis di hadapannya ini berubah. Fradya langsung bergerak mundur. Secara tidak langsung ia paham apa yang dimaksud oleh pria dewasa yang saat ini duduk di hadapannya dengan gelisah.
"Mas, kamu gila ya. Jadi kamu datang menemui Dya untuk --!" Fradya membola ketika wajah Faruq sudah dekat dan pria itu membungkam mulutnya dengan ciuman yang belum pernah ia lakukan pada siapapun dan pria manapun.
__ADS_1
Fradya mendorong dedek ya dewasa di hadapannya ini sekuat tenaga akan tetapi tenaga yang dikeluarkan oleh Faruq lebih kuat darinya. Faruq bahkan menarik raga Fradya agar semakin dekat dengannya. Menempel pada tubuhnya. Ia tak peduli dimana posisi mereka berada kini.
Faruq pun melepaskan tautan mereka ketika, di rasa Fradya kesulitan untuk bernapas. Namun, pria itu dengan sigap menangkap tangan gadis itu yang hendak melayang ke wajahnya.
Raut wajah Fradya memerah lantaran marah. Pria dewasa di depannya ini dengan berani dan kurang ajar telah melecehkannya. Keterlaluan! batin Fradya. Namun, entah kenapa lidahnya seketika kelu. Apalagi ketika mendapatkan tatapan penuh arti dari Faruq.
"Maaf. Tolong kamu jangan marah dan salah paham. Tidak ada maksud dariku Untuk melecehkan mu, Dya. Sungguh. Tapi aku kesakitan, aku sungguh kesakitan," ucap Faruq memelas. Wajahnya benar-benar nampak tersiksa. Bahkan ia terlihat meringis dan menggeram.
Melihat hal itu, Fradya tidak jadi marah. Ia mengerti bahwa pria dewasa di hadapannya ini tidak secabul itu. Karena, selama ini Faruq bahkan tidak berani untuk sekedar memegang tangannya.
"Tolong bantu, Mas pelepasan. Dan kau dengar dulu. Istri, Mas keadaannya sedang hamil tua dan sangat lemah. Mas tidak mau menyakitinya. Meskipun selama ini dia tidak memperdulikan kesejahteraan batin, Mas. Tapi, Mas tidak tega. Sungguh, Mas tidak mau bermain dengan wanita nakal, Dya. Mas tidak mau. Mas, minta tolong sama kamu karena, Mas tau kamu pasti gak akan tega melihat orang yang sudah baik sama kamu dan juga keluargamu selama ini kesakitan dan menderita. Mas percaya sama kamu, Dy," tutur Faruq panjang lebar. Pria ini berusaha membujuk dan menepis segala pikiran buruk gadis polos ini tentangnya.
__ADS_1
"Dya, Faham. Mas, udah baik banget kemaren sempet bawa berobat Amar pas dia kecelakaan. Entah kalo gak ada, Mas. Gimana nasibnya, Amar . Mana dia lagi ujian sekolah. Fradya sangat berhutang budi, jadi katakan apa yang harus Dya lakuin. Agar Mas, tidak menderita lagi?" Dengan mimik wajah serius Fradya bertanya. Bahkan dengan polosnya kembali menyentuh lengan Faruq.
Sementara, pria di hadapannya ini langsung mendekat dan berbisik di telinganya.
Di waktu yang sama di lokasi berbeda.
Hawa telah sampai di rumah sakit. Ia langsung di tangani oleh dokter, yang beberapa saat lalu sempat dihubungi oleh pelayan. Hawa, di bawa kedalam sementara yang lain menunggu di luar.
Samudera merogoh saku untuk mengambil ponsel. "Kemana si Faruq?" Pria paruh baya ini sudah terlihat beberapa kali menghubungi namun tidak ada hasil.
"Su–sudah belum, M–Mas?" tanya Fradya dengan wajah tertutup kerudungnya. Namun, terlihat tangannya bergerak naik dan turun.
__ADS_1
"Sebentar lagi, Dy ..."
...Bersambung ...