
Setiap kali bertengkar dengan, Hawa. Maka setelahnya, Faruq akan menemui Fradya dan bersenang-senang. Gadis itu, mulai melupakan kejadian tengah malam yang merupakan pengalaman buruk baginya.
Setiap pulang, Fradya akan mendapat pertanyaan beruntun dari seorang kedua orang tuanya. Seperti sore ini.
"Sebenarnya pacarmu itu siapa? Irham atau pria yang tadi mengantarmu pulang?" tanya Kokom, penuh selidik.
"Dia kawan Dya, Mak. Lagian Irham juga gak tau kalo aku jalan sama dia," jawab Fradya.
"Apa dia pria beristri, Dya?" Kali ini Jamal ingin pastikan dengan jelas. Jangan sampai putrinya menjadi buah bibir pembicaraan masyarakat. Hanya karena ia menjalin hubungan dengan pria yang sudah beristri. Memang, Jamal tau jika putrinya itu sangat dimanjakan dengan barang-barang bagus dan mahal.
Bahkan, putrinya terlihat lebih terawat dengan skin care mahal yang kini Fradya gunakan. Tentu saja sebagai orang tua, Jamal khawatir.
"I–iya, dia sudah beristri. Tapi, Dya dan cowok itu gak pernah ngapa-ngapain. Kita cuma jalan aja, dan ngobrol," tutur Fradya, menyembunyikan kejadian pada malam beberapa pekan lalu. Ia tidak mungkin menceritakan hal buruk itu kepada kedua orangtuanya. Meksipun pada saat itu ia berniat hanya ingin menolong, Faruq.
"Sudahlah, Pak. Mereka cuma berkawan aja. Mungkin pria itu memberi kesenangan buat Dya, Karena tau berasal dari anak orang susah. Lagian, Emak percaya ma anak sendiri. Kagak bakalan kan lu bikin malu kite," tutur Kokom. Membuat sang suami terdiam dan Fradya tersenyum lebar.
Setidaknya, kedua orang tuanya tak lagi berpikiran macam-macam terhadapnya. Walau bagaimanapun, Fradya akan menjaga kehormatannya. Meskipun ia tau jika, Faruq menyukainya. Ia tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam hubungan rumah tangga orang lain. Apalagi sampai dicap sebagai wanita perebut suami orang. Karena, telah merusak rumah tangga harmonis orang lain.
__ADS_1
Perdebatan antara Faruq dengan Hawa, bukan hanya sekali dua kali. Pria berjambang halus itu selalu saja mencari selah kesalahan istrinya. Semua berjalan hingga, dua bulan lamanya. Meskipun, hak suaminya itu telah Hawa tunaikan. Akan tetapi, semua itu tetap tidak cukup bagi Faruq.
Terlebih ketika Hawa sudah mulai masuk kantor dan kembali sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Faruq selalu saja menuntut dan memojokkan Hawa, bahwa istrinya itu melalaikan tugasnya sebagai seorang ibu dan istri. Faruq, juga, telah menuduh jika Hawa lebih mementingkan pekerjaan ketimbang keluarga.
"Sebagai istri dan ibu dari tiga anak, seharusnya kau lebih banyak di rumah. Bukan di kantor bergaul dengan banyak lawan jenis. Pekerjaanmu itu sudah tidak masuk akal. Kenapa kau harus turun tangan sebagai seorang atasan. Kau tidak bisa menjaga marwahmu!" Sore ini, Faruq kembali melayangkan protesnya kepada, Hawa. Padahal, ia di hati ke istrinya itu baru saja selesai menyusui bayi mereka.
Bayi laki-laki yang sangat tampan. Jenis kelamin, yang sangat diinginkan oleh keduanya. Hawa, bahkan sampai melayangkan tatapan tajam agar Faruq menurunkan nada suaranya. Karena, bayi mereka yang di beri nama, Idris Albani itu baru saja tertidur.
"Tolong, pelankan suaramu Bang. Baby Id baru saja tertidur. Kau tau kan, aku baru pulang kerja dan harus menyusuinya selama dua jam. Aku lelah. Aku tidak sanggup mendengar ocehannya yang tidak masuk akal itu!" kecam Hawa. Ia bahkan belum sempat mengisi perutnya. Setiap pulang kerja akan langsung menangani putranya yang masih bayi dan perlu di susui itu.
"Jangan mengada-ada, Mas. Mereka bahkan tidak pernah protes. Kenapa, kamu yang selalu saja marah. Aku telah menyiapkan setiap pelayan untuk mereka. Untuk menemani dan mengurus mereka setiap hari. Tapi, selama dua hari di akhir pekan, aku akan menemani dan memanjakan mereka. Ku rasa itu semua susah lebih dari cukup, Bang," dalih Hawa, membuat Faruq meraup wajahnya kasar.
"Kau semakin berani dan pandai memutar balik perkataanku. Sepertinya, kau tidak lagi memandang posisiku di sini sebagai seorang suami."
"Kau aneh, Bang. Aku selama ini sudah sangat menghargai dan mengerti posisimu. Bagian mananya yang membuatku merasa tidak kupandang?" Hawa sudah berdiri dan berjalan mendekati jendela. Ia tak mau putranya yang baru saja pulas mendingan perdebatan kedua orang tuanya ini.
"Kau bahkan tidak sadar jika telah merendahkan posisiku. Kau, selalu berani menjawab perkataanku sekarang. Tidak ada lagi ciri-ciri dari seorang istri yang penurut dan taat terhadap suaminya. Kau selalu membangkang, Hawa!" hardik Faruq.
__ADS_1
"Cukup, Bang. Kecilkan suaramu!" titah Hawa dengan menahan ucapannya agar keluar pelan.
"Sepertinya ini adalah batas dari kesabaranku. Aku lelah, setiap hari mengajakmu berbicara yang kemudian berakhir dengan pertengkaran. Ku rasa, saat ini aku sudah mampu lagi mengimbangimu. Posisiku sama sekali tidak berarti di matamu sekarang. Aku, bukan lagi prioritas. Lalu, untuk Apa lagi tetap berada di sini."
"Maksudmu apa, Bang? Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu. Sepertinya, semua itu hanya perasaanmu saja," ucap Hawa berusaha menetralkan keadaan. Akan tetapi, Faruq justru memberikan senyum mencibir padanya.
"Kau tidak akan pernah merasa, Hawa. Karena kau adalah sosok perempuan yang egois. Kau tidak akan pernah memikirkan perasaan orang lain, termasuk aku, suamimu sendiri."
Setelah mengatakan kalimat tafsirnya Faruq pun berbalik hendak keluar dari kamar.
"Abang mau kemana? Selesaikan dulu pembicaraan kita! Jangan kebiasaan! Masalah belum selesai kamu sudah pergi," panggil Hawa cukup terdengar tegas. Akan tetapi suaminya itu sudah mengangkat tangannya ke atas.
"Tunggu saja gugatanku!" teriak Faruq sebelum ia keluar dari dalam kamar itu.
"Astagfirullah!"
...Bersambung ...
__ADS_1