Godaan Daun Muda

Godaan Daun Muda
Bab. 15. Chattingan 1


__ADS_3

Astagfirullah. Abang kenapa sih bang? Apa tubuhku tidak menggairahkan lagi. Entah kenapa kehamilan kali ini membuat berat badanku naik pesat. Kesibukanku di kantor membuatku jarang ikut yoga.


Hawa memeluk tubuhnya yang setengah telanjang. Ia berjalan cepat ke dalam kamar mandi. Rasanya malu sekali mendapat penolakan seperti itu dari suaminya sendiri. Padahal, Hawa selalu berusaha menyediakan waktu bagi Faruq, suaminya.


Hawa memandangi bentuk tubuhnya yang semakin besar seiring kehamilannya yang sudah masuk trisemester ketiga. Ia meraba garis-garis acak yang tercetak jelas di perutnya yang sudah membuncit. Bahkan, jumlahnya sangat banyak hampir menutupi seluruh lingkaran perutnya. Warna kulitnya juga sedikit menghitam dan terasa kasar.


Hawa bingung. Kenapa kehamilannya kali ini sangat berbeda dengan dua anak kehamilan sebelumnya. Karena ketika mengandung putri pertamanya dan kedua. Berat tubuhnya hanya naik satu hingga dua kilo saja. Tidak garis-garis menyeramkan maupun yang warna kulit yang kusam.


Perubahan pada tubuhnya kala itu tidak begitu nampak. Sangat berbeda dengan apa yang ia alami sekarang. Wajahnya berjerawat, kusam, berat badannya naik drastis hingga menembus angka dua puluh lima kilogram. Hawa jadi merasa mudah lelah ketika berjalan maupun duduk. Ia bahkan lebih sering tidur siang di kantornya. Imbasnya, banyak pekerjaannya yang menjadi terbengkalai.


Beberapa staff mengatakan serta menganjurkan Hawa untuk mengajukan cuti saja. Karena keadaan perutnya yang semakin besar tidak memungkinkan Hawa bergerak lincah seperti sebelumnya.


Apalagi, terkadang ia harus ikut terjun ke lapangan. Para staff terlihat tak tega, dan merasa kasihan. Hawa memang seorang pemimpin yang memiliki kredibilitas tinggi mengenai kedisiplinan kerja. Tenaganya kuat, lincah dan gesit. Hanya semenjak hamil ini, Hawa menjadi mudah lemah. Menurut pendapat para karyawannya yang juga ibu rumah tangga. Kemungkinan jenis kelamin anak di dalam kandungannya adalah laki-laki.


Karena, biasanya anak laki-laki itu akan mengambil cahaya dari wajah ibunya. Serta menguras tenaga ibu yang sedang hamil. Sebab, kebutuhan untuk pembentukan tulang dari janin laki-laki cukup memakan banyak energi serta kalsium sang ibu.


Memang biasa terjadi jika kulit wajah ibu hamil terlihat lebih kusam, berminyak, dan berjerawat dari sebelumnya. Terkadang diyakini sedang mengandung bayi laki-laki. Menurut mereka, bayi yang dikandung tengah “mencuri” kecantikan dari sang ibu. Sebaliknya, ibu hamil yang memiliki kulit wajah bersih dan tidak berjerawat artinya mengandung bayi perempuan.


Hawa hanya tersenyum menanggapi beberapa pendapat yang diutarakan para karyawannya itu. Meskipun dirinya paham bahwa hal tersebut hanyalah mitos belaka. Sejauh ini, belum ada data dan riset ilmiah yang dapat membuktikan bahwa perubahan kondisi terhadap kulit wajah serta tubuh selama kehamilan merupakan tanda dari jenis kelamin bayi yang dikandung.


Karena, yang pernah Hawa baca di buku tentang kehamilan dan parenting, bahwa perubahan kondisi kulit wajah ibu hamil pada umumnya terjadi karena adanya peningkatan hormon kehamilan.


Ketika hormon tersebut meningkat, maka secara otomatis kelenjar kulit akan memproduksi lebih banyak minyak atau sebum, sehingga membuat kulit wajah wanita yang sedang hamil menjadi lebih berminyak dan mudah timbul jerawat.

__ADS_1


Di sisi lain, masa kehamilan juga dapat membuat kulit ibu hamil terlihat lebih bersih, indah, dan cerah. Kondisi ini disebut pregnancy glow. Ini terjadi karena peningkatan hormon kehamilan serta bertambahnya aliran dan sirkulasi darah didalam tubuh sehingga kulit bisa nampak lebih cerah dan merah merona.


"Seandainya, Bang Faruq mengerti tentang keadaanku ini. Karena, aku bukannya tak ingin merawat tubuh demi menyenangkan hatinya. Akan tetapi, masa hamil adalah saat di mana kulit sangat riskan dan sensitif ketika menerima produk sejenis krim dan yang lainnya. Apalagi, aku tidak suka wangi-wangian. Maafkan, Hawa Bang. Masa ini akan segera berlalu sesaat lagi. Tak apa tersiksa sebentar, semua demi anak ketiga kita yang sebentar lagi akan lahir," gumam Hawa di depan cermin.


Ia menguap perut buncitnya dengan penuh kasih sayang. Senyumnya berkembang sempurna ketika usapannya merasakan sebuah tendangan, yang berasal dari bayi di dalam perutnya. Kesedihannya tadi menguar sudah. Hawa yakin, bahwa kekesalan suaminya nanti akan berganti dengan kebahagiaan ketika bayi yang saat ini ya kandung terlahir ke dunia.


"Sayang, Bunda yakin. Ayah pasti akan bahagia ketika kamu lahir." Hawa berbicara dengan binar kebahagiaan. Ia sangat yakin bahwa rasa kesal Faruq terhadap dirinya hanya sebentar. Semua itu pasti akan berlalu begitu saja.


Hawa melanjutkan rencananya untuk membersihkan tubuh. Ia menyingkirkan seluruh sabun cair mahal yang biasa ia gunakan. Dimana wanginya tidak akan hilang dalam kurun waktu empat puluh delapan jam. Tapi, kini Hawa justru hanya menggunakan sabun batang biasa yang murah. Karena ia merasa lebih nyaman mencium aromanya. Ketimbang, dengan aroma dari sabun serta sampo yang biasa Hawa pakai sebelumnya.


Hawa, juga tidak pernah menggunakan body-lotion maupun krim malam. Ia tak lagi melakukan perawatan terhadap tubuhnya karena memang semenjak kehamilan ini, Hawa tidak suka melakukan hal-hal seperti itu. Ia tidak suka perawatan. Bahkan untuk menyisir rambutnya saja sangat jarang sekali.


Hal itulah yang menjadi salah satu alasan bagi pria yang tak memiliki rasa syukur seperti Faruq Albani seakan memiliki alasan untuk tidak betah, dan seakan tersiksa di dekat sang istri.


"Sial! Cuma bisa gue pandangin doang!" rutuk Faruq. Ia terus menggulir layar ponselnya. Dimana terdapat bermacam gaya dari gadis remaja, yang belakangan ini membuat dirinya macam kena demam cinta monyet.


"Gua ajakin chatting aja ah. Siapa tau ngilangin suntuk gue gara-gara punya istri gak asik. Sama sekali enggak menarik dan bisa di ajak main. Menyebalkan. Selalu saja kehamilan yang jadi alasan. Kayak gak pernah hamil aja. Padahal udah ngalamin dia kali. Seharusnya kan dia tau, bisa aware." Faruq asik membicarakan istrinya seorang diri. Sambil menunggu hingga Fradya terlihat online untuk membalas pesannya.


[ Kenapa sih, Mas? Kok emoticonnya sedih gitu? ]


[ Gapapa, cuma lagi butuh temen ngobrol aja. ]


[ Nanti, istrinya cemburu, Mas. ]

__ADS_1


[ Gak kok. Dia itu sibuk. Gak ada waktu buat aku. ]


[ Ya, Mas, kan bisa main sama anak-anaknya. ]


[ Mereka sudah tidur. Lagipula, Mas butuh bicara dengan orang dewasa yang bisa mengerti akan keadaan Mas, saat ini. ]


[ Dya, mana ngerti Mas. Kan aku masih kecil. ] Fradya terlihat tertawa di depan ponselnya. Entah kenapa dia begitu. Mungkin otaknya sudah agak sedikit geser. Menyarankan agar Faruq tidak bicara dengannya tapi rupanya ia senang menggoda pria dewasa itu.


[ Anak kecil apanya? Semua terlihat besar gitu! ] Arrggh! Faruq serasa ingin menggigit ponselnya saja. Ketika ia sadar telah kelepasan dalam ketikannya.


"Dih, ni anak marah gak ya? Gawat kalo dia sampe marah. Gue bisa gak punya mainan lagi," gumam Faruq penuh sesal.


[ Apanya yang gede, Mas? ]


Glek!


Faruq seketika menelan ludahnya kasar. Ketika, Fradya menimpali isi pesannya barusan.


Seketika di dalam kepala Faruq, berkelebat bayangan demi bayangan, bentuk yang besar itu. Ia pun merasa panas di area pusat tubuhnya.


"Sial!"


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2