
"Nih anak kemana? Kenapa ponselnya sudah sekali di hubungi?" gemas Samudera. Ketika sang putri ingin melahirkan, menantunya itu malah tidak ada di rumah. Bahkan, dihubungi pun sangat susah sekali. Samudera terlihat kesal sekaligus khawatir dengan keadaan Hawa.
Sudah dua kali Hawa melahirkan dan kebetulan dia selalu mendampingi. Namun, belum pernah dia melihat keadaan Hawa yang berteriak kesakitan seperti tadi. Samudera paham yang mengerti bahwa kehamilan Hawa yang ketiga ini sangat berbeda dengan dua kehamilan yang sebelumnya.
Putrinya itu, bahkan terlihat kucel dan tidak merawat diri. Akan tetapi lebih bersemangat ketika bekerja. Semua karena pembawaan kehamilan yang setiap anak itu memang berbeda-beda. Samudera paham itu. Karenanya, ia tidak protes ketika, Hawa terlihat menyibukkan diri dengan pekerjaannya yang lebih banyak di lapangan ketimbang di dalam kantor.
Bahkan, ketika Hawa terlihat cuek dengan kedua putrinya. Samudera pun maklum. Setidaknya ya pernah menghadapi kejadian ini ketika sang istri dulu hamil ketiga anaknya.
Samudera tipikal pria yang perhatian dan peka. Kepribadian langka yang dimiliki oleh pria di atas muka bumi ini. Perasaannya sangatlah sensitif sebagai seorang laki-laki. Ia tidak pernah tega kalau melihat perempuan menangis apalagi kesakitan.
Karena itulah rasa cintanya saya begitu besar terhadap mendiang istri. Hingga, Samudera berharap kelak nanti dipersatukan lagi di alam keabadian.
__ADS_1
"Dokter, bolehkan saya mendampingi putri saya di dalam. Saya tidak tega melihatnya berteriak kesakitan. Saya ingin memberinya kekuatan?" tanya Samudera penuh permohonan kepada tim medis yang baru saja keluar dari ruangan bersalin tersebut.
"Maaf, Pak. Tidak bisa. Kecuali suaminya sendiri," ucap sang petugas medis, lalu kembali masuk ke dalam ruangan dengan bermacam alat-alat yang dibawa menggunakan nampan stainless.
Samudera pun lemas. Posisinya sebagai seorang bapak kalah dengan posisi laki-laki yang berpangkat suami. Akan tetapi, suami dari putrinya itu entah ada di mana saat ini. Di saat, sang istri sangat membutuhkan keberadaannya.
Gak lama kemudian petugas medis keluar lagi.
"Ibu, Hawa mengalami pendarahan dan juga sesak nafas dikarenakan tensinya sangat tinggi. Kami harus menurunkan tensinya dulu baru bisa melakukan tindakan selanjutnya. Jadi, dokter menyarankan nanti untuk melakukan operasi sesar. Bu Hawa tidak bisa memaksakan diri untuk melahirkan secara normal dikarenakan, air ketubannya sudah banyak yang merembes keluar," tutur petugas medis yang menggunakan jubah khusus serta masker ini. Tapi, Samudera tahu jika yang berbicara dengan yang ini adalah wanita.
"Saya setuju, Dokter. Lakukanlah, yang terbaik untuk putri saya dan juga calon cucu saya. Tidak usah menunggu suaminya karena saya juga tidak tahu di mana keberadaan menantu saya itu. Biarlah, saya yang bertanggung jawab terhadap semuanya," tambah Samudera lagi.
__ADS_1
Sehingga, dokter itu pun mengangguk dan kembali masuk ke dalam. Setelah mengisi semua persyaratan. Hawa pun diberikan penanganan terbaik dan operasi segera dilaksanakan.
Tak henti-hentinya, Samudera serta beberapa orang yang menunggu di depan ruangan besar yang tersebut, menguntai doa dari dalam hati mereka. Berharap kelancaran serta keselamatan dari proses melahirkan tersebut.
Sementara, di dalam ruang operasi, sebelum Hawa diberikan bius epidural yang di suntikan pada tulang punggungnya. Hawa, lebih dulu menjalani beberapa pemeriksaan. Bahkan, dokter kandungan beberapa kali melakukan ultrasonografi ke perutnya. Demi mengetahui keadaan bayinya di dalam.
Karena, beberapa saat tadi bukan hanya Hawa yang mengalami masalah pada tensinya. Akan tetapi terdapat masalah juga terhadap detak jantung bayi yang ada dalam kandungan itu. Karena itulah tim Dokter memutuskan untuk mengambil tindakan operasi caesar.
Hawa, meneteskan air matanya membayangkan, pertengkarannya dengan sang suami beberapa saat yang lalu. Ia sangat menyayangkan keadaannya saat ini. Dimana, seharusnya sang suami menemaninya, serta memberikan semangat padanya.
"Kamu ke mana, Bang. Aku saat ini hendak melahirkan buah cinta kita yang ketiga. Bahkan, aku tidak bisa melahirkan secara normal. Aku sangat membutuhkan kehadiranmu Bang." Hawa bergumam kecil. Hingga para petugas medis tidak ada yang dapat mendengar perkataannya, karena mereka tengah sibuk dengan tugas masing-masing.
__ADS_1
"Tenang ya, Bu. Dzikir saja. Semoga semua dilancarkan oleh yang maha kuasa." Perawat wanita itu mengelus tangan Hawa yang terbentang.
...Bersambung...