
Dua bulan telah berlalu. Hawa semakin merasakan sepi di dalam kamarnya. Tengah malam, kedua matanya yang indah belum juga dapat terpejam dengan benar. Padahal ia harus bangun dini hari untuk tahajud. Dirinya ingin mengadukan semuanya kepala sang khalik. Bagaimana, dentuman demi dentuman dalam dada yang mengurangi konsentrasinya di kantor. Meminta petunjuk dari sang pemberi takdir, bagaimana cara agar ia dapat melupakan sosok pria yang sudah lebih dari belasan tahun, mendampinginya.
Meskipun, Hawa telah berusaha untuk menerima semua ketentuan dalam takdirnya ini. Sekali lagi ia hanyalah manusia biasa. Perasaannya terhadap, sosok Faruq Albani tidak bisa hilang begitu saja. Apalagi, grup chat keluarga besar Faruq belum mengetahui berita mengenai hubungan rumah tangganya yang sudah kandas dengan pria itu.
Entah apakah memang Faruq sengaja tidak menceritakan kepada keluarga besar atau apa? Sehingga, Hawa tidak lagi ikut nimbrung bicara. Karena, dirinya tidak tau harus berkata apa. Dadanya sesak. Ketika mereka menanyakan kapan lagi kehadirannya. Pertemuan keluarga tinggal beberapa lagi. Sementara bulan yang lalu dia sudah tidak datang. Karena, memang hubungannya dengan Faruq telah usai pada saat itu.
Hawa justru kembali teringat dengan ucapan dari mantan suaminya itu ketika ia menemuinya di kantor.
"Bisa kau jelaskan apa yang kau tulis di surat gugatan, Bang? Sejak kapan aku menelantarkan kalian? Tolong jelaskan bagaimana yang membuat diriku seakan bertindak tanpa tanggung jawab?" sergah Hawa, ketika ia telah berada di depan suaminya sendiri.
__ADS_1
Faruq menatapnya remeh. Menciptakan seringai sinis di wajahnya yang nampak licin karena perawatan. Faruq nyatanya ingin terlihat lebih muda. Namun, Hawa tak peduli itu. Ia hanya ingin tau alasan dari Faruq yang sebenarnya.
"Sampai kapanpun kau tidak akan menyadarinya Hawa, Bagaimana kau bisa mengakuinya? Jujur saja, semakin lama aku semakin tersiksa menjadi suamimu. Kau semakin sibuk dengan pekerjaanmu. Dimana kau semakin berada di atas peringkat karir yang kau inginkan. Keadaanmu itu jelas semakin menunjukkan betapa kecilnya aku. Karenanya, bahkan kau tak lagi pernah mendengar kata-kataku. Selalu berani menolak permintaanku. Apa kau masih perlu tahu apa kesalahanmu!" sarkas Faruq. Ia bahkan menatap tajam ke arah mantan istrinya itu. Seakan-akan, Hawa telah melakukan kesalahan yang sangat fatal baginya.
"Sejak awal aku tidak pernah sedikitpun mengecilkan keberadaanmu. Aku selalu menghormatimu hingga saat ini. Kenapa kau lantas menggugat tanpa peringatan? Bukankah aku seharusnya masih memiliki kesempatan? Semua masalah seharusnya kita bicarakan dulu. Apa kau tidak memikirkan Bagaimana perasaan anak-anak kita? Bahkan, kita baru saja memiliki bayi laki-laki. Bayi yang sangat kau inginkan Bang!" Hawa ikut mengeluarkan nada tinggi ketika berbicara.
"Harta? Gono-gini? Kenapa kau nampak buru-buru sekali, Bang. Hawa paham, bagian dan juga hak mu. Tidak akan aku menahannya. Aku telah memerintahkan agar pengacaraku yang mengurus semuanya. Termasuk hak asuh ketiga anak kita. Abang, tidak boleh melupakan mereka sampai kapanpun. Aku, sudah menjadi mantanmu. Bekas istrimu. Akan tetapi terhadap anak tidak ada mantan dan tidak ada bekas," tutur, Hawa berusaha tegar menahan rasa sesak yang menekan dadanya kuat.
Dia tidak ingin terlihat sengsara maupun merana di depan mantan suaminya.
__ADS_1
"Urusanku. Tidak perlu kau tau!" ketus Faruq. Meskipun, gerak-gerik jadi pria ini sudah dapat dibaca oleh Hawa. Alan tetapi ia tidak ingin membuang waktunya dengan mengulik maupun mengungkit akan apa yang telah dilakukan Faruq kepadanya. Karena, dia telah menyerahkan segalanya kepada Sang khalik. Karena Allah adalah sebaik-baiknya pengadil. Sebaik-baiknya hakim. Hawa tau, hanya Allah yang dapat memberikan hukuman setimpal jika memang terbukti mantan suaminya ini telah mengkhianatinya.
"Baiklah, Bang. Aku tidak akan banyak bicara lagi. Kau bebas kapanpun jika ingin menemui anak-anaknya. Mengenai nafkah seperti di awal, pernikahan kita. Aku, tidak akan pernah menuntut dan memintanya padamu. Selamat tinggal. Kita sudah tidak lagi terikat hubungan apapun. Hanya, satu ku pinta darimu tetaplah bangun kebersamaan dan hubungan yang baik demi ketiga anak-anak kita. Aku ikhlas, atas Apa yang telah kau lakukan padaku. Allah yang maha tahu segalanya. Dan aku, menyerahkan segala nasib dan keadilan dari perkara ini kepada-NYA." Selesai mengutarakan kalimat yang terakhir Hawa segera keluar dari ruangan tersebut.
Hawa kembali melafazkan istighfar berkali-kali. Mencoba, mengusir bayang-bayang maupun perkataan dari mantan suaminya itu. Hawa, ingin kehidupannya berlanjut dengan tenang. Ia juga ingin membesarkan ketiga anaknya dengan perasaan yang bahagia.
"Hamba, akan menerima semua ketentuan darimu ini dengan besar hati ya Allah. Tolong, selalu bersamaku untuk menguatkan dada ini. Hamba, percaya Jika hati buatan-MU ini tidak akan mungkin mudah hancur hanya karena masalah sekecil ini. Hamba yakin ya Allah ...."
...Bersambung ...
__ADS_1