Godaan Daun Muda

Godaan Daun Muda
Bab. 33. Protes Tania.


__ADS_3

Tania memandangi pelaminan dimana sang ayah dan istri barunya yang bagaikan princess Belle itu. Tania terlihat memainkan ujung gaunnya layak orang yang sedang kesal. Ia memilin pakaian indah yang Faruq belikan khusus tapi, nyatanya tidak seragam dengan yang di kenakan oleh keluarga mempelai wanita.


Pembawaan Tania memang berbeda dengan sang kakak yang lebih tenang dan kalem. Ia terkesan pemarah dan gampang tersinggung. Meski baru duduk di kelas lima SD IT. Nyatanya, Tania paham bahwa ada kesenjangan yang tengah terjadi. Bahkan, mereka terisolasi meskipun mendapat tempat VVIP.


Makanan yang terserak di atas meja, tak ada satupun yang mereka makan. Bahkan, eskrim dalam mangkuk sudah meleleh tak karuan. Minuman dingin sudah mengembun. Sementara nasi yang tadi di bawakan oleh petugas katering sudah mengering terkena angin.


Mereka sama sekali tak berselera pada satu menu pun yang ada di pesta tersebut. Toh, mereka mudah mendapatkannya. Bahkan, semua yang mereka inginkan tersedia di rumah sang Bunda.


Kedua tatapan mereka hanya mengarah pada pengantin yang sejak ijab kabul sama sekali tidak berniat menghampiri keduanya. Mau maju pun merasa tak enak dan sungkan. Karena, lagi-lagi sang ayah dan istri barunya asik berfoto dengan para tamu undangan dan saudara cari mempelai wanita, yaitu Fradya.

__ADS_1


"Kak. Kok ayah gak ngajak kita foto-foto sih! Terus, kenapa kita di sini gak ada yang sapa juga? Aku bete tau, Kak. Aku kesel sama ayah!" protes Tania menggerutu kesal. Suaranya, yang kencang membuat sebagian tamu melihat ke arah mereka.


"Adek, jangan teriak. Kita harus menjaga adab dan juga akhlak. Apalagi ini adalah pesta besar ayah kita. Kamu yang sabar. Ayah kan sedang sibuk menerima tamu," jelas Rania. Gadis remaja yang baru berusia dua belas tahun ini. Menuruni pembawaan dari Hawa, sang bunda. Ia pandai memindai situasi. Bijak dalam bersikap dan sopan dalam bertutur kata. Sungguh gadis kecil yang dewasa sebelum waktunya.


Meskipun begitu hatinya tak luput dari rasa sakit dan kecewa. Akan tetapi Rania sudah mengerti apa yang dinamakan qada dan qadar yaitu takdir baik dan takdir buruk. Ia sudah mengerti bahwa apa yang terjadi pada manusia sudah merupakan garis takdir yang Allah tentukan di Lauh Mahfudz. Termasuk, rezeki jodoh dan juga maut.


Karena itu dia tak pernah protes ataupun marah mengenai perpisahan kedua orang tuanya. Rania mengerti jika kedua orang tuanya pasti tidak menginginkan keadaan yang seperti ini. Gadis remaja ini mencoba menerima semua dengan lapang dada. Meskipun dirinya dan juga Tania harus menerima gunjing yang sedang cibiran dari teman-teman di sekolah.


"Apa kalian lihat-lihat!" bentak Tania pada beberapa tamu yang menelisik mereka berdua. Mendapat bentakan dari yang menurut mereka adalah anak kecil. Para tamu pun kaget dan saling berbisik. Melihat akibat dari pelampiasan emosi Tania, tentu saja, Rania segera menghentikan kelakuan dari adiknya itu. Ia menarik wajah Tania agar tidak memandangi orang-orang yang menatap mereka dengan remeh.

__ADS_1


"Adek ... kamu harus inget hadis yang sering banget diingatkan oleh Bunda. La tagdho walakal Jannah! Janganlah marah maka bagimu surga. Sabar ya. Mereka kan nggak tahu siapa kita," bujuk Rania berusaha meredam kemarahan sang adik.


"Justru gitu! Karena mereka gak tau jadinya harus kita kasih tau!" Tania tak mau mendengar bujuk rayu serta nasihat dari Rania. Ia merasa tak terima karena telah disepelekan para tamu. Semua itu karena ayahnya yang tidak memperkenalkan mereka di atas panggung. Seharusnya iya dan kakaknya saat ini berada di atas panggung ikut foto-foto dan juga bersalaman dengan para tamu. Memakai gaunnya juga seragam dengan yang lainnya.


Tapi, apa yang terjadi justru di luar bayangannya. Kehadiran keduanya ternyata tidak dianggap oleh ayah mereka sendiri. Maka itu Tania menjadi meradang kesal. Kedua putri Faruq ini bukanlah anak kecil biasa. Mereka mengerti jika kehadiran mereka ini semacam tak diinginkan.


"Gak mau tau. Pokoknya aku mau duduk di sebelah ayah!" Tania turun dari kursi dan melangkah maju dengan cepat. Rania kalah gesit, ia tidak keburu menghentikan laju langkah dari sang adik.


"AYAH!!" teriak Tania dari arah bawah panggung.

__ADS_1


Astaga anak ini! Apa yang dia lakukan! Aku bisa malu ini!


...Bersambung ...


__ADS_2