
Rania terus menuntun sang adik hingga ke mobil mereka. Sang sopir pun nampak kaget karena Tania masih terisak.
"Non?" tanya sang sopir, seraya menetap penuh tanya ke arah Rania.
Namun, Rania hanya mengangguk seraya mengedipkan matanya. Pertanda bahwa mereka tidak apa-apa, dan tolong jangan di bahas dulu.
Sang sopir pun mengerti, pria pendek dengan usia sekitar empat puluh tahun itu yakin jika anak tertua dari majikannya pasti bisa menyelesaikan setiap masalah yang terjadi.
Sang sopir pun melaju dengan kecepatan sedang. Ia menawarkan pada kedua anak majikannya apakah mau mampir ke supermarket atau tidak.
"Adek mau mampir gak? Mumpung kita di luar?" tanya Rania seraya mengusap ujung kepala adiknya yang berbalut kerudung itu.
__ADS_1
Tania tak menjawab, tapi Rania dapat melihat jika sang adik nampak sedikit mengangguk.
"Pak Burhan, kita mampir ke supermarket sebentar ya," ucap Rania pada sang sopir. Tak lama, mobil mereka tumpangi berarti di depan Aprilmart.
"Yuk turun. Kakak beliin kamu es krim sama coklat," ajak Rania pada Tania. Adiknya itu masih murung dan memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil. Tania tidak menjawab sama sekali, bahu gadis kecil itu terlihat naik turun. Pertanda, bahwa Tania masih memendam kemarahan dan sesak dalam hatinya.
"Dek. Kamu tau nggak kenapa Kakak ngajakin makan es krim. Supaya hati kamu senang dan tenang. Karena, Kakak nggak mau kamu pulang dalam keadaan sedih seperti itu. Kakak aja ikut sakit nggak kamu seperti itu apalagi Bunda, loh Dek. Kamu ngerasa sakit banget menerima penolakan dari ayah kayak gitu. Apalagi, perasaan Bunda nanti kalau tau. Bunda akan ngerasain sakit yang lebih dari yang kita rasain sekarang, Dek. Jadi, Kakak mohon sama kamu ... yuk kita habisin sedih kita di taman aja. Jangan di bawa pulang ke rumah. Kamu ngerti kan maksud dari Kakak?" Rania mencoba menjelaskan kepada sang adik secara perlahan dan lembut.
Jika menuruti hawa napsu dari setan, mungkin rasanya pada saat tadi Rania ingin sekali memaki wanita yang secara sah telah menjadi istri baru ayahnya. Karena, pikiran dari anak kecil seperti mereka berdua pasti akan merasa bahwa wanita itulah penyebab dari perubahan sikap ayah mereka.
Karena, sebelum sang ayah mengenal wanita itu kehidupan mereka baik-baik saja. Bahkan, dua orang tua mereka pasti masih bersatu sekarang. Dan tentunya, baby Ar tidak akan kekurangan masih sayang dari seorang ayah.
__ADS_1
Rania terlihat mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya. Memejamkan mata untuk menetralisir debaran dalam dadanya. Siapa tidak emosi ? Hanya saja Rania mampu mengolah perasaan itu agar tidak meledak-ledak seperti Tania.
Sungguh beruntung, Faruq karena memiliki anak-anak perempuan yang cantik, Sholihah dan dewasa dalam pemikiran serta perbuatannya.
Tak lama, Tania menoleh. Kemudian yang mengangguk hingga menciptakan senyum di wajah sang kakak.
Selesai membeli es krim serta coklat dan juga cemilan lainnya, sang sopir yang bernama Burhan membawa mereka ke sebuah taman. Pria tersebut membiarkan anak dari majikannya ini menghabiskan waktu untuk menenangkan diri. Karena, Burhan tahu pasti ada yang terjadi di dalam. Meskipun, sang nona kecil tidak bercerita kepadanya.
Pria penyayang yang memiliki beberapa putri di rumahnya ini, sekilas paham. Karena, ia membaca hal itu dari raut wajah keduanya. Dimana ekspresi dari Tania dan juga Rania yang menunjukkan gurat kesedihan mendalam. Rasa kecewa dan sedih, begitu nampak jelas di wajah kedua gadis cantik yang mengenakan gamis serta kerudung panjang ini.
Melihat keduanya, hati siapapun pasti akan terasa adem dan sejuk. Burhan tersenyum setelah beberapa saat raut wajah dari keduanya sudah sedikit segar. Ia pun mencoba menceritakan hal-hal yang lucu kepada kedua Nona kecilnya ini.
__ADS_1
...Bersambung...