Godaan Daun Muda

Godaan Daun Muda
Bab. 14. Gak Jadi Mandi Berdua.


__ADS_3

"Dya tunggu!" teriak Faruq, seraya menghampiri Fradya yang sudah naik ke atas motor matic milik Jeni. Bahkan, cara duduk Fradya mampu membuat jakun Faruq naik turun. Terpaksa pria itu menelan ludahnya kasar.


Kenapa otakku ini? Kenapa aku malah membayangkan jika gadis muda ini tengah duduk di atas tubuhku. Ah, sial!


Tanpa sadar Faruq terus menatap Fradya yang mengenakan pakaian modis meksipun kepalanya tertutup pasmina. Tapi, lekuk tubuhnya masih dapat nampak jelas terlihat membentuk dari pakaiannya yang ketat.


Kaus putih polos dengan cardigan pendek, yang di padankan bawahan berbahan denim ketat. Bahkan bokong dari Fradya tercetak jelas bulat dan kencang. Pasmina hanya ia lilitkan asal melingkari lehernya, sementara bukit teletubbies miliknya yang lumayan montok itu menyembul jelas dari balik kausnya yang tipis dan ketat. Bagaimana mata laki-laki tidak melotot dengan penampilannya yang menggoda iman dan imin itu.


"Kenapa, Mas?" Fradya tidak jadi memutar kunci. Ia bahkan melambaikan tangannya ke depan wajah Faruq yang melongo. Fradya tersenyum tipis, ketika di lihatnya Faruq gelagapan. Karena telah kentara dengan jelas bahwa ia sempat terpesona.


"Maaf, ini ada uang jajan buat kamu. Buat beli bensin sama es kelapa nanti," ucap Faruq seraya memberikan beberapa lembaran merah ke tangan Fradya. Tentu saja Fradya tidak menolak uang jajan yang lumayan banyak ini. Bahkan setara dengan gajinya setengah bulan di konter. Fradya meraihnya dan ia kembali tersenyum simpul ketika di rasa Faruq sempat mengambil sedikit keuntungan dengan memberi remasan lembut pada jemarinya.


Sering-seringlah seperti ini, Mas. Aku bisa beli apapun yang ku inginkan. Bahkan, mereka tidak akan lagi meremehkan aku.

__ADS_1


"Makasih, Mas. Dya jalan dulu ya, daa!" Fradya pun melambaikan tangannya seiring kendaraannya yang mulai melaju meninggalkan pekarangan ruko.


"Gue berangkat Chan!" Faruq pun melambai pada kawannya yang ingin memasuki kendaraannya, yang memang terparkir di depan pekarangan ruko.


"Gue kirain lu orang udah pergi daritadi!" teriak Chandra yang sia-sia. Karena Faruq sudah berlalu dengan mobil mewahnya itu. "Dasar keong racun," gumam Chandra seraya terkekeh, menertawakan ocehannya sendiri.


Ia yang kenal dengan faruq sejak sekolah dasar hanya bisa menggeleng. Karena nasihatnya tak pernah sekalipun didengar oleh pria yang sedang terkena sindrom puber kedua itu. Faruq tidak sadar diri dan bahkan ingat siapa dirinya. Ia hanya memikirkan bagaimana cara untuk membuat, Fradya juga terpikat padanya. Salah satunya adalah dengan cara mencekoki gadis muda yang miskin itu dengan uang.


Singkat cerita kehamilan dari Hawa telah memasuki trisemester akhir. Selama kehamilan, ia tetap bekerja. Karena uang yang ia miliki Hawa dapat mengkonsumsi vitamin yang membuatnya bugar selama kehamilannya yang agak lemah ini. Apalagi di usianya yang tak lagi muda, kehamilan Hawa agak riskan. Akan tetapi, sekali lagi dengan uang yang ia miliki, Hawa mendapatkan perawatan terbaik dari dokter kandungan yang terbaik.


Dimana hasrat dari Faruq sedang menggebu-gebu. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Karena, itu Hawa mengerti dan paham. Ia tak pernah mengeluh meksipun Faruq menginginkannya ketika dirinya tengah lelah sekalipun. Bekerja dengan keadaan perut yang semakin besar tentu dobel capeknya bukan?


"Aku menginginkanmu sayang?" bisik Faruq di telinga Hawa. Bahkan kedua tangannya sudah meraba kemana-mana. Padahal, Hawa baru saja pulang kantor. Gamisnya pun belum ia buka, dengan Khimar dan niqob yang menutupi wajahnya. Semenjak hamil anak ketiga ini, Hawa memutuskan untuk menggunakan niqob. Hal tersebut tidak di sanggah oleh Faruq, justru suaminya itu setuju karena wajah cantik istrinya hanya ia yang boleh melihat.

__ADS_1


Hawa, akan aman meskipun bertemu dengan para klien laki-laki. Bagiamana pun Faruq pernah cemburu. Ketika ia tau, pandangan para pengusaha muda itu terkadang tak bisa lepas dari kecantikan alami yang di miliki oleh Hawa. Karenanya ia sempat kesal ketika jabatan Hawa semakin naik, dan itu mengakibatkan waktu istrinya di rumah semakin berkurang.


"Iya, Bang. Hawa mandi dulu ya. Bau asem loh ini. Mana aku abis liat kontruksi tadi di lapangan ," ucap Hawa mengentikan tangan suaminya yang sudah merajalela. Hawa selalu ingin menyuguhkan dirinya dalam kondisi yang bagus dan prima.


"Oke, tapi kita mandi bareng ya," rengek Faruq yang macam anak kecil minta jajan.


"Janji hanya mandi ya, Bang. Karena yang dilakukan oleh Rasulullah dan Aisyah hanya mandi satu bejana, tidak lebih dari itu," ucap Hawa lagi menekankan peringatannya. Karena, sudah beberapa kali, suaminya ini meminta hal aneh yang sudah jelas dilarang agama.


"Iya, aku janji." Faruq menjawab dengan pandangan yang sudah berkabut. Ia pun menarik jilbab Hawa, kemudian melucuti pakaian istrinya itu. Namun, tatapannya berhenti pada perut Hawa yang buncit bak balon mau meletus. Faruq meringis ketika ia melihat banyak stretchmark di sana. Seketika, keinginannya pupus seketika.


Sial! Serem banget bentuk perutnya. Mengerikan, udah gak ada seksinya sama sekali. Sial!


"Gak jadi, kamu mandi aja sendiri sana!" usir Faruq mendorong pelan Hawa menjauh dari hadapannya.

__ADS_1


Mendapat penolakan tiba-tiba, membuat Hawa bingung dengan keadaannya yang sudah setengah telanjang itu.


...Bersambung...


__ADS_2