
[ Sudah jangan diteruskan, nanti Mas gak kuat. ]
[ Tapi, Dya beneran gak ngerti deh maksudnya, Mas apaan. Tapi yaudah kalo gitu berarti udahan dong ngobrolnya? ]
[ Ya, enggak gitu juga. Aku masih suntuk temenin ya. Besok, Mas kasih jajan deh! ]
[ Ih, jangan sering-sering. Uang jajan yang Mas transfer kemarin aja belum abis loh. Buat anak-anak, Mas aja. ] Fradya tidak mau terlihat seakan memanfaatkan kebaikan dari pria dewasa ini. Baginya, Faruq terlalu memanjakannya.
Fradya bukan gadis yang bodoh. Dia tau jika Faruq menyukainya. Namun, Fradya tidak ingin dianggap sebagai pelakor yang nantinya di sebut sebagai perusak rumah tangga orang lain. Maka itu, ia menjalin hubungan sewajarnya saja dengan kawan dari bos-nya ini.
[ Anak-anak saya sudah cukup kok. Menghidupi kamu sekeluarga juga saya masih sanggup. ] Faruq menantang Fradya. Menunjukkan segala kemampuannya. Mungkin jika gadis yang ia ajak chatting ini tau jumlah harta serta tabungannya di bank. Mungkin, biji bola mata Fradya yang besar itu akan menggelinding keluar dari rongganya.
[ Mas, bisa aja. ] Fradya hanya membalas singkat. Ia tak tau harus menjawab apa. Semakin hari Faruq semakin menunjukkan perasaan serta keinginan terhadapnya. Kalimat-kalimat yang di lontarkan seakan melambangkan sesuatu.
Sedang asik melamun sambil menunggu balasan selanjutnya dari Faruq. Dya mendengar sebuah teriakan kencang dari emak di dapur.
"Dyaaaa! Lu jangan maen hape aja! Bantuan Mak masak sini!" teriak Kokom sambil berkacak pinggang. Hingga Fradya menghampirinya pun ia masih saja memasang wajah kusut.
"Udah malem, Mak. Ngapain sih teriak-teriak," protes Fradya dengan suara dan nada yang lembut. Meksipun hatinya kesal bukan main. Tapi dia masih lihat malu dengan para tetangga.
"Biarin aja. Biar lu tuh tauk. Emak Ama bapak lu udah melem gini aja masih berkutat di dapur demi apa! Elu enak-enak aja maen hape di atas kasur." Wajar Kokom kesal, karena setiap mendapat pesanan katering dari karyawan kantor, maka ia dan juga Jamal suaminya akan bergadang untuk memasak.
"Emak Ama bapak kan udah biasa. Lah, Dya kan harus kerja besok. Kalo nanti ngantuk gimana Mak. Kulit Dya juga nanti bisa kusen kalo bergadang," rengek Fradya menolak perintah dari Kokom. Apalagi, Dya merasa suhu di dapur amatlah panas dan tidak akan baik untuk kulitnya yang lembut seperti pantat bayi ini.
"Tuh, Pak. Dengerin anakmu! Kerja gaji kecil aja cuma cukup buat beli skin care! Mana tau dia soal beras dan listrik yang digunakan buat ngecas hape itu!" teriak Kokom makin kencang. Jamal tak bisa berkutik, ia tak bisa meredam kemarahan istrinya Karena yang ada nanti jatahnya dipangkas. Bisa gawat untuk kesejahteraan serdadu garis depan.
Tanpa banyak bicara, Fradya berlalu kembali ke dalam kamarnya. Mengambil sesuatu di dalam tas kemudian balik lagi ke dapur.
"Nih, kalo yang emak permasalahkan. Duit kan! Tuh aku kasih satu juta!" ketus Fradya seraya menyerahkan beberapa lembar uang merah dan biru yang baru ia tarik dari ATM tadi siang. Rencananya mau buat tukar tambah ponsel. Tapi mendengar ocehan dari emak. Membuat telinganya sakit.
__ADS_1
Ia pun merelakan uang jajan yang baru saja diberikan oleh Faruq, kemarin lagi. "Tau gini, aku terima aja tawaran Mas Faruq. Huh! Bures deh simpenan aku," sungut Fradya seraya berlalu kembali ke dalam kamarnya. Ia meninggalkan emak yang wajahnya berseri-seri ketika menerima uang darinya.
"Banyak juga duit, Dya, Mak. Apa gajinya naik ya anak itu?" tanya Jamal yang berniat mengambil selembar uang berwarna merah. Tapi, dengan cepat, Kokom sudah menarik uang-uang, itu dan memasukkan dengan cepat ke dalam saku dasternya.
"Mungkin ini uang simpanannya, Pak. Ternyata kudu aku mencak-mencak, dulu ya, baru tuh anak mau keluar duit," kekeh Kokom, seraya kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Seneng deh! Bagi Bapak dong selembar, buat udud!" pinta Jamal. Seraya mencolek dagu Kokom, berniat merayu.
Kokom langsung merogoh kembali saku dasternya, kemudian menyerahkan selembar uang pada suaminya itu. "Nih!" serahnya.
"Dih, ceban! Ogah!" tolak Jamal. Ia tak kan mau di akali lagi lelah istrinya ini. Lagipula dia akan juga capek membantu goreng-goreng.
"Ceban dapet rokok enam batang. Lumayan! Gak aku, aku ambil lagi nih!" Kokom sudah mengulurkan tangan untuk meraih kembali uang yang ia meletakkan di atas meja. Tapi gerakan Jamal lebih cepat. Meskipun sambil menggerutu, tetap saja pria berkumis itu memasukkan uang tersebut ke dalam saku celananya.
Sementara itu, Faruq masih berada di balkon. Menunggu Fradya kembali membalas chatnya. Berharap Hawa tidur lebih dulu, agar dia bisa menghubungi gadis muda tersebut.
Ternyata di atas tempat tidur, dan di balik selimutnya, Hawa sempat melirik ke arah suaminya berada. Ia merasa tak enak hati. Karena keinginan Faruq terhenti karena keadaan dirinya yang tidak enak dilihat saat ini.
Hawa mendekat, Faruq tetap tak bergeming karena memang dia sedang asik chattingan. Hingga, posisi Hawa sudah berada di belakang Faruq albani. Hawa menatap punggung kekar yang terekspos itu. Karena memang suaminya tidak mengenakan baju atasan.
"Maafin, Hawa ya Bang," ucap Hawa lembut seraya melingkarkan lengannya di pinggang Faruq. Mendapat perlakuan tiba-tiba itu membuat Faruq lantas kaget. Ia pun langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Kamu ngapain sih? Udah tidur sana!" usir Faruq seraya melerai pelukan Hawa pada perutnya. Bahkan, ia bisa merasakan perut buncit Hawa yang besar menyentuh pinggang bagian belakangnya. Membuat dirinya kembali teringat, bagaimana bentuk dan penampakan tubuh istrinya itu.
"Abang juga ngapain? Mana gak pake baju. Kalo nanti masuk angin gimana?" tanya Hawa masih dengan nada bicaranya yang lembut.
"Aku lagi cari angin. Karena keinginanku itu gak kesampaian. Kaku bisa bayangin kan gimana pusingnya kepalaku!" tukas Faruq menanggapi ucapan lembut istrinya dengan nada bicara yang cukup tinggi. Menyikapi sikap suaminya itu, Hawa hanya bisa mengusap dadanya sendiri sambil menghela napas panjang.
"Makanya, Hawa minta maaf Bang. Insyaallah, besok aku mau konsultasi dengan dokter kandungan aku. Mau minta resep oil atau salep yang bisa menghilangkan bekas stretchmark itu juga menghaluskan kembali kulit aku. Meskipun, tidak akan kembali seperti ketika aku belum hamil. Karena, ini memang pengaruh hormon Bang. Bukan karena--"
__ADS_1
"Halahh! Aku males denger alasan kamu. Aku gak butuh itu. Aku gak mau tau soal hormon hamil atau apalah itu. Aku capek, aku mau tidur di kamar sebelah! Kamu, tidur aja sendiri!" sanggah Faruq tidak mau mendengar penjelasan dari Hawa.
Karena setau dia, kehamilan sebelumnya sama sekali tidak menganggu kenyamanannya dalam bercinta. Bahkan, ia semakin berselera dan bergairah acapkali melihat Hawa dengan perutnya yang buncit itu. Semakin seksi baginya. Tapi, tidak kali ini. Hawa bagaikan raksasa dengan tubuh dan perut yang juga besar.
Hawa kembali mengucapkan istighfar secara perlahan. Mencoba menerima dan mengerti perlakuan Faruq terhadapnya.
"Semoga ada jalan, ya Allah. Agar Abang kembali berhasrat melihat Hawa. Jangan hukum aku karena ini ya Allah. Hawa tidak sengaja dan dibuat-buat ketika tidak menyukai wewangian itu. Kau yang paling tau ya Allah," lirih Hawa, seraya menekan dadanya kuat. Mencoba bertahan dengan sesak yang menyelimuti hari-harinya belakangan ini.
___________
Di kantor.
"Maaf, Bro. Muke lu kusut gitu?" tegur kawan Faruq yang merupakan partner kerjanya juga.
"Ya gimana lagi, Bro. Bini gue hamil gede kan. Lu tau lah gimana sengsaranya. Lu udah punya bini juga," jawab Faruq seakan dirinya sangat menderita. Karena memang iya dia tak nyenyak tidur semalaman. Tapi, karena terus membayangkan sesuatu yang besar di tubuh Fradya.
"Lagi capek kali, Bro. Kan Bu Hawa makin sibuk semenjak naik jabatan."
"Tapi, bini gue kayak sengaja, biar gue gak sentuh dia " tukas Faruq.
"Yang sabar, Bro. Emang istri kalo lagi hamil besar kurang bergairah. Apalagi udah mendekati HPL gitu. Pasti dia juga stress, Bro," terang kawan Faruq yang bernama Roni itu.
"Sok tau lu, Ron!" tukas Faruq seraya berlalu meninggalkan kawannya itu. Entah dia mau pergi kemana.
Sementara, pria yang bernama Roni hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Faruq sudah sampai di atas roof top gedung perusahaan tersebut.
"Awas aja kamu, Hawa. Jangan salahkan aku." Faruq mengeluarkan ponselnya.
__ADS_1
"Halo cantik! Bisa nemenin, Mas nanti malam?"
...Bersambung ...