
"Kau kenapa?" Faruq mendekati Hawa. Melihat istrinya itu memegangi kepala. Ia pun sadar telah keterlaluan.
"Sudah, jangan dipikirkan dulu. Lupakan yang ku katakan. Kita akan membicarakannya setelah kau pulih saja. Sekarang, istirahatlah." Faruq mengecup singkat kening Hawa, dan menaikkan selimut ke tubuh istrinya itu. Karena AC di dalam ruangan tersebut cukup dingin.
Hawa memalingkan wajahnya, enggan bertatapan langsung dengan Faruq Albani. Sejak beberapa jam yang lalu, sebelum ia merasakan kontraksi, Suaminya ini selalu saja menyudutkan dirinya. Seakan apa yang terjadi semua salahnya. Bukankah sudah jelas bahwa apa yang ia rasakan real, tanpa di buat-buat.
Setengah mati ia mencoba, menepis semua rasa mual dan pusing demi menyenangkan Faruq. Tapi apa yang terjadi kemudian bukanlah keinginannya. Hawa tak mampu bertahan lebih lama dengan rasa yang mengaduk kuat perutnya.
Berharap, Faruq mengerti keadaannya, tapi pria itu justru marah dan murka. Hawa paham, jika Faruq tersiksa. Karena ia tau jika suaminya itu memiliki gelora serta hasrat seksual yang tinggi. Ia akan menjadi pria dengan temperamental tinggi jika keinginannya itu tidak tersalurkan.
Apa Abang sudah menemukan tempat penyaluran hasrat lain? Kenapa dia bisa lebih tenang, bahkan tersenyum meski sedikit dan aku tau di paksakan. Tapi, biasanya ia akan terus marah hingga laharnya berhasil tumpah. Apakah setelah melantunkan adzan di telinga bayi kami, dia menjadi lebih tenang dan sadar?
Hawa, berkutat dengan berbagai pertanyaan di dalam hatinya. Ia bukannya tak ingin bertanya langsung. Akan tetapi, tenaganya belum pulih total. Hawa lebih memilih kembali memejamkan matanya.
Beberapa hari berlalu.
Kondisi Hawa telah lebih baik. Tentu saja, karena ia menggunakan proses operasi sesar yang memiliki fasilitas utama, dengan harga yang cukup fantastis. Apalagi, Hawa menggunakan kamar perawatan tipe Hinggap suite room. Hingga pemulihannya pun memakan biaya yang tidak sedikit. Jadi, wajar saja jika Hawa sudah bisa beraktifitas seperti biasa. Ia bahkan, tidak nampak seperti habis melahirkan.
__ADS_1
Namun, hal itu berdampak pada kelakuan Faruq yang seakan tidak mengerti kondisinya. Hingga, penolakan Hawa telah menjadi makanan sehari-hari bagi, Faruq.
"Tolong, Bang. Mengertilah. Aku baru saja menjalani operasi sesar tiga pekan lalu. Darah nifas ku pun belum bersih benar. Kenapa kelakuan Abang seperti orang yang tidak mengerti agama," sarkas Hawa, ia lelah bermanis mulut lagi dengan suaminya ini.
Sudah tak pernah ikut bergadang mengurus putranya. Setiap saat selalu menganggu Hawa demi mendapatkan jatahnya. Padahal, Hawa selalu menawarkan alternatif lain demi memuaskan hasratnya. Akan tetapi, Faruq seakan tidak puas, sehingga ia terus-menerus merongrong, istrinya itu.
"Pandai sekali mulutmu berbicara sarkas, Hawa. Kau jangan merasa lebih tinggi dariku! Aku hanya ingin menuntut hak sebagai suami. Aku hanya latihan darimu yang semakin lama semakin berkurang. Apa itu melanggar peraturan serta hukum agama!" hardik Faruq kesal. Ia bahkan menatap Hawa dengan sorot mata yang memerah.
"Abang, menuntut hal yang tidak semestinya ku kabulkan. Abang selalu menuntut perhatian tanpa memberi pengertian pada keadaanku. Kau selalu hanya mengingat hakmu, tapi tidak dengan kewajibanmu, Bang!" Hawa pada akhirnya juga berbicara menggunakan nada tinggi. Karena sejak tadi Faruq terus meneriakinya.
"Menindas? Siapa yang sedang menindasmu Bang? Jangan memutar balikkan fakta. Abang yang selama ini menekan diriku, dengan menuntut segala hal yang belum mampu aku lakukan! Abang sadar tidak? Abang sudah mendzolimi istri sendiri. Bahkan, bayi yang ada di dalam kandunganku. Kini, dia lahir pun kurang perhatian darimu, Bang. Apa kau sadar itu!" Hawa semakin menjerit. Hormonnya belum lah stabil. Hingga, dirinya belum mampu menekan emosi seperti biasanya.
"Kau berani berteriak padaku, Hawa. Berteriak kepada suamimu sendiri!" Faruq yang terpanggil geram telah melayangkan telapak tangannya ke atas. Hawa memejamkan matanya menunggu tamparan itu mengenai pipinya.
Alan tetapi, ia hanya mendengar deru napas dari Faruq. Ketika Hawa memberanikan diri untuk membuka kedua matanya, ia melihat Faruq tetap di posisi yang sama. Perlahan pria itu menurunkan tangannya. Mengepal erat dengan tatapan menghunus.
Bisa bahaya urusannya kalo gue sampe kasar sama dia. Di sini harusnya gue yang jadi korban, bukan Hawa. Liat aja nanti. Gue bakal buat lu nyesel Wa. Lu udah mulai berani ngelawan sama gue sekarang.
__ADS_1
Faruq tiba-tiba pergi keluar dari kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
" Selalu saja begitu ketika kita bertengkar, Bang. Kau akan pergi tanpa solusi dan penyelesaian dari masalah kita. Besok dan seterusnya kau akan mencari masalah yang baru. Hingga, semuanya menjadi menumpuk tanpa terselesaikan. Mau sampai kita begini? Dimana, Faruq yang dulu ku kagumi? Kenapa kau berubah?"
Hawa, terduduk lemas di pinggir kasur. Menatap nanar pada bingkai foto cukup besar yang terpasang di tembok kamarnya.
"Kapan kita akan merasakan kebahagiaan pernikahan seperti dulu lagi?" Hawa terisak pelan, semakin lama ia semakin tergugu. Menelan dadanya kuat, karena rasa sesak itu selama menahan napasnya. Hari-harinya kini lebih sering dihabiskan melalui pertengkaran serta perdebatan dengan suaminya.
Faruq terlihat pergi buru-buru. Rahangnya juga terlihat kaku bagaikan bongkahan besi. Wajahnya semakin hari terlihat garang. Tak lagi seperti Faruq ketika pertama kali ia menginjakkan kaki di kediaman Hawa ini.
"Perempuan sialan! Udah berani mojokkin posisi gue! Gue harus cari cara, biar bisa pergi dari istri gak berguna itu. Tapi, gue harus main pinter biar gak rugi." Faruq, menyeringai sinis, kemudian meriah ponsel dari sakunya.
"Halo, Dy. Bisa ketemuan kan. Mas mau ngajak kamu shoping."
Senyum di wajah pria ini mengembang setelah ia mendapatkan jawaban dari wanita di ujung telepon. Kemudian lanjut menjalankan kendaraan mewahnya itu melaju dengan kencang.
...Bersambung ...
__ADS_1