
Sementara Hawa tengah memendam gelisah, serta haus akan perhatian dari suaminya yang akhir-akhir ini terasa sangat berkurang. Faruq terlihat bersenang-senang di sebuah kafe. Ia hanya minum kopi hingga beberapa cangkir. Tidak seperti kawannya yang menenggak minuman alkohol kaleng.
"Bosen gue main bilyar. Mabar ML aja nyok!" anak salah satu kawannya yang juga bekerja di tempat yang sama.
"Oke siap! Gue abis top-up satu juta. Biar bisa beli skin yang keren!" ujar Faruq jumawa.
"Ck. Sultan Laen dah emang!" celetuk karenanya yang kesal karena kesombongan Faruq.
Mereka pun bermain dengan seru meskipun saling mengumpat satu sama lain. Meskipun ada beberapa wanita menawarkan diri mereka untuk menemani, tetap saja Faruq selalu menolaknya.
"Hei wanita! Jangan menggoda dia!"
" Orang Soleh mana mau sama kamu!" ledek beberapa kawan Faruq yang memang mengetahui kesetiaan pria itu terhadap istrinya. Tidak tau saja mereka bagaimana tabiat pria alim itu sebenarnya.
"Sini, godain kita aja!" celetuk salah satu pria yang duduk di sisi Faruq.
"Ih, ogah deh! Kalian mah kagak ada duitnya!" Setelah berkata dengan ada meremehkan wanita itu pun pergi berlalu meninggalkan para pria yang sedang bermain game online ini.
"Anjirr! Sombong banget tuh cewek. Body rata aja juga! Masih bohay bini gua!" kesal pria yang di remehkan tadi. Dia memang hanya bawahan dari Faruq. Gajinya hanya UMR kota, termasuk kecil memang.
"Bang. Kagak balik? Udah mau tengah malem?" tanya salah satu anak buah Faruq yang merupakan kawannya juga. p
"Males di rumah juga!" jawab Faruq gemas karena sambil bermain game.
"Bininya lagi hamil gede. Jadi ubi jalarnya nganggur dulu!" ledek kawannya yang lain.
"Sialan lu pada!" kesal Faruq hingga berimbas membantai semua kawannya dan mereka pun serentak kalah dalam game tersebut.
__ADS_1
"Lah dia ngamuk!"
" Ah, gak adil lu Bang!" Beberapa dari mereka pun membanting ponsel ke atas meja. Karena kalah saat sedang seru-serunya.
"Lu pada juga bakal ngerasain nanti, kalo bini lu pada bunting!" ketus Faruq kesal. Karena para anak buah yang juga merupakan kawannya ini meledek tak henti-hentinya sejak tadi.
"Lah emang kenapa, Bang? Bini saya kalo lagi hamil justru semakin menggairahkan," tukas Banu. Dia salah satu kawan SMA yang diajak Faruq bekerja.
"Iya, Bang benar tuh. Auranya kan beda. Apalagi kalo udah bulannya ... malah disuruh sering-sering," kekeh Roni, tanpa memperhatikan wajah Faruq yang sudah menghitam lantaran sebal.
"Tapi emang sih. Mereka jadi malas melayani kita. Mungkin karena emang perutnya udah gede dan capek juga. Ya, diomongin aja Bang gimana enaknya. Jadi, muka Abang kagak kusut gitu," usul Eman. Salah satu pria yang hampir seumuran dengan Faruq. Lebih bijak dari yang lain.
"Halah, kalian semua sok tau!" sembur Faruq kencang, membuat ketiga pria itu terdiam.
"Kalian gak tau penderitaan yang coba gue tahan kayak apa? Semua gue tahan seorang diri. Kenapa gue pulang malem? Sengaja! Karena gue gak mau nanti dia itu terbeban karena belum bisa ngasih hak gue sebagai suaminya. Kalo kalian jadi gue udah pasti pada masuk rumah bordil lu!" Lagi-lagi para kawannya itu terdiam. Mereka pun akhirnya paham, Kenapa belakangan ini, sang Sultan lebih sering menghabiskan waktunya bersama mereka.
Diam kan lu pada! Masa iya gue bilang kalo Hawa udah gak menarik karena pikiran gue ke Fradya melulu. Huh! Bisa rusak image dan kredibilitas gue nanti di kantor dan di komunitas.
"Gue mau balik! Biasanya jam segini bini udah tidur," ucap Faruq, seraya meraih jaket serta kunci mobilnya.
Mereka semua pun membubarkan diri dari kakek tersebut, di saat jarum jam di dinding menunjukkan pada angka dua belas lewat.
Hawa pun akhirnya ketiduran. Padahal sudah sengaja menghias tempat tidur serta merias dirinya. Ia ingin memanjakan Faruq. Hal yang mungkin akhir-akhir ini sangat jarang sekali ia lakukan. Hawa, ingin menjaga keharmonisan hubungan terhadap suaminya itu.
Tanpa terasa waktu sudah pagi. Hawa terbangun lebih dulu tanpa ada Faruq di sisinya. Tak lama kemudian ia mendengar ketukan pada pintu.
"Loh, Abang tidur dimana?" tanya Hawa yang kaget melihat sosok suaminya berdiri di depan pintu kamar dengan wajah bantalnya.
__ADS_1
"Aku tidur di kamar anak-anak," jawab Faruq asal seraya menyingkirkan tubuh Hawa dengan dorongan lumayan kuat. Hawa terhuyung karena dirinya juga baru saja bangun dari tidur. Bagus saja terdapat dinding di belakang tubuhnya. Hingga ia tak terjatuh, hanya punggungnya yang terbentur.
"Abang. Bisa lembut tidak? Aku ini sedang hamil. Kenapa kau kasar sekali?" pekik Hawa yang entah mendapat keberanian darimana, hingga berkata dengan nada tinggi pada suaminya ini.
"Gak usah lebay! Kamu gak kenapa-kenapa juga. Sudah! Aku mau mandi!" Faruq tidak berniat meminta maaf, tapi justru seakan menghindar dari rasa bersalahnya. Entah kenapa semenjak bertemu dengan Fradya, ia merasa gampang kesal dengan istrinya ini. Apalagi, Hawa terhadang tak bisa memenuhi hasratnya di saat ia membutuhkan.
Tidak seperti ketika mereka berdua baru menikah. Hubungannya sangat manis, harmonis dan hangat. Bahkan cenderung panas setiap hari. Hingga, akhirnya jabatan Hawa semakin tinggi dengan kesibukan serta gaji yang juga semakin di atasnya.
Hawa seakan memiliki bermacam alasan untuk menunda permintaannya. Padahal, Faruq adalah tipe pria yang pantang ditolak. Baginya, sekarang ya harus sekarang. Tidak ada nanti atau lain kali. Semua takkan sama.
Kau sangat egois Bang. Semakin hari semakin menjadi. Apakah yang kulakukan selama ini justru membuatmu besar kepala?
Hawa menekan dadanya kuat. Mencoba menerima sikap kasar Faruq padanya. Ia masih sabar dan selalu sabar. Berharap, setelah kelahiran buah hati mereka semua akan kembali seperti semula. Hubungannya dengan Faruq akan kembali hangat dan penuh gelora.
Seperti biasa, setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, Faruq akan mengantar kedua putrinya terlebih dahulu. Karena jalur kantor dua anaknya itu satu arah. Sementara, kantor tempat hawa bekerja lebih jauh. Semenjak mereka menikah, pemimpin perusahaan memindahkan keduanya. Namun, mereka tetap bekerja pada satu naungan perusahaan yang sama. Hanya beda kantor saja.
"Yah, kenapa sekolah kita gak satu arah sama, Bunda aja? Aku mau berangkatnya bareng bunda!" protes putri k dua Faruq yang bernama , Tania.
"Mana bisa? Di sana itu tidak ada sekolah yang sebagus tempat adek sekarang. Di daerah sana hanya ada sekolah negeri. Sekolah kamu kan sekolah dasar IT. Mahal dan hanya untuk kalangan tertentu," jawab Faruq lugas. Namun, ucapannya itu di sanggah oleh Puteri pertamanya.
"Ayah gak boleh ngomong gitu ke adek. Bunda emang sengaja menyekolahkan kami di sekolah yang memang banyak ilmu agamanya. Bukan karena mahal ataupun bergengsi," tutur Rania. Putri pertamanya itu memang terlihat memiliki pemikiran yang dewasa dibandingkan dengan umurnya. Tutur bicaranya selalu lembut dan sopan. Rania memiliki sifat yang lebih banyak menurun dari istrinya, Hawa.
Berbeda dengan Tania gadis kecilnya, yang sedikit menuruni sifat Faruq. Dimana apa yang Tania inginkan harus terjadi apapun caranya. Tanpa memikirkan bagaimana perasaan terhadap orang lain. Karena itu, Hawa kagak keras kepada, Tania.
Namun, Faruq yang merasa seakan memiliki teman, terus saja menuruti apapun keinginan Tania. Apalagi ia pikir hal yang diminta oleh putrinya itu mampu untuk ia kabulkan.
"Biar saja. Karena memang begitu kenyataannya. Kami harus memikirkan image. Kau harus paham itu, Rania. Penilaian orang lain terhadap kita itu sangat penting, untuk menunjang kehidupan kita ke depan!" tegas Faruq membuat Rania dan Tania diam.
__ADS_1
Maaf Kak. Karena aku, Ayah jadi marah sama kakak.
...Bersambung ...