Godaan Daun Muda

Godaan Daun Muda
Bab. 23. Kemarahan Samudera.


__ADS_3

Sementara itu, seorang pria yang pada kenyataannya berstatus suami, tidak tahu sama sekali atas apa yang terjadi dengan istrinya sendiri. Ia tidak tahu jika ada perempuan yang sedang berjuang melahirkan penerusnya. Ia tidak sadar jika saat ini ada seseorang yang sangat membutuhkan kehadirannya.


Nyatanya, pria itu asyik memikirkan kebutuhannya sendiri. Dengan segala keegoisannya, ia merasa bahwa dirinya menderita, kurang pengertian serta kurang perhatian dari istrinya yang jelas-jelas sedang hamil itu.


Hingga, pria itu menjerumuskan orang lain untuk berbuat dosa dengannya. Dengan dalih menolong keadaannya yang sangat emergency. Seakan, ia akan mati jika tidak melakukan hal itu. Padahal, Hawalah yang saat ini sedang berada di posisi antara hidup dan mati.


"Mas, Kenapa lama sekali. Bagaimana kalau ketahuan. Dya juga lelah," lirih gadis yang masih memainkan tangannya di bawah perut Faruq.


Faruq tak mampu menjawab karena pria ini sedang menikmati dan merasakan apa yang telah dilakukan oleh, Fradya.


Meskipun, Fradya tidak melihat miliknya. Karena gadis itu menolak. Bahkan, Fradya menggunakan sarung tangan medis tadi. Tapi, Faruq menolaknya dan sedikit memaksa agar Fradya menggunakan tangan tanpa lapisan apapun.


Tak lama kemudian terdengar geraman tertahan, karena Faruq telah menyumpal sesuatu di mulutnya. Ia tidak mau jika orang sekampung mengetahui keberadaannya dari teriakan yang kencang.


"Iuhh ....!" pekik Fradya jijik. Gadis itu langsung berlari ke belakang rumahnya melalui samping. Membersihkan tangannya seraya menetralkan debaran jantungnya. Ia sangat takut ketika melakukan perbuatan tidak senonoh itu.


Akan tetapi melihat permohonan dari Faruq, dirinya sungguh tidak tega. Apalagi, pria itu baru saja melepas beban keluarganya.

__ADS_1


"Dya!"


"Akh!" Fradya, memekik ketika Faruq menyentuh bahunya. Langsung saja, Faruq membongkar mulutnya menggunakan telapak tangan. Pria itu menengok kiri kanan serta ke belakang. Berharap tak ada orang lain selain mereka di sana.


"Mas, kau mengagetkanku saja," bisik gadis itu lirih.


"Mas mau pulang. Terimakasih, atas bantuanmu tadi. Entah, kalau kamu tidak bersedia mungkin Mas sudah sekarat," ucap Faruq lirih. Pria itu terlihat berkata dengan nada penuh penyesalan.


"Apa tidak termasuk penyakit baru ya Mas?" tanya gadis Itu polos.


"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Mas sudah merasa lebih baik saat ini. Mas, akan memberi hadiah untuk kamu dan juga keluargamu besok. Sekarang, Mas pamit pulang dulu ya!" Faruq pun melambaikan tangannya pamitan. Sebenarnya ya ingin mencium Gadis itu kembali akan tetapi, ya takut jika Fradya curiga, bawa apa yang dikatakan yang tadi itu hanyalah bualan semata.


"Pak maaf, Pak! Ibu Hawa masuk rumah sakit." Sontak saja ucapan dari penjaga rumahnya tersebut membuat dirinya kaget sekaligus panik.


"Apa, Ibu mau melahirkan? lalu dengan siapa ke sana?" cecar Faruq tanpa keluar dari mobilnya. Karena penjaga sudah menghentikannya ketika kendaraan tersebut baru separuh badan masuk ke dalam.


"Sama kakek Samudera, Pak. Beberapa pelayan juga ikut kesana. Tapi, Nona Rania dan Tania tidak ikut," jelas sang penjaga yang berkepala pelontos itu.

__ADS_1


Tanpa menjawab, Faruq kembali menyalakan mesin mobil. Ia pun memundurkan kendaraan roda empatnya itu dan segera melaju untuk menyusul Hawa ke rumah sakit.


"Mampus dah gua! Pas, bini ngelahirin malah kagak ada. Pasti bapak mertua marah ini," gumam Faruq seorang diri di depan kemudi. Ia bahkan mengendara bagaikan orang kesetanan.


Wajahnya kaku, karena Ia berpikir keras mencari alasan agar dapat menjawab pertanyaan dari Samudera nanti.


"Papa ...," panggil Faruq dengan napas yang terengah-engah.


"Kau ini dari mana saja! Keterlaluan! Pergi dari rumah tengah malam bahkan ponselmu juga tidak aktif!" Samudera mengeluarkan semua rasa kesal dalam hatinya yang telah Ia tahan sejak tadi. Habis Faruq ia sembur dengan segala ocehan dan petuah. Hingga, tanpa sepengetahuan mertuanya itu, tangan Faruq mengepal kuat pertanda benci dan dendam kesumat.


Pria tua sialan! Semua ini juga gara-gara anak lu. Dia yang gak bisa melaksanakan kewajibannya ke gua. Seenaknya aja lu limpahin semua kesalahan ke gua! Lagian ngurus Hawa bukan kewajiban gua aja kan.


Faruq hanya bisa mengungkapkan umpatan dan protes itu dalam hatinya saja.


Ia tak suka sejak awal pernikahannya, Samudera selalu ikut campur urusan rumah tangganya. Pria mualaf itu selalu sok tau tentang agama. Padahal, dirinya yang Islam sejak lahir saja tidak seribet itu. Sampai pasal sekolah kedua anaknya pun Samudera yang memilihkannya.


"Maaf, Pa. Tadi kami berdua sempat berdebat. Lalu aku memutuskan untuk keluar saja, nongkrong di kafe sama teman-teman. Lupa, gak bawa ponsel," dalih Faruq.

__ADS_1


"Alasan yang tidak masuk akal!"


...Bersambung...


__ADS_2