Godaan Daun Muda

Godaan Daun Muda
Bab 9. Kelakuan Faruq Ketika Hawa Sakit.


__ADS_3

Faruq menjemput Hawa tanpa bicara sedikitpun. Dia masih terlihat kesal karena rencananya berantakan. Apalagi keadaan Hawa lemah seperti ini.


Pasti nanti malam dia akan memiliki alasan untuk menolak permintaanku. Kau itu lelah bukan karena kebanyakan kerja. Tapi karena sudah tua.


Faruq terus menggerutu dalam hatinya. Ia seperti separuh hati mengurus istrinya yang sedang lemah ini.


"Abang, tau gak kenapa aku pingsan tiba-tiba?" tanya Hawa dengan senyum yang ditahan. Ia tak menyadari bahwa Faruq suaminya ini sedang kesal padanya. Karena memang Faruq yang selalu berpura-pura baik dan memasang senyum di wajahnya. Padahal dalam hati dia mengomel tak karuan.


"Kamu pasti kelelahan. Makanya jangan semua proyek diambil. Ukur kemampuan dirimu sendiri. Ingat, bagaimanapun, kamu masih punya tanggung jawab utama terhadap suami dan anak," tukas Faruq.


Sontak, Hawa merasa dadanya sakit. Karena ucapan Faruq barusan seakan menikam hingga ke dalam jantungnya. Padahal selama ini dirinya belum pernah melalaikan tugasnya sebagai seorang istri dan juga ibu.


Padahal, sebenarnya ada hal membahagiakan yang ingin Hawa sampaikan kepada suaminya ini. Namun, melihat kondisi mood suaminya yang kurang baik. Hawa mengurungkan niatnya.


Mungkin lain kali aja aku ngomongnya. Lagipula, belum pasti juga. Meskipun, dokter mengatakan kemungkinan itu besar.


"Iya, Bang. Insya Allah, semua projek cepat selesai dan aku bisa ambil cuti panjang," jawab Hawa. Ia memilih untuk mengalah agar tidak memperpanjang masalah. Bukankah, salah satu pasangan harus begitu. Mengalah dan merendah agar hal sepele tak meluas dan melebar.


"Istirahatlah, aku ingin keluar!" ucap Faruq tanpa menoleh lagi ke arah Hawa yang kini sudah berada di sisi tempat tidur.


Mulutnya sempat terbuka, akan tetapi, Hawa menelan kembali pertanyaan yang hendak ia lontarkan pada suaminya itu. Sesungguhnya, para lelaki itu tidak suka dan nyaman jika pasangan mereka banyak tanya dan terlalu mencecar. Karena itu, Hawa memilih untuk percaya saja lada apapun yang akan dilakukan oleh suaminya di luar sana.


Hawa hanya ingin menenangkan hati dan serta pikirannya. Karena itu wanita yang mengenakan pakaian syar'i untuk menutup seluruh tubuhnya ini berusaha berpikir secara positif. Tak lupa ia memohon doa dan perlindungan terhadap rumah tangganya pada sang pemilik kehidupan.


Baru memejamkan mata sebentar, Hawa mendengar sayup-sayup suara memanggil dirinya. Bahkan, tubuhnya pun ikut di guncangkan.


"Ma, Ma ...!" panggil Tania. Gadis kecil kelas empat SD ini, masuk ke kamar Hawa masih dengan seragam muslimnya. Sepertinya gadis ini baru pulang mengaji.


"Tania ...?" Hawa berusaha membuka matanya walaupun berat. Entah kenapa, kepalanya justru semakin pusing saja. Bahkan, perutnya pun terasa di aduk-aduk.


"Mama sakit ya?" tanya putri kecilnya ini pelan. Terlihat sekali nada khawatir yang nampak di wajahnya yang manis.

__ADS_1


"Mama cuma kecapean mungkin. Adek baru pulang ngaji ya?" tanya Hawa, seraya berusaha bangun untuk duduk.


"Mama bobo aja lagi. Kirain adek tadi, Mama kenapa. Soalnya kayak gak napas," tutur Tania dengan Isak yang terlihat ia tahan.


"Ah, masa iya sayang. Ya Allah!" Hawa menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Ia tau, putrinya itu sangat menghawatirkan dirinya. Hawa sangat bersyukur karena memiliki putri yang sayang padanya. Meskipun, ia jarang memiliki waktu untuk mereka.


Tania pun akhirnya menangis di dalam pelukan sang mama. Gadis kecil itu memeluk wanita yang melahirkannya dengan proses sesar begitu erat.


"Mama baik-baik saja sayang. Kamu jangan sedih lagi ya," ucap Hawa lembut, seraya mengusap pelan kepala puterinya yang berbalut kerudung. Tania pun mengangguk pelan, lalu melerai pelukan posesifnya itu pada sang mama.


"Kakak mana?" tanya Hawa mengenai keberadaan putri pertamanya.


"Masih setor hafalan pada ustadzah Nur, Ma. Hawa pulang lebih dulu karena tiba-tiba aja kepikiran, Mama. Ternyata benar, Mama sakit," jawab Tania kembali terisak.


"Masyaallah, sayang." Hawa kembali menarik Tania kedalam pelukannya. Hati orang tua mana yang tidak terharu dan trenyuh ketika mendapat perhatian begini besar dari buah hati mereka.


Maafin, Mama sayang. Karena tidak memiliki waktu banyak untuk kalian. Sungguh, semua ini mama lakukan karena mama ingin memberikan pendidikan terbaik bagi kalian. Mama ingin, ilmu yang Mama miliki berguna untuk banyak orang. Seandainya kalian tau, banyak hidup yang bergantung dari apa yang kita miliki. saat ini.


"Mana Yeye?" tanya Hawa lagi. Karena seharian ini ia belum melihat keberadaan sang ayah. Padahal pria itu, sedang tidak ada agenda kunjungan kemana pun.


"Di mushola Ma. Yeye biasa di sana kalau lagi ada di rumah," jawab Tania.


Menyadarkan, Hawa bahwa sang papa memiliki musholla besar yang terletak tak jauh dari tempat tinggal mereka. Papanya pasti akan menengok secara berkala. Tak jarang, pria Tionghoa itu juga membantu dalam perihal kebersihan.


"Mama mau, turun. Mau siapin makan buat kamu." Hawa sudah menurunkan kedua kalinya, akan tetapi Tania menahan tubuhnya.


"Gak usah. Nanti biar bik Sum, aja. Mama kan harus istirahat. Nanti, Tania suruh bik Sum antar makanan dan teh hangat ya. Mama diam-diam di sini," ucap Tania. Membuat Hawa kembali berkaca-kaca. Ia tak menyangka jika putrinya ini begitu peduli padanya. Padahal, intensitas mereka bertemu sangatlah jarang.


Apakah kamu yang mengajarkan ini semua pada putri kita, Bang? Memang aku tidak pernah salah ketika memutuskan untuk memilih kamu sebagai imamku.


Hawa merasa tenang, dan bersyukur kembali. Setidaknya ia tau dan paham sekarang. Bahwa tingkah ketus dan kasar dari Faruq, hanyalah bentuk protes dari suaminya itu terhadap dirinya.

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain.


Pria yang begitu Hawa percaya dengan segenap hati. Kini tengah tertawa riang bersama dua orang wanita remaja dan kawannya Chandra.


"Lu orang gak di cariin bini hah! Udah sore masih main aja di luar?" cecar Candra heran. Setaunya, Faruq adakah pria yang mengerti agama. Selalu menghargai orang lain.


"Wey, Can! Gak usah bawa-bawa status kalo lagi di luar gini. Di rumah kita boleh suami orang. Tapi di luar gini, single. Bro!" ujar Faruq enteng sekali. Sontak hal itu membuat Candra menggeleng. Dan dua pekerjanya tertawa cekikikan.


"Asik nih, Dy. Bisa jadi sumber duit. Lu harus buat dia suka sama elu," bisik kawannya yang bernama Jeni itu.


"Gila lu, Jen. Dia kan lakik orang," sahut Fradya gemas. Karena bisa-bisanya Kawan yang ini memberikan ide seperti itu padanya.


"Tajir gila lu. Dia kayaknya naksir tuh sama elu," bisik Jeni lagi.


Memang, ketika mengobrol dengan Candra. Ekor mata, Faruq sesekali mencuri pandang ke arah Fradya. Cara bicara gadis belia itu, senyum serta tawanya yang ceria, sangat menggugah geloranya. Faruq merasa dirinya seakan kembali muda saat ini. Dadanya berdebar kencang. Sudut bibirnya selalu tertarik untuk melengkungkan senyum.


Gila tuh cewek. Makin lama di liat makin manis aja. Jadi males pulang gue kalo begini. Apalagi di rumah juga punya bini gak bakal bisa di apa-apain.


Faruq asik bicara dalam hati. Hingga, Candra melemparnya dengan pemantik api elektrik.


"Jaga mata lu!" tegur Candra berusaha menyadarkan kawannya itu.


"Pemandangan indah, Bro! Sayang kalo gak di liatin," seloroh Faruq, yang membuat Candra kehabisan kata-kata.


___________


"Kamu sakit, Wa? Suami kamu kemana?" cecar pria bermata sipit dengan warna putih yang dominan pada rambutnya.


"Papi! Bang Faruq--"


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2