Godaan Daun Muda

Godaan Daun Muda
Bab 6. Puber Kedua.


__ADS_3

"Ya Allah, apakah aku pingsan lagi? Sampai tidak membersihkan diri? Astagfirullah," ucap Hawa lirih. Ia membuka seluruh gorden yang kedua matanya semakin melongo. Ketika ia lihat di luar sudah teramat terang. Fajar baru saja menyingsingkan selimutnya untuk menampakkan diri keluar dari balik awan.


"Abang, lama banget lagi mandinya. Mana aku ada rapat sama investor." Hawa terus bermonolog sambil berjalan mondar-mandir. Ia terlihat gelisah karena jarum jam seakan berjalan begitu cepat. Tak tahan, akhirnya ia pun berniat untuk mengetuk pintu kamar mandi.


Kepalan tangan Hawa masih melayang di udara, ketika Faruq, suaminya tiba-tiba keluar dengan menatapnya sinis.


Abang kenapa lagi? Kok terlihat malah marah sama aku? Bukannya semalam sudah aku beri haknya bahkan sampai hampir pagi. 


Hawa yang tak habis pikir, memilih menelaah arti dari tatapan Faruq padanya.


"Ngapain malah bengong di situ? Apa mau aku makan lagi kamu?" tegur Faruq sambil menatap Hawa penuh arti. Napsunya belum benar-benar pergi. Meski semalam sudah menggempur istrinya berkali-kali.


"Ah, enggak, Bang. Bukannya, Hawa mau menolak. Tapi, pagi ini aku ada rapat dengan in--"


"Ya udah, buruan mandi sana!" Faruq memotong begitu saja penjelasan yang hendak Hawa utarakan, bahkan ia mengibaskan tangannya untuk mengusir. Seakan ia tak butuh penjelasan apapun dari istrinya itu.


Hawa yang mulai terbiasa dengan sikap kasar, Faruq. Hanya bisa mengucap istighfar dalam hatinya. Ia sadar jika kesibukannya saat ini sebagai manager baru memang sangat menyita waktu dan mengorbankan kebersamaan dengan keluarga. Tapi, mau bagaimana lagi. Ini semua juga tanggung-jawabnya.

__ADS_1


Namun, itu semua bukan berarti Hawa melupakan tanggung jawab utama sebagai ibu dan juga istri. Ia tetap melayani napsu birahi Faruq yang semakin menjadi semenjak usia suaminya itu menginjak kepala empat.


Benar kata orang-orang, bahwa pria akan semakin beringas dan liar ketika menginjak usia empat puluh tahun. Mungkin inilah yang  dibilang pubertas kedua. Padahal, dalam pandangan agama Islam tidak seperti ini.


Usia empat puluh tahun adalah usia yang matang untuk kita sehingga seharusnya lebih mengerti lagi dalam mengambil sikap. Serta bijaksana dalam memutuskan segala sesuatunya tentang bagaimana masa di depan nanti. Bukan hanya di dunia yang fana tapi lebih menuju pada alam yang abadi.


Usia ini adalah titik balik. Dimana kita seharusnya lebih baik memaknai waktu yang telah kita habiskan di belakang. Apa yang telah kita habiskan di masa muda dahulu. Masa ini adalah  dimana kita seharusnya memperbaiki yang salah dan menambahkan yang kurang. Yaitu ilmu agama serta kebaikan perilaku.


Karena usia ini adalah titik dari pencapaianmu nanti, dimana jika pada masa ini kau baik, maka insyaallah masa tua bahkan akhir hidupmu juga akan ikut baik. Akan tetapi, semua berlaku sebaliknya jika pada masa ini kelakuan dan perangai mu tidak baik. Maka, itu berarti kau telah menghabiskan seluruh waktu usia mu dengan sia-sia. Kau akan susah di ubah menjadi baik seperti apa yang benar-benar Allah sukai. Kecuali, dengan keajaiban yang terjadi atas ijin-NYA.


Mereka berdua kini telah berada di ruang makan. Rania dan Tania hanya tersenyum menyambut kedatangan orang tua mereka di meja makan. Karena mereka sedang mentaati peraturan tak boleh bicara jika sedang makan.


Setelah itu, Hawa beralih pada suaminya dan ia meraih punggung tangan pria itu kemudian mengecupnya dalam. Tak lupa, Hawa juga memberi ciuman pada pipi Faruq. Tapi, Suaminya itu diam saja. Tidak ada adegan yang harusnya di lakukan suami romantis. Hingga hal itu membuat Hawa tersenyum getir. Ia mulai membiasakan diri akan sikap dingin suaminya ini.


Berusaha berpikir positif, mungkin Bang Faruq mau cepat sarapan juga. Batin Hawa.


"Berangkat sama, Papa nanti ya. Assalamualaikum!"

__ADS_1


"Wa'alaikum salam!" ucap ketiga orang yang berada di depan meja makan.


Rania dan Sania meletakkan sendok di atas piring yang telah kosong. Hal itu membuat Faruq semakin mempercepat kunyahannya.


"Papa tenang aja, kita tungguin kok," ucap Rania, putri tertuanya dengan Hawa. Dia anak gadis yang cantik dan manis. Matanya besar dengan bulu yang lentik. Mirip seperti Hawa ketika kecil. Begitulah seperti yang pernah di sampaikan oleh Samudera Lim, mertuanya.


Faruq hanya tersenyum menjawab ucapan putrinya itu. Sementara, Tania Putri keduanya yang bermata sipit. Sangat mirip dengan kontur wajah sang kakek. Kedua putrinya adalah anak yang pengertian dan pintar.


Faruq mengantar sampai pintu gerbang. Bagaimana pun ia menyayangi kedua putrinya itu. Dan memastikan mereka masuk hingga tak terlihat lagi oleh kedua matanya. Barulah ia berangkat at dengan cepat menuju kantor. Faruq biasa ngebut karena ia membawa kendaraan roda empat itu hanya sopir.


"Heh! Kok gak bisa buka chat nih hape. Kenapa lagi." Faruq menepikan kendaraannya tak jauh dari area sekolah. Ia terlihat mengutak-atik ponselnya.


"Yah, pulsanya abis ini mah. Pantesan gak bisa buka email juga. Apa ada counter pulsa dekat sini?" Faruq mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri mencari depot penjual pulsa yang sudah buka. Hari masih pagi biasanya counter akan buka agak siang.


Kedua matanya melebar girang ketika ia menemukan apa yang ia butuhkan. "Ternyata ada yang udah buka ya pagi-pagi," ucap Faruq sambil menutup pintu mobil. Ia pun segera menghampiri tempat penjual pulsa yang sudah lumayan ramai oleh pengunjung.


"Permisi Mas, ada yang perlu di bantu?" tanya gadis muda belia yang mengenakan kerudung segiempat paris. Ia menatap Faruq dengan matanya yang indah dan senyum menawan. Seketika itu juga, Faruq merasa dunianya seakan berhenti berputar.

__ADS_1


'Cantiknya ... Ini penjual pulsa apa bidadari? Ngimpi apa gue semalem.'


...Bersambung ...


__ADS_2