Godaan Daun Muda

Godaan Daun Muda
Bab 8. Hawa Pingsan Di Kantor


__ADS_3

"Yah, beginilah nasib anak soleh, Can. Rejeki gak akan kemana. Gue selalu jadi anak yang baik, murid yang baik dan lu liat hasilnya sekarang, Bro," tunjuk Faruq bangga pada dadanya sendiri. Kelakuannya itu membuat Candra mengangguk-angguk setuju.


"Oh iya, lu orang kerja dimana bisa sekeren ini?"  Pertanyaan dari Chandra seketika menyadarkan Faruq akan kelalaiannya.


"Ah, sial! Gue lupa kalo mau ngantor!" Faruq menepuk jidatnya kencang sambil sesekali mencuri pandang pada Fradya. Gadis itu pun begitu.


"Lagian sih, lu orang segala godain karyawan gue punya. Lupa diri kan!" seloroh Chandra seraya tertawa.


"Lu benar, Bro. Karyawan lu yang namanya Fradya itu. Udah mengalihkan dunia gue," ungkap Faruq, mengutarakan perasaannya.


"Bisa aja lu orang. Inget bini di rumah," celetuk Chandra.


"Haah ...! Gue butuh hiburan Bro. Bini gue bikin setress!" terang Faruq, yang mana hal itu membuat Candra hanya tersenyum miring.


Alasan lu basi, Bro. Tertarik daun muda. Pasti nanti pake alasan kalo yang tua udah ngebosenin. Playboy cap kresek lu, Bro!


Candra tertawa sendirian mendengar isi pikirannya sendiri.


"Gue gebet yak. Ijin nih!" ujar Faruq.


"Terserah lu orang lah, gue kagak mau ikut-ikutan," sahut Candra, seraya kembali menggeleng.


"Gue udah rela nih telat ngantor. Tapi gapapa, demi cewek cantik dan muda," ucap Faruq seraya terkekeh kecil. Hal itulah yang kembali membuat Candra menggeleng. Ia tau bagaimana sifat asli pria ini sejak masih di bangku kuliah dulu.


"Gimana Dy, udah dipesan belum?"


"Belum, Pak,"


"Eh, lu mau kemana emang? Ikut gue aja udah! Yok!"

__ADS_1


"Mau ke kantor lah, Bro. Lu orang gak liat gue udah pake baju kantor gini!"


"Ngantor tuh kayak gue gini stylenya bener. Elu mah kayak mau fashion show," celetuk Faruq mengomentari gaya Candra yang fashionable.


"Kan gue emang kerja di majalah fashion. Bro!" jelas Candra lugas.


"Ya udah yok. Gue udah telat banget ini!" Faruq pun berpamitan dahulu  pada Fradya.


"Catat nomer saya barusan. Terus kamu ping ya. Saya tunggu lima menit!" Faruq pun melambaikan tangannya setelah itu pergi. Meninggalkan senyum malu-malu terpatri di wajah cantik Fradya.


"Seneng banget romannya, Dy!" celetuk sesama karyawan di konter pulsa dan juga hape tersebut.


"Siapa yang gak seneng dapet kenalan sugar


daddy, Mel. Mana baik lagi, nih tips dari dia. Nanti gue traktir lu batagornya, mang Ujang!" seru Fradya riang.  Meli yang menjadi kawannya itu pun bersorak girang. Bagi gadis miskin seperti mereka, dapat rejeki seperti ini saja sudah senang bukan main. Keduanya bisa mengisi perut dengan jajanan yang suka lewat depan konter siang nanti. Karena waktu gajian mereka masih lama.


_


_


_


Hawa menghela napas ketika ruang rapat telah kosong. Seorang office girl masuk untuk menawarkannya sesuatu.


"Mau di buatkan minuman lagi, Bu?" tanya wanita berkerudung dengan seragam office girl berwarna hijau muda.


"Boleh deh, Na. Kayaknya perut saya mual deh. Tolong bikinin teh lemon aja ya, makasih," jawab Hawa. Office girl tersebut pun berlalu dan Hawa kembali memijat pelipisnya.


"Kenapa ini perut rasanya gak enak banget ya? Mana sarapan bekal tadi keluar sebagian. Ini badan aku kenapa ya kira-kira? Kamu tuh gak boleh sakit Hawa." Wanita cantik meski tak muda lagi itu terus bergumam seorang diri.

__ADS_1


"Permisi, Bu. Ini tehnya." Office girl meletakkan cangkir teh ke atas meja. Hawa yang sedang merasa tak enak pada perutnya sama sekali tak menggubris.


"Bu. Ibu lagi kurang sehat ya? Mukanya pucat banget gitu," cecar si wanita office girl ini.


"Saya mual dan pusing, Na. Tolong panggilkan asisten saya," titah Hawa. Wanita di hadapannya ini, yang bernama Nani mengangguk. Namun, baru dua langkah berjalan ia lantas berbalik cepat karena mendengar suara orang terjatuh.


"Astagfirullah, Ibu!" Nani menghambur menghampiri Hawa yang telah terjatuh dari kursinya. Wanita yang menjabat sebagai manajer produksi itu pingsan.


"Halo, Pak Djefri. Bu Hawa pingsan. Iya, masih di ruang rapat, Pak." Nani kembali memasukkan ponselnya setelah dia menghubungi asisten dari Hawa.


_


_


_


"Bang, bisa jemput aku di rumah sakit, Harapan Sehat? Iya, tadi aku pingsan diruang rapat. Di tunggu ya, Bang. Maaf udah-"


Tuuuttt ...!


Huft...


"Udah di tutup up aja deh bang Faruq. Kebiasaan. Padahal aku belum selesai ngomong kan," lenguh Hawa. Makin kesini ia selalu mengusap dada atas kelakuan suaminya. Tapi, menurut pengamat pernikahan. Itu adalah hal wajar. Karena manusia itu dapat mudah sekali di hinggapi rasa bosan.


Apalagi, usia pernikahan mereka sudah dua belas tahun lebih. Dan, mereka sangat jarang sekali menghabiskan waktu untuk berduaan.


"Apa aku minta cuti aja ya. Biar bisa ajak anak-anak liburan? Sekalian honeymoon kedua sama Abang." Hawa bergumam seraya tersenyum sendirian. Ia memejamkan mata menanti jemputan dari Faruq suaminya. Hingga tak sadar dirinya terlelap di hospital bed rumah sakit.


"Ngapain segala masuk rumah sakit sih! Capek gue bolak balik dari kantor ke rumah sakit terus nganter dia pulang dan ke kantor lagi pasti nanti. Sial!" Faruq menggerutu sepanjang mengemudikan kendaraannya, karena ia gagal untuk datang kembali menemui Fradya di counter.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2