
'Ini sudah cukup, akhirnya~'Batinnya dengan penuh semangat.
"Mada, apa yang sedang kau lakukan? Cepat turun kemari!"
"Baik, ibu...."
Anak remaja dengan rambut hitam yang berantakan dan warna matanya yang kecoklatan, melangkah keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur dengan ekspresi wajah yang tak henti-hentinya tersenyum, begitu sampai di sana ia langsung membantu sang ibu merapikan piring-piring yang terletak diatas meja makan, kemudian menaruhnya ke tempat cuci sambil mengatakan sesuatu.
"Ibu, aku akan menggunakan uangku sendiri untuk membeli helm VR. Jumlahnya sudah cukup, tidak perlu menambahkannya lagi."
"Hah!? Benarkah?"Tanya sang ibu kaget.
"Iya, aku akan pergi ke mall untuk membelinya malam ini. Boleh kan?"
Wanita paruh baya berumur sekitar 30 tahunan itu menghela nafasnya panjang, ia tersenyum tipis dihadapan putranya."Pergilah sekarang saja, ada lebih banyak orang gila yang berkeliaran pada malam hari. Apa kau mau ibu temani?"
"Tidak, aku bisa pergi sendiri."Jawabnya cepat.
"Baiklah kalau begitu, dasar...."Ucap sang ibu sambil mengelus-elus kepala putranya tersayang.
Sudah hampir seminggu semenjak CarLon Cooperation merilis sebuah game VRMMORPG bernama Grateful Allegiance, game ini selalu mendapatkan ulasan serta komentar-komentar positif dari para pemainnya dan membuat seorang pelajar SMA kelas satu begitu tertarik sampai-sampai ia rela menghabiskan seluruh uang tabungannya hanya untuk membeli helm VR.
Selesai berganti pakaian dan mengambil seluruh uang yang telah ia susun tadi, anak itu lekas-lekas memakai sepatunya dan segera membuka pintu rumahnya."Aku pergi!"Teriak Mada sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Hati-hati dijalan~"
****
__ADS_1
Grateful Allegiance adalah sebuah game klasik yang membawa para pemainnya pergi ke abad-abad pertengahan Eropa dan menjadi seorang Knights, disana para pemain bertugas untuk melindungi kerajaan-kerajaannya dan membunuh para makhluk-makhluk penganggu bahkan satu sama lain!
Jarak ke mall dan gang tempat Mada tinggal sebenarnya lumayan dekat, dengan kata lain Mada sebenarnya tidak perlu menakuti apa-apa dan tidak perlu ditemani oleh orang dewasa sama sekali.
"Aku sudah tidak sabar lagi."Gumam Mada sambil berlari secepat yang ia bisa menuju ke mall.
Di mall_
"Permisi, namaku adalah Mada. Aku telah mendaftar disini beberapa hari yang lalu."
Mada memasuki sebuah toko yang memang dikhususkan untuk membeli segala hal yang berkaitan dengan game Grateful Allegiance, termasuk helm VR. Ia menyapa wanita berumur 20 tahunan yang bekerja sebagai salah satu staf disana dan memberitahu alasan mengapa ia berada di sini.
"Aku mengerti, aku akan segera memeriksanya."Jawab wanita itu sambil tersenyum ramah.
"Baiklah."
Wanita itu mengetik-ngetik keyboard komputer yang berada di sampingnya kemudian melangkah menuju ke lemari besi besar yang berada di belakangnya, ia membuka salah satu pintu kecil yang berada di lemari itu dan mengeluarkan secarik kertas.
"A-ahh, baiklah."Mada tersenyum canggung sambil mengelus-elus dadanya, jujur ia sebenarnya merasa agak terkejut tadi.
Wanita itu menyuruh Mada untuk ikut bersama dengannya dan menguji helm VR barunya karena ingin memastikan bahwa barang yang rusak tidak akan sampai ke tangan pelanggan, disana ia diajari segalanya tentang helm VR dan Mada selalu mengangguk-angguk kepalanya tanda mengerti.
Beberapa menit kemudian, semua hal telah berhasil diselesaikan. Mulai dari, pengisian data, pembayaran, dan pendaftaran kembali di game Grateful Allegiance.
"Baiklah, semua prosedur telah berhasil dilakukan."
"Haah...."Akhirnya Mada bisa membawa pulang helm VR nya.
__ADS_1
"Ibu, aku kembali!"Setibanya dirumah, Mada langsung melepaskan sepatu miliknya dan berlari-lari kecil menuju ke lantai dua. Atau kamarnya, ia ingin langsung bermain game dan berniat untuk bergadang secara diam-diam.
"Mada~"Panggil ibunya pelan, begitu Mada baru saja menginjak tangga keenam.
Mada menoleh kebelakang dan tersentak kaget begitu melihat sang ibu yang tiba-tiba saja muncul dibelakangnya sambil membawa sesuatu, ia mengenali benda itu dan terdiam untuk beberapa saat, kemudian Mada menghela nafas panjang lalu tiba-tiba duduk di salah satu anak tangga disana.
Sang ibu ikut menghela nafas panjang dan melangkah menaiki anak tangga mendekat ke arah Mada, ia menarik pergelangan tangan kanan putranya perlahan-lahan dengan tatapan mata yang sendu.
"Aduh! Rasanya sakit! Ibu, pelan sedikit."
"Ibu tahu rasanya sakit, tapi bertahanlah. Bagaimana jika lukanya terbuka lagi, apakah kau ingin mati kehabisan darah?"
"Ini bukanlah kesalahanku, kucing itu yang tiba-tiba melompat keluar."Ucap Mada pelan sambil memalingkan wajahnya.
Sang ibu lagi-lagi menghela nafas panjang."Sudahlah, jangan dibahas lagi. Ibu telah meninggalkan obatmu dikamar, harus diminum! Dua tablet berwarna merah untuk Anemiamu dan dua tablet berwarna putih untuk Hemofiliamu."
"Aku mengerti."Balas Mada.
"Jangan bergadang, jika kau melakukannya maka ibu akan menyita helm VR mu."
"Baiklah, baiklah, aku mengerti."Mada menarik pergelangan tangannya dan melangkah menuju ke dalam kamarnya, sang ibu menutup kotak P3K yang telah ia gunakan dan memandangi pintu kamar Mada yang telah tertutup rapat.
"Haah~ Semoga dia meminum obatnya."
Didalam kamar, Mada menatap dua jenis tablet berwarna putih dan merah yang berada di genggamannya. Ia lagi-lagi terdiam, lalu membuang keempat tablet itu kedalam tong sampah. Mada mencengkram erat pergelangan tangannya, seketika darah pun mengalir keluar dari bekas luka lamanya.
"Tubuh ini rapuh sekali."Gumamnya, Mada meminum air didalam gelas yang terletak disamping tempat tidurnya sampai tersisa setengah. Ia lalu naik ke atas kasurnya dan tertidur lelap, Mada menuruti perintah ibunya dan memutuskan untuk bermain Grateful Allegiance besok saja.
__ADS_1
Besok.....
Mungkin adalah hari terakhirnya di dunia ini, mulai dari besok ia tidak akan bisa bertemu dengan ibunya lagi.