Grateful Allegiance

Grateful Allegiance
Ch-6. Menjadi Muridmu


__ADS_3

"I-itu, kakek.... Se-sebenarnya aku juga tidak tahu darimana aku berasal, begitu terbangun aku mendapati diriku berada di bawah sebuah pohon besar disamping danau, aku tidak mengingat apa-apa. Dan, dan aku yakin.... Bahwa aku tidak jahat sama sekali. Ent itulah yang mengangguku terlebih dahulu, benar."


Kakek Happer memainkan jenggotnya begitu mendengarkan penjelasan dari Mada, ia menurunkan tongkat sihirnya dan memandangi Mada dari atas ke bawah.


'Sebenarnya aku juga tidak merasa bahwa anak ini adalah seseorang yang berbahaya, dia terlihat seperti anak-anak normal pada umumnya dan mungkin saja ia dibuang kesini lalu diberi mantra penghilang ingatan oleh seseorang. Malang sekali....'Batin kakek Happer sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghela nafas panjang.


'Ehh, apakah dia benar-benar percaya dengan kebohonganku? Kemana ekspresi galak dan murka yang dia tunjukan tadi? Hah~ Begitu masuk kedalam permainan aku malah membohongi seorang lansia yang sangat galak, masa depanku benar-benar tidak dapat ditebak.'Batin Mada.


"Hei, bocah."Panggil kakek Happer.


"Hmm?"

__ADS_1


Kakek Happer menepuk dan mengelus-elus kepala Mada sambil memejamkan matanya, Mada yang merasa kebingungan dengan apa yang kakek Happer lakukan hanya bisa terdiam dan mematung seperti orang bodoh. Ia merasakan sebuah sensasi yang hangat dan nyaman dari tangan kakek Happer, tak lama kemudian kakek Happer pun akhirnya membuka matanya dan tersenyum halus kepada Mada.


"Haha, sepertinya masa depan kami semua akan bergantung kepadamu."Gumam kakek Happer.


'Ehh? Apa maksudnya?'Batin Mada.


"Bocah, maukah kau ikut bersamaku keluar dari sini dan menjadi muridku? Aku akan mengajarkan segalanya kepadamu, mengenai sihir dan takdirmu sebagai seorang Knights."


Mada tersentak kaget sambil membatin.'Ini? Bagaimana dia bisa tahu mengenai kelas yang kupilih!?'


'Bagaimana ini, terima atau tidak? Terima atau tidak? Jika aku menerimanya maka setidaknya setengah dari masa depanku sudah dapat tertebak, sebenarnya ini merupakan sebuah keuntungan juga bukan? Hm, setelah kupikir-pikir lagi ternyata permasalahan ini sangatlah mudah~ Apa aku terima saja ya?'Mada menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.

__ADS_1


Kakek Happer menunggu jawaban Mada dengan senyumannya yang hangat, entah bagaimana dirinya bisa tiba-tiba berubah 180 derajat seperti ini?


"Kakek, aku bersedia untuk menjadi muridmu."Ucap Mada sambil tersenyum canggung.'Di dalam film-film yang pernah aku tonton sebelumnya, aku dapat menyimpulkan bahwa menjadi murid dari seseorang yang berjanggut dan berpenampilan keren seperti kakek ini, pasti akan memiliki masa depan yang lumayan bagus. Bagaimanapun juga aku adalah pemeran utamanya kan? Setidaknya, aku akan mendapatkan tempat tinggal, makanan, dan pakaian lah~'Batin Mada.


"Bagus, mulai dari sekarang panggil saja aku guru Happer mengerti? Kemarilah, aku akan memberikan sesuatu untukmu."Kakek Happer menarik pergelangan tangan Mada menuju ke arah mayat Ent yang berada tidak jauh dibelakang mereka, begitu sampai disana kakek Happer langsung menikam dada Ent itu dengan tongkat sihirnya dan membuat Mada terkejut.


Kakek Happer memutar-mutar tongkat sihirnya agar luka tusukan itu bisa masuk semakin dalam, darah Ent yang berwarna kehijauan itu meluap-luap keluar dan kemudian Kakek Happer menoleh ke belakang karena merasa penasaran dengan ekspresi wajah yang akan Mada tunjukkan ketika melihat hal itu.


'Hmph! Anak ini benar-benar berdarah dingin.'Batin kakek Happer.


'Hanya seperti ini tidak akan mampu membuatku takut, aku sudah terlalu sering melihat darahku sendiri.'Batin Mada sambil berekspresi datar.

__ADS_1


"Bocah, perhatikan!"Ucap kakek Happer tiba-tiba.


"Hah?"


__ADS_2