Grateful Allegiance

Grateful Allegiance
Ch-24. Pergilah Bermain Di Luar


__ADS_3

'Emm, mengapa aku tiba-tiba merasa merinding ya?'Batin Mada.


"Satu...."


"Ahh, iya, iya, aku bangun! Aku bangun sekarang!"Gerutu Mada sambil beranjak bangun kemudian melangkah melewati kakek Happer, menuju ke belakang.


"Haha, cepatlah dan pergi memasak ya!"


Beberapa menit kemudian setelah Mada selesai membersihkan dirinya ia pun langsung menuju ke dapur untuk memasak, ia membelah dua buah roti berukuran sedang yang berada di hadapannya, lalu memotong-motong beberapa buah apel dengan tipis. Mada menaruh potongan-potongan apel itu diatas roti, kemudian menuangkan madu dan menutup roti itu dengan lapisan kedua. Mada membakar roti itu sebentar dan segera mengangkatnya, roti lapis pun sudah siap untuk disantap dengan segelas susu.


"Guru, ayo makan!"Teriak Mada.


"Ya, aku datang."Teriak kakek Happer balik.


Mereka berdua sarapan bersama dan beberapa saat kemudian mereka pun selesai, Mada membereskan gelas dan piring yang ia gunakan, setelah itu ia pun bersiap-siap untuk pergi berlatih seperti biasanya.


Kakek Happer entah kenapa tiba-tiba merasa agak khawatir, ia sangat bangga dan senang memiliki murid yang rajin dan pintar seperti Mada. Kakek Happer sama sekali tidak pernah berpikir bahwa suatu hari Mada akan berkhianat atau apalah itu, karena kakek Happer benar-benar sangat mempercayainya, dan Mada benar-benar adalah seorang anak yang jujur serta baik.

__ADS_1


Namun sepertinya, ada sesuatu yang salah disini. Mada terlalu pesimis dan serius dalam menangani hidupnya, ia tidak pernah bersenang-senang ataupun mendapatkan belas kasih dari orang dewasa sama sekali.


"Mada, apakah kau akan pergi berlatih lagi?"Tanya kakek Happer.


"Tentu saja, apa lagi yang bisa kulakukan disini selain berlatih?"Mada menelengkan kepalanya, pertanyaan dari kakek Happer terlalu aneh.


"Sesekali, pergilah keluar untuk bermain dengan anak-anak seumuranmu. Apakah kau tidak bosan terus berada di dalam rumah?"


"Tidak, ada banyak sekali buku-buku disini, tidak ada alasan yang bisa kugunakan untuk berkata jika aku bosan."Mada menunjuk tumpukan buku-buku tempat ia tidur tadi.


Kakek Happer menghela nafas panjang, ia benar-benar yakin jika Mada sangat-sangat, sangat perlu untuk bersantai saat ini.


"Ehh, buku-buku ku!? Menghilang kemana?"Teriak Mada.


"Aku menyembunyikannya, pergilah keluar, kau tidak boleh kembali kerumah sebelum matahari terbenam, mengerti?"Kakek Happer tersenyum sinis, kemudian ia menjentikkan jarinya.


"Ahh!?"Mada tersentak, tepat ketika kakek Happer menjentikkan jarinya tadi, ia langsung berada di luar rumah dengan sekantung penuh uang di hadapannya.

__ADS_1


'Haishh, dia benar-benar mengusirku~'Batin Mada.


"Sudahlah, bagaimanapun juga dia pasti melakukannya untuk kebaikanku, aku memang perlu untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarku."Gumam Mada, ia lalu memungut sekantung uang yang terletak di tanah dihadapannya dan melangkah pergi.


|•*•*•*•*•*•*•*•*•|


"Kepalaku dipenuhi dengan tulisan-tulisan itu, sekali baca saja maka aku akan langsung mengingatnya, aku benar-benar luar biasa."


Sudah beberapa jam Mada berada di luar, saat ini dia sedang berbaring di bawah pohon besar desa Altens yang dijuluki Oldest Tree. Pohon ini terletak agak jauh dari rumah kakek Happer dan mengandung energi sihir yang mampu mengeluarkan hawa yang menenangkan.


Langit yang biru, hamparan rumput segar yang kehijauan, dan angin sepoi-sepoi yang menyejukkan membuatnya merasa agak mengantuk.


'Nyaman sekali, aku merasa damai. Andai saja kedamaian ini dapat bertahan selamanya.'Raut wajah Mada tiba-tiba berubah menjadi serius, ia tiba-tiba mengingat isi didalam sebuah buku yang pernah ia baca beberapa hari yang lalu.


Tertulis bahwa sebenarnya Lowenburg castle memiliki utang yang sangat besar kepada Dunnotar castle, katanya dulu dua pemimpin kastil-kastil ini pernah bermain catur bersama dan mempertaruhkan setengah dari wilayah kekuasaan mereka. Lowenburg castle mengalami kekalahan, akibatnya setengah dari wilayah kekuasaan kastil ini harus menjadi milik Dunnotar castle, beserta dengan isi-isinya. Sesuai perjanjian, pemimpin Lowenburg castle menandatangani surat-surat kepemilikan wilayah yang akan ia serahkan kepada Dunnotar castle, tetapi tahukah kamu? Surat itu menghilang begitu saja sebelum sampai ke tangan pemimpin Dunnotar castle.


"Raja kami yang bodoh benar-benar telah menandatangani dan mengantarkan surat-surat kepemilikan wilayahnya, ketika hampir sampai di tangan Raja Dunnotar castle surat-surat itu malah lenyap begitu saja? Sesuai dengan yang tertulis di dalam buku surat-surat itu menghilang sesaat setelah masuk ke dalam kastil, padahal terdapat banyak orang yang menjaga secarik kertas itu. Tidak ada tanda-tanda seseorang mengambilnya, tidak ada yang aneh, jadi sebenarnya kemanakah surat itu pergi?"Gumam Mada.

__ADS_1


Sampai sekarang surat-surat itu masih belum ditemukan, meskipun Raja Dunnotar castle telah memporak-porandakan kastilnya untuk menemukan surat itu namun ia tetap saja tidak menemukan apa-apa, kejadian menghilangnya surat itu terjadi di Dunnotar castle, terlebih lagi di tempat tinggal pemimpinnya, Lowenburg castle tentu saja tidak akan disalahkan.


Para rakyat Lowenburg castle merasa lega akan hilangnya surat itu, tanpa surat itu Dunnotar castle tidak bisa melakukan apa-apa terhadap wilayah mereka, Deus memihak kepada kami! Itulah yang mereka katakan, tidak ada yang berpikir bagaimana jika suatu hari nanti ada seseorang yang menemukan surat-surat itu.


__ADS_2