Grateful Allegiance

Grateful Allegiance
Ch-12. Keributan


__ADS_3

Berjam-jam telah berlalu, kakek Happer dan Mada akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah. Dibawah terik matahari yang sangat menyengat, sebuah gerobak yang berisikan penuh buah apel berhasil menarik perhatian Mada. Ia bergegas menuju ke arah gerobak itu dan meninggalkan kakek Happer di belakang, Mada lalu mengambil satu buah apel tanpa memberi aba-aba ke penjualnya, kemudian melahap apel itu sambil membatin.


'Haha, ini apel! Rasa apel! Akhirnya, ada sesuatu yang bisa diterima oleh lidahku juga~'


"Tuan muda, satu apel harganya dua perak. Apakah anda ingin membeli beberapa lagi?"Tanya penjual apel itu sambil mengosok-gosok kedua telapak tangannya.


"Uhukkk, uhukk! Apa katamu!?"Mada tersedak begitu mendengar penjual apel itu memberitahukan harga barang jualannya, Satu buah apel seharga dua perak?! Jika kau ingin merampok maka berterus teranglah****.


"Hm? Satu apel harganya dua perak, apakah ada yang salah tuan muda?"


"Ekhh, ke-kenapa harga apel bisa semahal ini?"Tanya Mada terbata-bata.


Sang penjual apel menaikkan sebelah alisnya, ia lalu menghela nafas panjang dan tersenyum pahit."Haahh, mau bagaimana lagi.... Apel-apel ini kan berasal dari lahan milik keluarga Gustavo, anda tidak boleh banyak komplain."


Dahi Mada mengerut begitu mendengar tentang hal ini, keluarga Gustavo yang dimaksud oleh penjual apel itu terdengar agak aneh ditelinganya.


"Emm, anu.... Tuan muda, kapan anda akan membayar?"Tagih si penjual apel.

__ADS_1


"Ehh!?"


"Ambil ini!"Sahut seseorang yang berada di belakang Mada.


Mada menoleh ke belakang begitu melihat tangan seseorang yang memberikan beberapa buah perak ke sang penjual, kakek Happer menghela nafas panjang dan membeli beberapa buah apel lagi untuk Mada.


"I-itu, terimakasih guru."Ucap Mada pelan, kakek Happer pun tersenyum tipis.


"Hei, sepertinya ada sesuatu yang terjadi di depan toko J'els!"


"Benarkah?!"


"Ayo, ayo, kita pergi lihat!"


"Celaka, ada apa itu? Aku memiliki firasat buruk."


Mada dipenuhi dengan tanda tanya setelah melihat beberapa orang berlari dengan tergesa-gesa menuju ke suatu tempat, tanpa sadar ia pun ikut berlari menyusul beberapa orang itu dan lagi-lagi meninggalkan kakek Happer.

__ADS_1


"Hoii!"Panggil kakek Happer."Dasar murid kurang ajar, apakah dia benar-benar menganggapku sebagai gurunya?"Gumam kakek Happer.


"Permisi, permisi, aku ingin lewat. Permisi ya?"


Mada sampai di tempat yang dimaksud oleh orang-orang tadi, ia masuk kedalam kerumunan yang mengelilingi tempat itu dan berniat untuk menembusnya. Mada didorong kesana-kemari, kakinya terinjak-injak oleh orang lain, tersiksa selama hampir satu menit, Mada akhirnya berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Dasar manusia kotor! Tidak punya mata! Bisa-bisanya kau menabrak nona Hylansia dan menginjak jepit rambutnya! Mati saja kau!"


"Cuihh!"


Pupil mata Mada mengecil secara tiba-tiba, ia tidak berkutik menyaksikan sebuah kejadian tragis yang sedang terjadi didepan matanya. Terlihat beberapa orang prajurit sedang menginjak-injak dan menendang-nendang bocah berambut oranye terang yang kini telah tergeletak lemas ditanah, darah tidak berhenti mengalir keluar dari hidung dan mulut anak itu. Seorang gadis kecil seusia Mada berada di dekat sana dan terus tersenyum sinis, ia tampak sangat menikmati pertunjukan yang sedang terjadi didepan matanya.


Orang-orang yang berada di tempat itu, tidak ada satupun dari mereka yang ingin bergerak dan membantu anak berambut oranye itu, mereka terus menghela nafas panjang, menggeleng-gelengkan kepala, dan tidak berani melihat. Orang-orang bodoh itu, mereka benar-benar pengecut!


Mada mendapatkan kesadarannya kembali, ia mengerti bahwa ia tidak seharusnya terlibat, namun.....


'Nyawa seseorang adalah yang paling berharga di dunia, tidak akan kubiarkan seseorang yang tidak bersalah mati!'Batin Mada sambil mengertakan giginya.

__ADS_1


Mada berlari keluar dari kerumunan orang dan menuju ke arah para prajurit yang kini telah mencabut pedangnya dengan wajah yang beringas.


"Berhenti!"Teriak Mada.


__ADS_2