Grateful Allegiance

Grateful Allegiance
Ch-18. Pembelajaran Dimulai


__ADS_3

'Aku? Namaku adalah Mada, aku berumur 16 tahun. Ibuku bernama Christine dan ayahku biasa dipanggil dengan nama Jack, ia bekerja di luar kota dan jarang berkumpul bersamaku dan ibu. Sebelum masuk ke dalam tempat ini, disekolahku.... Aku dikenal sebagai seorang anak yang pintar dan selalu berprestasi, sudah tidak terhitung lagi banyaknya piagam penghargaan dan piala yang kudapatkan semenjak aku duduk di bangku SD. Aku memang ahli dalam berpikir, namun fisikku sangat-sangatlah lemah. Apakah kau akan percaya jika aku mengatakan bahwa aku saja tidak boleh tertusuk oleh jarum.'


'Bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Mandarin, yang harus kupelajari karena perintah ibuku dapat diselesaikan dengan mudah dan cepat. Para guru selalu memujiku, murid-murid lain memperlakukanku dengan hormat, nilai-nilaiku tidak pernah menurun karena itulah ibu tidak melarangku untuk bermain game dan membeli helm VR. Aku diberi waktu untuk libur selama seminggu setelah berpartisipasi mewakili sekolahku dalam sebuah olimpiade, dan tentu saja aku menang walau tidak menduduki peringkat satu.'


'Seminggu? Jika dihitung sampai hari ini, maka aku sudah berlibur empat hari lamanya. Aku rindu belajar dengan guru Sainsku, guru Sejarahku, guru Bahasaku, aku merindukan cara kalian mendidikku. Guru....'


"Hei, mengapa kau melamun?Konsentrasilah!"Bentak kakek Happer sambil melempari kepala Mada dengan sebuah buku.


"Aduh!"


Mada mengelus-elus kepalanya dengan pelan, ia menelan bulat-bulat seluruh kekesalannya dan fokus pada dinding di hadapannya yang telah dipenuhi dengan huruf-huruf Rune.



"Sial, rumit sekali, benar-benar menyusahkan...."

__ADS_1


"Perhatikanlah baik-baik huruf-huruf itu, fokus. Dengan begitu kau bisa terjun kedalamnya, dan memahaminya."Ucap kakek Happer.


"Baiklah, aku mengerti."


Mada menghabiskan sepanjang harinya didalam rumah untuk mempelajari huruf-huruf Rune yang akan sangat mempengaruhi dirinya di masa depan nanti, berkat bimbingan kakek Happer, Mada kini telah berhasil mengingat dan menulis beberapa huruf.


"Itu adalah huruf B bukan S dasar bodoh!"Kakek Happer memukul kepala Mada dengan sebuah buku yang berada di genggaman tangannya.


"Aduhh!"


"Tulis yang benar."Dan lagi-lagi kakek Happer memukul kepala Mada.


"Aduhh, Argghh! Itu menyakitkan...."Teriak Mada.


Malam hari tiba, kakek Happer dan Mada segera beristirahat begitu selesai melakukan segala aktivitas mereka. Setiap saat, setiap waktu, ketika kakek Happer sedang tidak memperhatikannya maka Mada pasti akan membuka panel statusnya dan mencoba untuk log out secara diam-diam, dan tentu saja hasilnya tidak berbuah apapun.

__ADS_1


'Masih tidak bisa....'Batin Mada sambil menghela nafas panjang.


Mada melirik ke atas sebuah meja kecil yang berada agak jauh darinya, buku catatan yang ia gunakan untuk belajar tadi berada di sana.


'Aku tidak bisa tidur, sudahlah~ Lebih baik aku belajar saja.'Pikir Mada, ia pun melangkahkan kakinya menuju ke meja tersebut dan membuka buku catatannya.


'Untung saja jam belajar segera berakhir, kupikir aku akan mati terlebih dahulu. Capeknya, jam belajar akan dimulai dari pukul sembilan pagi sampai jam lima sore setiap harinya. Istirahat selama 15 menit pada pukul satu siang, benar-benar sangat menyiksa.'Batin Mada.


'Kalau dipikir-pikir, kakek tua itu....'Mada menoleh ke belakang dan memperhatikan kakek Happer yang kini sedang tertidur sambil mendengkur keras.


'Dia bersikap seolah-olah perbincangan kami semalam tidak terjadi, dasar. Aku tidak dapat menebak apa pemikirannya!'Lanjut Mada.


'Apakah mempelajari semua hal ini benar-benar akan berguna untukku? Andai saja aku bisa keluar, ibu aku merindukanmu~'Mada meletakkan kepala dan kedua lengannya diatas meja dan tak lama kemudian tertidur disana, terdengar suara langkah kaki seseorang sedang mendekatinya dari belakang.


"Menyusahkan."Gumam kakek Happer sambil menyelimuti tubuh Mada dengan selimut yang ia bawa, setelah itu kakek Happer pun kembali ke tempat ia tertidur sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2