
Rumah kecil nan sempit dengan pencahayaannya yang redup setiap malam hari tiba, seorang anak berambut abu-abu sedang tertidur pulas disamping kakek Happer yang kini tengah memperhatikan dirinya tanpa berkedip sedikitpun.
Kakek Happer perlahan-lahan mendekatkan mulutnya di telinga Mada, kemudian.....
"Hooiii! Bangunlah!!"Teriak Kakek Happer.
"Waaahhh, siapa itu!?"Mada berteriak dan seketika terduduk di atas kasurnya kemudian tanpa sadar ia mengarahkan pukulannya ke arah datangnya suara yang ia dengar tadi, kakek Happer menahan kepalan tangan Mada yang hampir menyentuh wajahnya, ia tersentak namun tak lama kemudian sebuah senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Aahh."Mada menarik tangannya yang sedang digenggam oleh kakek Happer, mereka berdua terdiam dan saling bertatapan satu sama lain.
"Hei, kakek tua...."Gumam Mada sambil menundukkan kepalanya.
"Hmm?"
Mada mengangkat kepalanya dan menatap tajam kakek Happer."Tidak bisakah kau membiarkan aku tidur dengan nyenyak, hah!? Apakah ada masalah?! Mengapa kau membangunkanku?!"Bentak Mada.
'Padahal aku sedang memimpikan ibu dan ayah tadi.'Batin Mada sambil menundukkan kepalanya kembali.
Kakek Happer menghela nafas panjang dan tangannya meraih sebuah buku tebal yang berada di sampingnya, ia lalu tiba-tiba memukul kepala Mada dengan buku itu, dengan sangat kuat.
"Akkhh, Argghh! Apa yang kau lakukan!?"Teriak Mada sambil mengelus-elus kepalanya.'Sakit, aku rasanya ingin menangis, air mataku hampir keluar!'Batin Mada.
"Hei bocah, apakah kau baik-baik saja?"Tanya kakek Happer tiba-tiba.
__ADS_1
"Heh, mana mungkin aku baik-baik saja?! Aku merasa pusing!"Jawab Mada.
"Hmph, kemarikan kepalamu."
Mada diam tak bersuara, ia mendekatkan kepalanya ke arah kakek Happer dan ada sebuah kehangatan yang tiba-tiba mengalir ke seluruh tubuhnya, membuat kepalanya terasa agak membaik.
"Ini sudah malam ya?"Mada menatap ke luar jendela yang berada agak jauh darinya, kegelapan. Hanya itulah yang dapat ia lihat.
"Cihh, kau membuatku kaget saja. Kupikir kau tidak akan bangun untuk selamanya."Kakek Happer beranjak dari tempatnya dan melangkah menuju ke kursi yang selalu ia duduki setiap harinya, Kursi kesukaan kakek Happer, menurut Mada~
"Apa maksudmu?"
"Huuh, apakah kau tahu sudah berapa lama kau tertidur? Kau seperti **** saja, bagaimana bisa kau tidur selama hampir 24 jam? Tidak masuk akal."Ucap kakek Happer.
"Bocah, menurutmu tanggal berapa sekarang?"
"Tanggal? 16 tentunya."Balas Mada cepat, tanpa berpikir panjang.
Kakek Happer menepuk dahinya kuat, ia benar-benar merasa seperti orang bodoh setiap berdebat dengan Mada.
"Waktu kita berada di pasar hari itu, saat aku membelikanmu beberapa buah apel itu. Apakah kau ingat? Kira-kira pukul berapakah saat itu?"
"Hmm, mungkin sekitar pukul tiga siang atau pukul empat."
__ADS_1
"Sekarang sudah pukul delapan malam, tanggal 17. Aku memberikanmu kesempatan untuk berpikir, temukan masalahnya dalam lima detik!"Ucap kakek Happer tegas.
"Satu...."
"Hmm, tunggu!"Ucap Mada.
"Dua...."
"Tunggu, sekarang sudah tanggal 17? Itu artinya...."
"Tiga...."
"Aku tidur selama hampir 18 jam?"Ucap Mada tak percaya.
"Benar."Jawab kakek Happer singkat.
"Wow, luar biasa. Bagaimana? Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi?"Mada mengelus-elus perutnya yang tidak terasa lapar sama sekali, ia kebingungan setengah mati saat ini.
"Aku tidak tahu, aku sudah berusaha untuk mencari jawabannya ketika kau sedang tidur, semua buku-buku itu."Kakek Happer menunjuk beberapa tumpukan buku-buku yang berada di sisi kanan Mada.
"Tidak ada gunanya, jangan mencari di sana lagi."Sambung kakek Happer.
"Terserah, aku tidak tertarik dengan kondisi tubuhku juga. Tidak ada gunanya memperhatikan tubuhku yang aneh ini."Ucap Mada.
__ADS_1