
"Haha, kenapa? Aku tidak salah bicara kan? Kau harus tahu, sebenarnya aku ini sedang berbaik hati dengan menasihatimu, tahu diri sedikit lah~ Kau bahkan tidak mampu menghentikan seorang anak kecil sepertiku, apakah kau layak untuk menjadi seorang prajurit?"Ucap Mada lagi.
"Diam...."
"Selain tidak memiliki kekuatan kau bahkan tidak memiliki otak juga, sekarang aku ajukan sebuah pertanyaan untukmu. Nyawa seseorang dan sebuah jepit rambut manakah yang lebih berharga?"Tanya Mada.
Tempat itu menjadi sangat senyap dan sunyi, tidak ada satupun suara yang terdengar selain suara Mada padahal orang-orang yang berada di sana minimal berjumlah 200 bahkan lebih.
Ketiga prajurit sang nona muda, bahkan nona mudanya sendiri terdiam seperti orang bodoh dan membuat Mada merasa agak lega. Siapa sangka, orang-orang yang berada di tempat ini sangat lemah dengan kata-kata sindiran yang menusuk.
"Hmm, kenapa kau diam saja? Aku sedang bertanya kepadamu, jangan bilang kau bahkan tidak tahu mana yang lebih berharga diantara jepit rambut dan nyawa manusia."
"Diam, diamlah kau!"Teriak prajurit itu.
__ADS_1
"Ohh?"Gumam Mada sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Hahahaha, memang apa berharganya nyawa seorang anak pengemis kecil yang busuk dan tidak berguna seperti dia? Anak sepertinya hanya membuat tempat ini terasa semakin sempit, mengotori udara kita dan menghabiskan bahan pangan desa ini, selain itu anak seperti dirinya juga adalah seorang pencuri. Apa kau dengar aku? Dia adalah seorang pencuri!"Teriak prajurit itu.
'Sial, sejak awal musuhku hanyalah pria bencong peliharaan kepala desa itu bukan. Lama-lama perkataannya semakin tajam dan dalam, kuharap orang lain tidak akan mencampuri urusan kami....'
"Lalu? Memangnya kenapa jika dia adalah seorang pencuri? Bisakah kau menjamin bahwa kau juga tidak pernah mencuri saat kau kecil?"Ucap Mada sambil menyipitkan matanya.
"Ekkhh, diam!"
'Anak ini, tidak terlihat seperti anak berusia tujuh tahun. Apakah ini hal yang baik atau buruk?'Batin kakek Happer yang sedang mengamati Mada dari kejauhan.
"Cukup, cukup sudah!"Prajurit yang telah kalah berdebat dengan Mada itu menarik pedang milik temannya dan membuat orang-orang yang disana tersentak kaget, terkecuali Mada.
__ADS_1
"Ad, tenang! Tenanglah!"
"Nona, nona, ayo kita pergi tinggalkan tempat ini ya?"
"Tu-tunggu, tunggu dulu."
Keadaan kini menjadi kacau, nona muda keluarga Davis pergi meninggalkan tempat itu dan melewati kerumunan orang disebelah Utara, menuju ke kediamannya dan hendak melaporkan tentang perbuatan Mada.
'Ya ampun, Mada! Sebenarnya mengapa hal seperti ini bisa terjadi?! Beruntung sekali nasibmu ya, hahaha.'Batin Mada sambil tersenyum pahit.
"Ad, Ad! Tenang, tenangkan dirimu dulu. Kita tidak boleh macam-macam dengannya, sepertinya dia adalah seseorang yang tidak boleh kita usik."Bisik prajurit berambut hitam tepat di telinga sahabatnya.
"Morlack, apakah kau bodoh? Bagaimana mungkin seorang tuan muda mengenal lika-liku kehidupan orang-orang rendahan seperti kita! Apalagi pengemis, tidak mungkin anak-anak kaya mengetahui tentang hal seperti ini!"Bentaknya.
__ADS_1
"Ad, jangan konyol. Tetap saja, aku merasa lebih baik kita jangan menganggunya."
"Orang-orang bodoh."Gumam Mada sambil menyeret-nyeret tubuh anak berambut oranye yang selalu ia lindungi, menjauh dari dua orang yang sedang bertengkar itu.