Grateful Allegiance

Grateful Allegiance
Ch-15. Pertolongan Kakek Happer


__ADS_3

"Morlack, lepaskan aku!"Bentak Adcler sambil mengayunkan pedangnya, mengores pergelangan tangan Morlack.


"Akhhh!"


Setelah terlepas dari Morlack, Adcler melangkah menuju ke arah Mada dan mengayunkan pedangnya keatas. Orang-orang berteriak memperingati Mada, masih saja tidak ada satupun orang yang ingin menolongnya.


"Mati kau!"Teriak Adcler.


Suara pedang yang saling berbenturan satu sama lain memekakkan telinga orang-orang disana, Mada berusaha sekuat tenaga menggunakan pedang yang berada di kedua tangannya untuk menahan serangan dari Adcler.


Ia merasa terbebani, Mada mengertakan giginya dan mengucurkan keringat. Beban yang ia dapatkan semakin bertambah karena Adcler kini mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong pedangnya ke arah Mada.


'Ga-gawat!'Batin Mada ketika melihat pedang Adcler yang kini hanya berjarak satu inci saja dari wajahnya.


"Gu-guru Happer...."Gumam Mada dengan nafas yang terputus-putus, ia memejamkan matanya karena merasa terlalu lelah.


"Hohohoho~ Kukira kau tidak akan membutuhkan bantuanku."

__ADS_1


"Apa!?"Ucap Adcler sambil mengangkat kepalanya, menatap ke depan.


Kakek Happer tiba-tiba saja muncul di atas kepala Mada yang sedang berbaring di tanah, ia menyentil dahi Adcler yang sedang menimpa Mada sambil tersenyum sinis.


"Tidak boleh membunuh muridku, mengerti?"


"Uaaakkkhhh!"Adcler terlempar puluhan meter kebelakang dan kepalanya jatuh menghantam tanah yang keras, membuat kepalanya terluka dan mengeluarkan darah segar.


"Adcler!"Morlack berlari menjauh dan menuju ke arah Adcler, meninggalkan kerumunan orang, Mada dan kakek Happer.


"Lumayan, kau memang ditakdirkan untuk menjadi seorang Knights."


"Cihh, lagi-lagi itu...."Mada tersenyum hangat sebelum akhirnya kehilangan kesadaran dan membuat kakek Happer menghela nafas panjang.


"Hmm, tidur lagi ternyata."Gumam kakek Happer.


Kakek Happer melangkah menuju ke anak berambut oranye yang berada di samping Mada dan menyembuhkannya dengan sihir yang mengeluarkan cahaya-cahaya berwarna hijau tua dan putih, luka dalam dan luka luar anak itu mulai membaik namun sepertinya ia masih harus dirawat oleh seorang dokter.

__ADS_1


"Apakah kalian tidak merasa malu kepada diri kalian sendiri?"Ucap kakek Happer sinis kepada orang-orang, ia terlihat agak marah.


"Aku menyelamatkan kalian sendirian dari puluhan orang, dan kalian bahkan tidak mampu menyelamatkan dua orang anak yang hampir dibunuh? Aku sungguh kecewa sekali."Kakek Happer menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghela nafas panjang, orang-orang disana, semuanya. Menundukkan kepalanya karena merasa bersalah dan malu, bahkan ada yang sampai menangis.


Kakek Happer melangkah menuju ke arah seorang wanita tua berumur sekitar 40 tahunan dan memberikannya sekantung kecil perak yang berharga, ia menitipkan anak berambut oranye itu kepadanya dan berharap wanita itu dapat menjaganya dengan baik.


"Saya mengerti, saya mengerti. Anak itu pasti akan kujaga dengan baik, maafkan saya yang tidak berguna ini."Tangis wanita itu sambil membungkukkan badannya.


"Hmm, sudahlah...."


Kakek Happer kembali membalikkan badannya dan melangkah mendekati Mada kemudian menggendongnya dan membawanya pergi, anak berambut oranye yang berada di samping Mada baru saja membuka kedua matanya dan melihat Mada yang sedang berada dalam kondisi tidak sadarkan diri di tangan kakek Happer.


Sesungguhnya ketika anak itu hendak dibunuh oleh Adcler dan ketika Mada mendorong Adcler untuk menyelamatkannya, anak yang biasanya dipanggil Leo itu masih memiliki kesadaran dan menyaksikan semua adegan itu. Sampai dimana Mada sedang melindunginya dibelakang, saat itulah Leo kehilangan kesadarannya juga.


"Tu-tunggu...."Ucap Leo pelan sambil menodongkan tangannya ke arah Mada."Ja-jangan, per-"Setelah itupun Leo kehilangan kesadarannya lagi.


'Anak ini benar-benar menyusahkan.'Batin kakek Happer sambil mencubit pipi Mada dengan kuat.

__ADS_1


__ADS_2