
"Dasar anak kecil, perhatian cara bicaramu!"Bentak wanita itu.
Mada mengabaikan bentakan keras yang berada di hadapannya, ia melanjutkan kegiatannya, yaitu memeriksa kualitas kain dari pakaian-pakaian disana.
"Jangan sentuh sembarangan!"Bentak wanita itu lagi ketika melihat tangan Mada mengelus-elus salah satu pakaian yang ia jual.
'Heh! Apakah aku terlihat seperti seseorang yang bersedia untuk patuh kepadamu?'Batin Mada, dan sekali lagi ia mengabaikan bentakan dari wanita pemilik tempat itu.
"Kau...."
"Sudahlah, apakah segini cukup?"Kakek Happer mengeluarkan sebuah kantung berukuran sedang, yang tentu saja isinya adalah uang-uang perak yang berharga.
Wanita gemuk sang pemilik tempat yang awalnya tersulut emosi karena Mada, mendadak menjadi tenang dan tertawa gembira.
"Hahahaha, cukup. Cukup! Terimakasih, tuan~"
"Haha, menjijikkan!"Mada bergumam, ia sengaja meninggikan volume suaranya agar terdengar oleh wanita itu.
Jika bukan karena kakek Happer dan kompensasi berupa uang-uang perak yang berada di genggamannya, wanita itu bersumpah pasti akan menginjak-injak tubuh Mada dan mencincangnya, kemudian menguburkannya hidup-hidup di taman belakang.
__ADS_1
Ketika ia sedang tenggelam didalam lamunannya, Mada datang dengan tiga pasang pakaian pilihannya. Ia berjalan mendekat ke arah kakek Happer dan mengatakan.
"Aku ambil ini."Ucap Mada.
"Baiklah, pergi ganti pakaianmu."Kakek Happer mengambil dua pakaian yang berada di tangan Mada, satunya lagi harus ia pakai sekarang karena kaus yang sedang Mada gunakan sudah sangatlah kotor dan mengeluarkan aroma yang tidak sedap.
"Dimana ruang ganti?"Tanya Mada.
"Disana."Jawab sang wanita gemuk sambil menunjuk ke arah sebuah pintu yang berada di sudut kiri tempat itu.
Mada melangkah menuju ke ruang ganti dan masuk kedalam sana, beberapa menit kemudian ia melangkah keluar sambil membawa kausnya yang kotor. Ia melangkah mendekati Kakek Happer dan tersenyum.
"Bagaimana?"
"Baik...."
Sehabis Mada berganti pakaian, dirinya terlihat seperti seorang anak bangsawan meskipun pakaian yang ia gunakan tidaklah seberapa. Pakaian Mada tidak menutupi pergelangan tangannya yang seputih salju, rambutnya memang berantakan namun hal itu malah menambah kharismanya. Wanita pemilik tempat itu menelan ludahnya karena takut bahwa Mada sebenarnya adalah seorang anak bangsawan yang sedang berpura-pura menjadi anak kumuh untuk bermain-main, apalagi ketika dirinya sedang ditatapi dengan sinis oleh kedua mata Mada yang berwarna biru terang.
"Tidak, jangan-jangan dia adalah seorang anak bangsawan yang kebetulan melewati tempat ini? Bagaimana sekarang? Ekhh, bukan, bukan! Dia pasti bukan! Tidak mungkin seorang anak kecil yang kasar sepertinya adalah seorang tuan muda! Hmm, tapi...."
__ADS_1
'Ahh, begitu sampai dirumah aku ingin segera mandi.'Batin Mada.
Mada menghela nafas panjang begitu keluar dari bangunan besar yang berada di belakangnya, membeli pakaian saja selama ini, benar-benar membuat seseorang yang jarang keluar rumah seperti Mada merasa kesal.
"Hoii, kemari!"Panggil kakek Happer.
"Baiklah, aku datang."Jawab Mada malas.
Mada mengekori kakek Happer kemanapun ia pergi, kakek Happer membeli barang-barang yang sepenuhnya tidak diketahui oleh Mada.
Bayangkan saja, orang yang berada di jaman modern kembali ke abad-abad pertengahan dan mengetahui setiap barang yang ada disana? Mustahil!
Kakek Happer mengajak Mada untuk membeli beberapa roti daging, penjual roti itu menyambut kakek Happer dengan ramah bahkan memberikan dua roti yang mereka ambil secara gratis.
"Aduhh, aku tidak bisa. Ambillah uang ini."
"Tidak, saya tidak menginginkannya. Anggap saja roti-roti itu sebagai tanda terimakasih dari saya."
"Aiihh~"
__ADS_1
Mada menghiraukan dua orang tua yang sedang berdebat itu, kakek Happer tidak bersedia menerima pemberian dari seseorang secara gratis sedangkan penjual roti itu tidak ingin menerima uang dari kakek Happer.
'Hmm, rasa roti ini memang gurih, tapi dagingnya.... Terasa seperti plastik!'Batin Mada.