Grateful Allegiance

Grateful Allegiance
Ch-8. Keluar Dari Hutan Sanatoziria


__ADS_3

"Hmm, begini kakek.... Ehh, maksudku guru Happer, itu.... Jika aku mengatakan bahwa aku buta huruf dan tidak mengetahui apapun tentang tempat ini, apakah kau akan percaya?"Tanya Mada penuh keraguan.


Matahari sudah mulai terbenam kala itu, kakek Happer dan Mada sedang dalam perjalanan pulang ke desa Altens, desa yang berada tidak jauh dari pinggiran hutan Sanatoziria. Mendengar pertanyaan dari Mada, kakek Happer tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menghela nafas panjang, ia menoleh ke belakang dengan ekspresi wajah yang datar.


"Ya, aku percaya."Selesai mengatakan hal itu, kakek Happer pun kembali menoleh ke depan dan melanjutkan langkahnya.


'Cihh, apakah kakek tua itu sedang berpura-pura? Mengapa dia begitu mempercayaiku?'Batin Mada sambil mengekori kakek Happer.


Hari sudah semakin gelap, semakin lama pencahayaan di hutan Sanatoziria semakin berkurang. Mada mengelus-elus telinga kirinya yang tiba-tiba terasa nyeri dan mengingat hal-hal yang telah terjadi beberapa saat yang lalu, mulai dari empat buah inti kristal yang diukir dengan huruf Rune oleh kakek Happer yang jika diurutkan maka akan membentuk nama Mada. Lalu cara bagaimana keempat inti kristal itu dibuat menjadi anting-anting dan terpasang di telinga kiri Mada, tentu saja menggunakan sihir. Saat-saat ketika anting-anting itu dipasang memang terasa agak menyakitkan namun hasilnya sepadan karena Mada terlihat lebih keren sekarang, menurutnya lah~


"Gu-guru Happer, apakah masih jauh?"Setelah berjalan dalam kesunyian yang agak lama akhirnya Mada memutuskan untuk mengajak kakek Happer berbicara, sebenarnya ia sedang kedinginan saat ini mengingat pakaian yang sedang ia gunakan sekarang hanyalah sebuah kaus tipis berwarna putih, menurut Mada supaya dirinya tidak jatuh pingsan dan kehilangan kesadaran secara tiba-tiba lebih baik mencoba untuk mengalihkan rasa dingin itu saja. Dengan cara berbicara.


"Tidak, kita hampir sampai. Apakah kau baik-baik saja Mada?"Kakek Happer memang bertanya tentang kondisi Mada, namun sebenarnya ia bahkan tidak menoleh ke arah muridnya sama sekali.


"A-aku baik-baik saja, cu-"


Mada berhenti berbicara ketika perutnya tiba-tiba saja berbunyi, kakek Happer akhirnya menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Suara perut Mada yang sedang kelaparan terlalu nyaring untuk diabaikan.


'Ahaha, kukira ini hanya perasaanku saja, ternyata aku benar-benar kelaparan ya? Sampah, aku tidak pernah mendengar jika seseorang bisa kelaparan ketika bermain game VRMMORPG. Lagipula, aku baru saja sarapan bukan?!'Batin Mada sambil menundukkan kepalanya.


"Mada."Panggil kakek Happer.


Mada mengangkat kepalanya begitu mendengar panggilan kakek Happer, sebuah roti tawar berukuran sedang berada di hadapan wajahnya dan menanti untuk dilahap.


"Ehh?"

__ADS_1


"Makanlah, mari kita beristirahat sebentar."Kakek Happer memberikan roti itu kepada Mada dan melangkah menuju ke sebuah batang pohon yang telah tumbang disisi kirinya, ia duduk disana dan menepuk-nepuk tempat yang berada di sampingnya.


Mada melangkah menuju ke tempat kakek Happer berada dan duduk di sampingnya, ia lalu melahap roti yang berada di genggaman tangannya dengan segera.


'Ekhh, roti ini rasanya seperti styrofoam!'Batin Mada sambil membelalakkan matanya.


Ketika Mada sedang sibuk dengan roti yang berada di dalam mulutnya, kakek Happer malah sibuk memperhatikan kaki Mada yang dipenuhi dengan luka-luka. Ia merasa iba sekaligus merasa bersalah karena tidak menyadari hal itu dari awal, kakek Happer lalu menjentikkan jarinya dan cahaya-cahaya berwarna kehijauan berkumpul di kaki Mada.


"Hmm?"Mada melirik ke arah kakinya dengan ekspresi wajah yang kebingungan.


"Setibanya di rumah nanti, aku akan segera mengajarimu membaca dan menulis. Mengerti? Ilmu pengetahuan adalah hal yang paling penting jika kau ingin menjadi seorang Knights, ya tentu saja bakat berpedang dan bertempur juga...."


"Hmm, guru Happer, aku ingin bertanya tentang suatu hal kepadamu. Darimana anda tahu tentang kelas yang kupilih?"


"Hmm, kelas? Apa itu?"Tanya kakek Happer.


"Hmph!"Kakek Happer bangkit berdiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya."Ayo...."Ia kembali mengajak Mada untuk melanjutkan perjalanan.


"Ehh, tapi aku.... Astaga, baiklah."Mada menghela nafas panjang, mau tidak mau ia harus melanjutkan perjalanan dan mengikuti arahan gurunya, padahal ia masih merasa agak lelah.


Kakek Happer kembali memperhatikan kaki Mada, luka-luka yang berada di sana sudah tidak sebesar dan semenyakitkan saat pertama kali ia lihat tadi. Kakek Happer pun berjongkok di hadapan Mada dan menyuruhnya naik.


"Hah? Naik?"


"Bocah bodoh, apakah kau tidak mengerti? Aku akan menggendongmu, cepatlah! Hari sudah semakin gelap."Bentak kakek Happer.

__ADS_1


"O-ohh."


Mada naik ke punggung kakek Happer dan demikianlah, ia digendong sepanjang perjalanan dan Mada terus mengajak kakek Happer untuk berbicara.


"Jadi, hal-hal apalagi yang harus kuperhatikan guru Happer?"


"Mata uang! Mata uang yang kita gunakan jika bertransaksi dengan seseorang adalah perunggu, perak, dan emas. Perunggu adalah nilai mata uang yang terendah, seratus perunggu setara dengan satu perak, seratus perak setara dengan satu emas. Minimal, kebutuhan kita perbulan membutuhkan biaya sekitar 50 perak."


"Hmm, apalagi?"Tanya Mada pelan.


"Pemimpin desa kita, desa Altens dipimpin oleh tuan Kingsley Davis. Dia adalah seorang kakek tua ceroboh yang tamak dan memiliki banyak istri, sialan.... Dipenuhi dengan harta dan kekayaan namun terus memeras rakyat, dia selalu menaikan pajak setiap tahunnya dan putra sulungnya sangat-sangatlah berbahaya."


"Hah?"Mada mulai merasa mengantuk namun ia terus menyimak apapun yang dikatakan oleh kakek Happer, sepertinya desa Altens bukanlah sebuah tempat yang makmur.


"Putra sulung Kingsley Davis adalah Davindar Calasteo Davis, di usianya yang begitu belia mampu menguasai sebuah sihir pemanggil level dua. Andai saja karakternya tidak seperti tua bangka yang busuk itu, bisa saja aku mengangkatnya menjadi muridku."


'Hah? Apalagi kah itu?'Batin Mada.


"Kingsley adalah seorang yang payah dan menjijikkan, dia pernah mencoba untuk mencuri tanaman sihir kesayanganku. Sialan, dan apakah kau ingin tahu istri kedua King-"


"Guru Happer, kau sedang curhat atau bergosip padaku? Lebih baik kau jelaskan tentang sihir pemanggil level dua milik putra sulung kepala desa, aku lebih tertarik dengan topik itu...."


"Hmph! Sudahlah, tidak perlu memaksakan diri lagi. Tidurlah."Ucap kakek Happer pelan.


"Aku belum mengantuk, dasar. Ceritakanlah, hal itu...."

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Mada tertidur lelap di punggung kakek Happer karena merasa terlalu kelelahan, ekspresi wajah kakek Happer saat ini menunjukkan bahwa ia merasa bersalah karena memaksa Mada untuk tetap terjaga padahal ia tahu bahwa Mada sedang mengantuk.


"Akhirnya kita keluar."Gumam kakek Happer ketika melihat beberapa bangunan yang berada agak jauh didepan, kini ia telah keluar dari hutan Sanatoziria.


__ADS_2