
'E-ehh, pergi.... Pergi kemana dia?'Batin Mada dengan mata yang terbelalak.
"Ahahahaha, dia tidak ada disini, dia sudah meninggalkanmu daritadi. Apakah kau baru sadar? Hahahahahahaha!"
'Sial, orang ini sakit jiwa!'Mada mengertakan giginya dan mengambil nafas panjang, ia berusaha untuk menenangkan rasa sakit yang berada di perutnya, kemudian Mada melirik tajam Beleard, ia memiliki sebuah rencana.
'Mari coba untuk menakutinya dengan menggunakan kakek Happer, jika tidak bekerja maka, maka tamatlah riwayatku~'
"Oii, bukankah kau sudah tahu bahwa aku adalah murid dari kakek Happer? Kenapa masih belum melepaskanku?"Tanya Mada.
"Hah? Apa?"Beleard menaikkan sebelah alisnya, raut wajahnya mendadak berubah.
"Lepaskan aku, sebelum kakek tua itu datang, jangan menambah masalah."Mada mencengkeram erat tangan Beleard yang sedang menjambak rambutnya, mereka berdua bertatapan cukup lama, sebuah senyuman mulai menghiasi wajah Beleard.
Beleard bangkit berdiri sambil menjambak rambut Mada yang sedang terduduk di tanah, mau tidak mau Mada pun harus ikut berdiri jika tidak ingin lehernya terkoyak, ia mengerang kesakitan.
"Aarghh!"
"Heh-hehe, benar-benar.... Benar-benar seorang bocah yang menarik."Gumam Beleard.
'Sial, apa ini!? Perasaanku tidak enak!'
__ADS_1
Satu detik setelah Mada membatin, kaki Beleard lalu tiba-tiba berayun dan menghantam tubuh sebelah kiri Mada.
"Aaahakkhh! Arrggghhhhhh!"Mada terlempar jatuh ke tanah dan memuntahkan darah segar untuk yang kedua kalinya, ia tak bergerak lagi. Tulang dadanya sudah hancur lebur, nafasnya terasa sesak, jantungnya berdetak dengan tidak beraturan.
'Si-sialan, sakit sekali!'
"Hahahahahaha, sudah mati kah? Hmm, aku masih belum puas, hei bocah! Apakah kau masih bisa berbicara?"Beleard menendang-nendang Mada sambil mendecakan lidahnya, ia tampak benar-benar sangat menikmati hal yang sedang ia lakukan saat ini.
'Aahh, aku benar-benar penasaran kemanakah Leo pergi? Apa dia sedang mencari bantuan ya?'
Dari awal hal seperti ini seharusnya tidak terjadi, andai saja Mada tidak menggangu Beleard saat itu maka semua rasa sakit ini tidak akan pernah ada, Mada mulai menyesal atas pilihannya. Jika ada lain kali, jika aku bertemu dengan hal seperti ini lagi, lebih baik aku mengabaikannya~
"Ka-kau, akan ikut ke neraka be-bersama denganku...."Ucap Mada pelan, namun terdengar jelas di telinga Beleard.
'Ya ampun, aku akan mati konyol~'
"BERHENTI!"
Sebuah suara yang nyaring tiba-tiba saja terdengar dari jauh dibelakang Beleard, Leo mengarahkan anak panahnya ke arah Beleard dan bergumam.
"Mati!"
__ADS_1
Tepat ketika Beleard hendak menoleh ke belakang sebuah anak panah lalu tertancap di dada kanannya.
"Aakkhh!"
Leo mengambil satu anak panah lagi dari belakang punggungnya, ia membidik dan menembakkan anak panah lagi ke arah Beleard yang sedang jatuh berlutut ditanah, anak panah itu mengenai tangan kanannya.
"Aaakkkhhh!"
Leo berlari mendekat ke tempat Beleard dan Mada berada, ia mengambil satu panah lagi dari belakang punggungnya dan membidik kepala Beleard dari jarak dekat, matanya mulai berkaca-kaca.
"Mati kau, aarrgghhh!"Leo melepaskan anak panahnya dan melubangi kepala Beleard, pria besar itu tewas seketika dan tidak sempat mengatakan sepatah katapun.
Leo menjatuhkan busurnya dan menopang sebagian tubuh Mada yang sedang tidak sadarkan diri, ia terisak-isak dan panik."Mada, Mada!"
'Celaka, aku datang terlambat!'Batin Leo."Bagaimana ini? Bagaimana ini? Guru, guru!"Lanjutnya, berteriak.
"Guru! Cepatlah kemari! Mada, sial.... Aku datang terlambat."Leo memeluk Mada sedang erat dan mulai menangis sambil berteriak.
"Akkkhh, aku pergi mengambil busurku tadi, maafkan aku, maafkan aku!"
Suara langkah kaki seseorang tiba-tiba saja terdengar di belakang Leo, orang itu menepuk pundak Leo pelan dan langsung tersentak kaget, wajah anak berambut oranye itu.....
__ADS_1
"Tenangkan dirimu, aku sudah disini, beri tahu aku tentang apa yang telah terjadi kepadanya!"Ucap kakek Happer tegas.