Grateful Allegiance

Grateful Allegiance
Ch-10. Berdebat Di Toko Pakaian


__ADS_3

Mada terbatuk-batuk pelan dan mengelus-elus belakang kepalanya, ia merasa canggung dan merasa agak bersalah dengan seorang kakek tua yang berjalan jauh didepannya. Yang tak lain dan tak bukan, adalah kakek Happer.


'Hmm, apakah aku memiliki sebuah kesalahpahaman pada kakek itu?'Batin Mada.


"Ohh, kakek Happer! Ternyata ini anda, apa kabarmu?"


"Hahahahaha, kabarku baik. Seperti biasa~ Bagaimana dengan anda?"


"Ohh, saya baik-baik saja kakek Happer. Berkat anda, orang-orang yang kemarin itu sudah tidak lagi bertindak kasar."


"Hmm, syukurlah kalau begitu."


'Astaga, apa-apaan ini?'Pikir Mada, sambil memperhatikan seorang ibu-ibu tua yang asik berbincang-bincang dengan kakek Happer.


Semua ini berawal sesaat setelah Mada dan kakek Happer melangkah keluar dari rumah, mereka berdua hendak menuju ke pasar dimana segala kebutuhan seseorang dapat dibeli disana. Jika berjalan kaki maka membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai di pasar, sepanjang perjalanan Mada melihat setiap orang yang lewat pasti akan menyapa kakek Happer dengan ramah dan menunjukkan rasa hormatnya.


Kekaguman terlihat jelas dimata mereka, berbagai pujian dilontarkan ke arah kakek Happer. Mada sampai melotot dan tercengang dibuatnya, ia merasa kakek Happer yang ia kenal dan yang mereka kenal adalah orang yang berbeda.

__ADS_1


Karena selalu bercengkerama dengan orang-orang yang mereka temui, kakek Happer dan Mada membutuhkan waktu hampir 50 menit untuk sampai ke pasar. Matahari sudah tepat berada di atas kepala mereka, tubuh Mada mulai dipenuhi dengan keringat.


"Hei, apakah kau baik-baik saja?"Tanya kakek Happer.


"Ti-tidak apa-apa, ngomong-ngomong guru.... Apakah ada kejadian besar yang terjadi kemarin?"


"Tentu saja ada, masalah besar terjadi setiap hari ditempat ini. Kemarin aku menemukan beberapa orang Kingsley sedang menindas para penduduk, jadi aku menghajar mereka."Jawab kakek Happer.


"Ohh, lalu bolehkah aku bertanya? Apakah hal ini ada kaitannya dengan pesan-pesan yang kau sampaikan tadi pagi?"Tanya Mada lagi.


'Akhh, kakek tua yang pelupa!'Umpat Mada didalam hati."Maksudku, pesan tentang kerahasiaan indentitasku ini. Kenapa tidak ada yang boleh tahu bahwa aku ini adalah muridmu? Kenapa? Apakah aku terlalu memalukan?"Lanjutnya.


"Dasar bodoh, apakah kau tahu bahwa Kingsley sangat-sangatlah membenciku sampai mendarah daging? Dia tidak bisa melakukan apapun kepadaku, tapi tidak denganmu.... Kau masih terlalu kecil, apakah kau bisa mengangkat pedang?"


"Hmm, aku tidak tahu."Gumam Mada.


"Hmph! Sebelum usiamu mencapai sembilan tahun tidak ada satupun orang yang boleh mengetahui bahwa kau adalah muridku, mengerti?"Ucap kakek Happer tegas.

__ADS_1


"Aku mengerti."Mada menghela nafas panjang, ia menjadi tidak bersemangat begitu mengingat dirinya memang sedang terjebak di tubuh seorang anak kecil berumur tujuh tahun. Padahal, dirinya yang asli sudah berumur 16 tahun dan hampir mendapatkan KTP.


Kakek Happer menghentikan langkahnya disebuah bangunan besar yang dipenuhi dengan kain-kain berwarna-warni, Mada melirik ke arah seorang wanita bertubuh gemuk yang berada di teras bangunan itu, sepertinya dia adalah pemilik tempat ini. Wanita itu segera beranjak dari kursi goyangnya begitu melihat kakek Happer, wajahnya benar-benar melambangkan hatinya. Seseorang yang jago menjilat.


"Ohh, ternyata kakek Happer ya! Masuklah, masuk~ Anda ingin membeli sesuatu bukan?"Tanyanya.


"Iya, tunjukkan jalan."


"Baiklah, baik. ikuti aku~"


Mada dan kakek Happer melangkah memasuki bangunan itu, sunyi, senyap, dan sepi. Mengapa tidak ada pembeli sama sekali?


"Hei, bisakah kau menolongku memilih pakaian untuk anak itu?"Kakek Happer menoleh kearah Mada, wanita itu ikut menoleh kesamping dan membelalakkan matanya.


"Hah!? Anda ingin membelikan pakaian untuk anak itu!?"Teriak wanita itu.


"Hehe, kenapa? Tidak bolehkah?"Tanya Mada sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2