
"Hei, bocah, bangun. Hei, bangunlah dasar bodoh! Hei!?"Kakek Happer menendang-nendang tubuh Mada pelan, anak itu sedang tertidur di tumpukan buku milik kakek Happer saat ini.
Sudah hampir tiga Minggu lamanya Mada berada di dunia Grateful Allegiance, ia benar-benar telah terbiasa dengan tempat ini. Setiap hari, Mada selalu menghabiskan waktunya dengan buku-buku, membantu kakek Happer, belajar berpedang, dan melakukan hal-hal lain yang menurutnya bermanfaat.
Seisi desa ini sudah mengenali Mada sebagai murid tunggal kakek Happer, entah mengapa tetapi dirinya juga ikut disegani dan disanjung oleh orang-orang desanya. Ohh, ngomong-ngomong alasan mengapa hal yang seharusnya menjadi rahasia di antara mereka berdua ini bisa terbongkar, diakibatkan oleh kakek Happer sendiri yang salah bicara ketika ada seorang penduduk desa yang menanyakan tentang Mada.
Mungkin karena hubungan mereka yang sudah terlalu erat, kakek Happer langsung mengatakan bahwa Mada adalah muridnya secara tidak sadar.
'Itu bukan kesalahanku....'
Setiap pagi, Mada lah yang memasak sarapan untuk dirinya dan kakek Happer, sehabis makan maka Mada akan berolahraga di luar untuk meregangkan semua otot-otot tubuhnya. Setelah itu ia lalu belajar berpedang, dan tentu saja langkah pertamanya adalah menggunakan kayu dan boneka jerami sebagai samsaknya.
Kakek Happer mengajari Mada teknik-teknik dasar dalam berpedang, ia mengawasi Mada dengan kedua matanya sendiri setiap ia memiliki waktu luang. Dan jika Mada terlihat sedang berlatih sendiri, itu artinya kakek Happer sedang sibuk dengan urusannya dan tidak sempat untuk menemani Mada.
__ADS_1
Selesai berlatih berpedang Mada akan langsung kembali ke rumah dan membaca buku-buku milik kakek Happer yang tentunya tak hanya berisikan huruf-huruf Rune saja, namun juga ada huruf-huruf Kuno dan huruf-huruf Suci.
Atau terkadang sehabis berlatih berpedang Mada akan membantu kakek Happer untuk.... Ya, kau tahulah~ Hal-hal yang para penyihir biasa lakukan, meracik ramuan sihir atau membuat benda-benda sihir.
"Hei, aku menyuruhmu untuk membawakanku Akar Neraka Hitam. Mengapa kau membawa benda ini!?"Tanya kakek Happer sambil memukul kepala Mada.
"Aduhh, itu adalah Akar Neraka Hitam dasar buta! Coba kau perhatikan baik-baik!"Bentak Mada.
Selama membantu kakek Happer dengan kegiatannya, Mada pasti akan merasakan beberapa pengalaman yang menurutnya tidak layak untuk dialami oleh anak berusia tujuh tahun.
"Aaarrrggghhhhh, emasnya!"Teriak Mada.
Pernah sekali, tungku sihir milik kakek Happer meledak dan membuat seisi rumah menjadi warna hitam.
__ADS_1
"Uhukk, uhukk, uhukk, aku masih hidup! Masih hidup! Haha, syukurlah."Gumam Mada sambil menepuk-nepuk dadanya pelan.
Pernah sekali, dari dalam tungku sihir kakek Happer keluar makhluk-makhluk mengerikan nan aneh yang hampir melahap Mada.
"Sial, benda apa ini? Ini hampir menelanku!"
"Bocah, tunggu sebentar. Bertahanlah sebentar lagi, aku harus mengetahui benda jenis apakah itu."Ucap kakek Happer sambil membolak-balik halaman sebuah buku.
"Argghh, menunggumu!? Mungkin aku sudah akan mati ditelan terlebih dahulu!"Teriak Mada sambil menahan mulut monster bertentakel yang sudah membelit seluruh tubuhnya dengan sebuah buku.
Itu hanyalah sebagian dari hal yang pernah Mada alami, masih-masih ada banyak lagi hal yang membuat Mada merasa agak takut ketika sedang membantu kakek Happer.
Karena Mada sudah mempelajari berbagai buku tentang tanaman-tanaman sihir, kakek Happer jadi tidak perlu takut jika Mada salah mengambilkan barang yang ia minta. Mada mempelajari semua hal dari buku-buku semudah meminum segelas air, kakek Happer sampai terkesan dibuatnya.
__ADS_1
Mada jarang melangkah keluar dari rumah, mungkin hanya setiap berlatih pedang di pagi hari saja baru orang-orang mampu melihat batang hidung Mada, selain itu terkadang ada beberapa orang yang bertamu dan memberikan berbagai macam makanan untuk kakek Happer dan Mada. Entah apa niat mereka yang sebenarnya~
"Nak, bangunlah~ Sebelum aku menyirammu dengan air dari sumur~"Ucap kakek Happer halus.