
"Lalu? Bagaimana dengan anak berambut oranye terang itu? Apakah dia baik-baik saja?"Tanya Mada sambil melipat kedua lengannya.
"Aku menyerahkannya ke seseorang untuk dirawat, tenang saja."
"Kau, berbicara seakan-akan kau memperdulikannya. Hentikanlah, aku merinding."Mada menatap tajam kakek Happer, atmosfer di dalam rumah itu perlahan-lahan mulai berubah.
"Apa maksudmu?"Tanya kakek Happer.
"Guru, aku yakin kau sampai di tempat itu terlebih dahulu daripada aku. Kau tidak berniat untuk ikut campur kedalam masalah, dan hanya ingin menonton saja kan?"
"Hmm...."Wajah kakek Happer berubah menjadi serius, tebakan pertama yang diucapkan oleh Mada ternyata benar adanya.
"Kau terus menonton, kau menyadari keberadaanku namun terus mengabaikanku. Ketika salah satu prajurit itu mulai menarik pedangnya, kau tidak bergerak dan memutuskan untuk mengamatiku. Melihat langkah yang ingin kuambil karena kau tahu aku pasti tidak akan tega melihat nyawa seseorang diambil begitu saja."Lanjut Mada.
"Kesalahan pertama yang kau buat adalah.... Kau tidak memperdulikan nyawa anak berambut oranye yang hampir dibunuh itu, padahal kau tahu kemungkinan bahwa aku akan sampai tepat waktu adalah 50:50!"
__ADS_1
"Aku dapat mencapainya dan menyelamatkannya, bahkan jika kau terlambat."Ucap kakek Happer.
"Memang, tetapi ada kemungkinan bahwa kau atau anak itu akan terluka bukan? Jika kau tidak menggunakan sihir."Ucap Mada sinis.
"Lanjutkan...."Gumam kakek Happer.
"Kau melihatku mampu mengalahkan seorang prajurit dan merebut senjatanya, kau tertarik dengan semua yang aku miliki. Kau ingin melihat lebih, jadi kau tetap membiarkanku bertarung sendirian di sana."
"Aku tidak mungkin menang jika kami benar-benar bertarung, jadi aku mencoba untuk adu mulut saja. Ada dua rencana ketika aku memilih cara ini, pertama! Aku akan mencoba mengadu domba mereka atau mengalihkan perhatian mereka kemudian melarikan diri, kemungkinan hal seperti itu dapat berhasil hanya sekitar 34% saja. Kedua! Aku akan memanas-manasi mereka hingga target mereka berubah ke arahku, mencoba untuk membunuhku tanpa harus melibatkan anak itu."
"Aku tahu bahwa kau pasti tidak akan membiarkanku mati, kau pasti akan muncul sebelum aku terluka. Kemungkinan hal seperti ini dapat berhasil adalah 76%. Ya rencana ini memang sukses besar, namun.... Kau tidak puas hanya dengan melihatku menang dari berbicara saja, kau tahu bahwa orang itu akan mencoba untuk membunuhku. Lagi-lagi kau mengabaikan kemungkinan bahwa aku akan terluka jika tidak berhasil menahan atau menghindar tepat waktu, bagaimana? Atraksi terakhirku saat itu, lumayan bukan?"Tanya Mada.
"Hehe, apakah masih ada hal lain yang ingin kau katakan?"
"Aku membencimu, yang tidak bisa memikirkan sebuah kemungkinan bahwa orang-orang yang ingin kau selamatkan akan terluka. Saat aku sudah tidak bisa bertahan aku tahu jika kau ingin segera turun tangan, tetapi kau pasti ingin sedikit menghukumku yang tidak sopan ini bukan? Kau ingin aku meminta tolong kepadamu, ini menunjukkan bahwa aku sangat memerlukan bantuanmu jika aku masih ingin hidup. Masih berakting lagi saat itu, apakah kau sudah puas?!"Tanya Mada sambil mendecakan lidahnya.
__ADS_1
"Hoho, apa itu berakting?"
"Tidak penting, kau tidak perlu mengetahuinya. Dan kau tahu, aku masih membencimu karena suatu hal.... Bagaimana jika anak yang ingin kuselamatkan itu tiba-tiba mati karena kehabisan darah? Lukanya sangatlah parah, kau tahu."Tubuh Mada bergemetar, tidak tahu apakah ia sedang menahan emosinya atau menahan rasa takutnya.
"Mada, apakah kau pernah melihat mayat sebelumnya?"Tanya kakek Happer.
"Mayat? Maksudmu orang mati? Tentu saja pernah."Jawabnya.'Didalam tv banyak.'Pikir Mada.
"Ohh? Dimana kau melihatnya?"
"Entahlah, aku lupa."
"Bocah, semua hal yang kau katakan tadi. Walaupun banyak yang salah namun secara garis besar memang itulah yang terjadi, memang itulah yang kuinginkan. Kau sudah menunjukkan bahwa kau pantas untuk menjadi muridku, mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan benar. Bencilah aku, aku tidak melarangnya karena dari awal aku memang seseorang yang berdarah dingin. Aku tidak pernah peduli pada nyawa siapapun kecuali diriku, istirahatlah dan tunggu hadiahmu besok~"Kakek Happer beranjak dari kursinya dan melangkah menuju ke pintu keluar rumah karena ingin menghirup udara segar, Mada membaringkan tubuhnya begitu pintu telah tertutup kembali.
'Mengerikan, benar-benar mengerikan.'Batin kakek Happer sambil menoleh ke arah belakang, menatap rumahnya.
__ADS_1