Grateful Allegiance

Grateful Allegiance
Ch-25. Leo


__ADS_3

'Sebenarnya masih ada banyak hal lain yang membuatku cemas, namun ya sudahlah.... Untuk sekarang, aku ingin bersantai~'


Mada menghela nafas panjang dan memejamkan matanya, beberapa menit berlalu dan ia sudah hampir tertidur, selain suara angin, Mada sudah tidak mendengarkan suara apapun lagi. Lalu tiba-tiba.....


"Waah, ternyata ini benar-benar kau!"Sebuah suara yang teramat keras terdengar di telinga Mada.


"Ckk! Siapa?"Mada mendecakan lidahnya, ia pun membuka kedua matanya.



"Ini aku, taraaa!"Teriaknya.


"Siapa kau?"Tanya Mada heran, ia pun tidak jadi tertidur dan memutuskan untuk duduk.


"Ehh, bukankah kau adalah orang yang menyelamatkanku saat itu? Namaku adalah Leo."Ucapnya sambil tersenyum lebar.


"Leo? O-ohh, ternyata kau.... Aku mengingatnya, apa kabarmu?"Mada mengelus-elus kepala Leo dengan pelan, ia hampir saja melupakannya.


"Aku baik-baik saja, hehe~"Leo melompat ke arah Mada untuk memeluknya, mereka berdua pun jatuh terbaring.


"Woaahh, hei, apa yang kau lakukan?"


"Memelukmu, memangnya apa lagi?"Ucap Leo sambil mengeratkan pelukannya.


"Iya, aku tahu jika kau sedang memelukku, maksudku mengapa kau melakukannya?"


"Entahlah, aku tidak tahu kenapa, aku hanya ingin memelukmu saja. Tubuhmu benar-benar wangi~"


Mada menghela nafas pelan dan mengelus-elus kepala Leo, perlahan-lahan Mada ikut memeluk Leo juga, ia sudah lama tidak dipeluk seperti ini. Rasa hangat yang sudah hampir ia lupakan, kini ia dapatkan kembali.


Leo melepaskan pelukannya dari Mada, ia terus tersenyum dan bercerita tentang berbagai hal yang telah ia alami sampai saat ini, mulai dari saat Mada yang menyelamatkannya di hari itu. Leo bersikap seolah-olah dirinya dan Mada adalah seorang teman yang sangat akrab, padahal mereka baru saja bertemu hari ini. Tidak ada yang bisa Mada lakukan untuk hal itu, ia hanya menyimak dan mendengarkan Leo bercerita sampai selesai.


"Lalu? Untuk apa kau membawa bendera-bendera ini?"Tanya Mada, ia mengayun-ayunkan bendera berwarna merah yang ia minta dari Leo.


"Seseorang menyuruhku untuk membawanya, kenapa?"


"Emm, tidak, lebih baik kita tinggalkan bendera ini disini dan pergi."Ucap Mada, ia mengelus-elus kepala Leo lagi.

__ADS_1


"Ohh, baiklah, ngomong-ngomong siapa ya namamu?"Tanya Leo sambil menelengkan kepalanya.


"Mada."Mada bangkit berdiri dan menepuk-nepuk bagian belakang tubuhnya, ia lalu mengulurkan tangannya ke arah Leo, ingin mengajaknya untuk pergi bersama."Ayo...."Lanjut Mada.


Leo menerima uluran tangan Mada, ia bertanya dengan raut wajah yang keheranan."Kemana?"


"Makan, apakah kau tidak lapar?"


"Ahhh, ayo, ayo, kita pergi makan~"Ucap Leo bahagia.


Mada mengambil dua buah bendera yang tadi dibawa oleh Leo, ia menancapkannya ke tanah kemudian melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


Leo mengikuti Mada menuju ke pasar, secara tidak langsung anak itu telah menjadi GPS yang menuntun Mada berkeliling. Leo adalah satu dari banyaknya anak-anak pengemis yang tinggal di kawasan ini, ia sudah terlalu mengenali pasar dan beberapa tempat di sekitarnya, dijamin Mada tidak akan tersesat.


Mada membelikan Leo berbagai makanan dari uang yang diberikan oleh kakek Happer, ia hanya membeli dua buah apel yang seharga empat perak saja, lalu sisa uang yang berada di kantungnya ia habiskan untuk Leo.


"Mada, Mada, kemarilah! Lihat ini."Teriak Leo memanggil Mada.


"Ohh, aku datang."


"Leo, kita sudah berjalan daritadi, sebenarnya kau ingin membawaku kemana?"Tanya Mada, ia menoleh kesana-kemari, hanya semak-semak dan pepohonan saja yang bisa ia lihat.


"Tunggu, tunggulah sebentar lagi, ki-kita hampir sampai.... Hufftt, lelahnya~"


Mada mempercepat langkahnya dan berhenti tepat di hadapan Leo, ia membungkuk dan menghadap ke depan, berniat untuk menyuruh Leo naik ke atas punggungnya.


"Naik, jika kau terus berjalan selambat ini kita mungkin tidak akan pernah sampai."Ucap Mada.


"Hehe, baiklah."Leo naik ke atas punggung Mada, nafasnya benar-benar tidak beraturan.


'Ri-ringannya.'Batin Mada.


Mada terus melangkah ke depan, Leo kini sudah cukup untuk beristirahat dan ia meminta Mada untuk menurunkannya.


"Tidak, diamlah disana, akulah yang akan menggendongmu."Sahut Mada, ia benar-benar tidak berharap jika anak berusia tujuh tahun seperti Leo harus menggendong dirinya yang secara tidak sah telah berusia 16 tahun.


"Tapi, kau sudah berkeringat! Ayolah, turunkan aku!"Sahut Leo.

__ADS_1


"Aku berkeringat karena cuacanya terasa panas, bukan karena aku kelelahan, sudah diamlah."


Sudah hampir satu jam Mada berjalan seperti ini, tanpa tujuan yang jelas, ia termenung sebentar dan tak lama kemudian suara Leo yang nyaring mengetuk gendang telinganya.


"Sudah, kita sudah sampai, turunkan aku."Leo menepuk-nepuk pundak Leo, seketika dirinya menjadi sangat bersemangat.


"Hah, kau yakin? Tidak ada apa-apa disini!"Ucap Mada.


"Ayo, ikut aku."Leo menarik Mada masuk ke dalam semak-semak yang berada di samping mereka.


"Apa ya-"


Perkataan Mada terpaksa harus terputus karena melihat sesuatu yang sangat-sangat mustahil untuk bisa ditemukan di tempat ini, sebuah danau yang dipenuhi dengan bunga teratai bercahaya.


"Lihat, tempat ini indah bukan? Hahaha, bagaimana?"


Mada tersenyum tipis dan menghela nafas panjang."Ahh, rasanya aku menyesal datang ke sini, hanya sebuah danau juga."Ucap Mada sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ehh?"


"Sudahlah, ayo kita mendekat ke danau itu."Mada melangkahkan kakinya mendekati danau, ia duduk didekat sana dan menikmati pemandangan matahari terbenam yang ternyata bisa terlihat dengan sangat jelas dari sini.


"Mada, Mada, maukah kau menjadi adikku?"Tanya Leo, tiba-tiba saja ia muncul di samping Mada.


"Menjadi adikmu? Jangan konyol, kurasa sebaiknya kau saja yang menjadi adikku."


"Tidak bisa, aku akan menjadi kakakmu, mulai dari sekarang akulah yang akan melindungi dan menjagamu, mengerti?"Ucap Leo lagi.


"Tidak, akulah yang akan menjagamu, aku kakak, jelas?"


"Sial, tidak mau, tidak mau!"Gerutu Leo.


"Haha, liat saja dirimu, kau bahkan bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Bagaimana bisa kau menjadi kakak?"


"Aku, aku tidak akan bersikap kekanak-kanakan lagi mulai dari sekarang."Ucap Leo tegas, ia membenarkan posisi duduknya.


'Aku berusia 16 tahun, akulah yang akan menjadi kakak, kemana harga diriku harus pergi jika ternyata aku menjadi adik dari seseorang yang jauh lebih muda dariku?'Batin Mada.

__ADS_1


__ADS_2