
Malam itu dia begitu sangat kecewa.
“Yah. Apa Shishil akan baik-baik aja?”
“Mamah tenang aja, dia pasti bisa menerimanya. Cinta memang butuh paksaan”
Shishil sangat kecewa dengan keputusan kedua Orang Tuanya. Kenapa harus di jodohkan. Cinta itu tak bisa di paksa seperti yang dia pelajari di dalam buku tentang cinta pemberian temannya.
Dengan perasaan gundah gulana, Shishil pergi menuju ujung komplek komplek tempat biasa dia menyendiri. Dia duduk sejenak untuk melamun kan akan kenyataan dalam hidupnya. Namun baru saja dia melamun, tiba-tiba sebuah mobil menghampirinya. Hanya melihat kendaraan itu saja perasaan Shishil langsung merasa senang. Dia yakin, pemilik dari kendaraan itu pasti cowok misterius yang selama ini dia kagumi. Tak butuh waktu lama, cowok misterius itu keluar dari dalam mobil. Seperti biasa, dia sambil membawa sebuah bunga mawar merah.
Shishil segera mengikuti langkah cowok misterius itu. Namun, baru saja dia melangkah, tiba-tiba satu Kunti lanang dan satu Pocong bertubuh besar menghadang langkahnya.
“Kalian siapa?”
“Kita berdua Bodyguard yang di sewa Pak Jarwo buat nyari kamu”
“Oh gitu, yaudah bilangin Ayah gue, gue gak mau pulang”
__ADS_1
“Jangan banyak bicara, sekarang ikut kami. Kami di bayar untuk membawa kamu pulang” Ujar si Kunti berbadan besar. Mereka langsung membawa Shishil dengan paksa.
“Gue gak mau pulang.” Ronta Shishil. Namun, ketika kedua bodyguard itu hendak mau membawa Shishil. Tiba-tiba ada suara keras yang menghentikan langkah mereka.
“Woy berhenti. Jangan ganggu dia” Ucap seseorang. Setelah kedua bodyguard itu menoleh. Ternyata di hadapannya sudah ada rekan-rekan Shishil yang siap untuk menolongnya.
“Kalian sedang apa disini?”
“Kami akan menolong kamu, Cu” Jawab Kakek cangkul.
“Biar gue aja bos yang ngadepin dia” Ucap Pocong si bodyguard. Pocil dan Pocong bodyguard itu mulai maju dan saling mendekati satu sama lain. Pocong versus Pocong
“Loe berani sama gue?” Tanya Pocil.
“Jangan kan sama loe yang badannya kurus. Sama nenek moyang loe juga gue gak takut” Jawab Pocong bodyguard sombong.
“Nenek moyang gue sama loe kan sama. Pocong juga. Gimana sih” Sahut Pocil.
__ADS_1
“Iya juga ya. Ah masa bodoh”
Mereka berdua mulai berduel. Saling memutar dan saling beradu kepala. Begitu lama mereka berduel, tenyata mereka sama kuat dan tak ada satu pun dari mereka yang menyerah.
“Gue akuin loe benar-benar kuat, tapi gue gak akan kalah sama bocah kayak loe”
“Yakin loe. Kalau gitu gue keluarin jurus terakhir gue yang bisa bikin hidup loe ga tenang” Ucap Pocil percaya diri. Dengan sekejap di mengeluarkan tangan kanannya dan langsung mengupil. Tak butuh waktu lama, Pocil pun mendapatkan kotoran hidung yang lumayan besar.
“Nih cobain upil gue!” Ucap Pocil. Melihat kotoran hidung itu, Pocong bodyguard pun mundur dan menyerah.
“Sory bos. Untuk hal ini, lebih baik gue ngalah aja”
“Payah loe, jadi pocong aja takut sama upil. Loe pegang nih, biar gue aja yang maju”
“Megang nyagimana, gue kan Pocong.”
“Mangkan nyaa jangan jadi Pocong. Kamu diam disini. Jangan kabur” tegas si Kunti bodyguard dengan percaya dirinya.
__ADS_1