
Dalam cuaca panas, mereka terus mencari alamat yang tertera dalam secarik kertas itu. Mereka menyusuri jalan demi jalan. Namun, karena jakarta begitu luas, alamat yang mereka cari sangat sulit untuk di temukan.
“Gimana nih, Cil. Gak ada yang tahu sama alamatnya”
“Gue juga bingung, Shil”
“Jangan patah semangat, kita harus temukan alamat itu” Tegas Ramon percaya diri. Namun, sampai tengah malam mereka pun belum menemukan alamat yang mereka cari.
“Gue nyerah Shil. Seharian nyari alamatnya, gak ada satu orang pun yang tahu”
“Loe kenapa, Mon? Putus asa, bukannya loe yang tadi nyemangetin kita-kita?”
“Habis sudah seharian gak ketemu. Badan gue rasanya mau remuk”
“Yaudah, kita tanya sama tukang ojek itu aja, barang kali mereka tahu.” Ujar Mocil. Namun, mereka tak sadar kalau waktu itu sudah hampir jam dua belas malam. Shishil, Pocil dan Ramon menghampiri tukang ojek yang sedang bermain kartu di sebuah bale tua.
“Gue menang, Qiu-qiu”
“Eat. Tunggu dulu, gue Murni. Gue yang menang. Hahaha.”
“Ah sial, lagi-lagi gue kalah”
“Nasib loe emang sial mulu, Din”
“Ah loe juga sama Cup, kalah juga”
“Yaudah mulai lagi, loe mau pasang berapa?”
__ADS_1
Shishil menghampiri tukang ojek.
“Permisi, Bang?”
“Iya Neng, ada apa ya?”
“Saya mau nanya Bang, tahu alamat ini gak?” Tanya Shishil.
“Wah, ini alamat mana Neng, saya belum pernah kesini” Jawab tukang Ojek. Namun, ketika tukang ojek itu melihat kembali kearahnya. Tukang ojek itu sangat terkejut, karena yang berada di hadapannya, ada tiga sosok setan. Kuntilanak yang sedang bawa ransel dan dua sosok Pocong.
“Setaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan....!” Teriak tukang ojek. Tukang Ojek itu pun pergi tergesa-gesa meninggalkan motornya yang sedang terparkir di pangkalan bersama kartu gapleh.
“Mereka kenapa, Cil?” Shishil terkejut melihat Ramon dan Pocil yang telah berubah menjadi wujud aslinya.
“Cil, Mon?”
“Gue juga heran. Terus kenapa tukang ojek itu pada lari terbirit-birit?”
“Karena mereka takut dengan wujud kita”?”
“Iya juga ya, Cil. Mungkin wujud kita aneh kali” Ujar Ramon.
Dalam keadaan lelah, mereka bertiga terus menyusuri gelapnya malam di kota jakarta, tiap jalan mereka terus telusuri. Mereka hampir putus asa.
“Gue sudah capek, Shil”
“Jangan patah semangat dong, Cil.”
__ADS_1
“Loe mah enak Shil. Gue Berdua kan Pocong, jalan aja harus lompat-lompat. Kaki gue sudah pegal banget”
“Sabar atuh, Mon.”
“Tuh ada tukang wedang jahe lagi mangkal, coba tanya dia. Kali dia tahu”
“Biar gue yang nanya, loe berdua tunggu aja disini” Ramon melompat menghampiri tukang wedang jahe itu.
“Permisi bang!” Sapa Ramon. Namun, saat tukang wedang jahe itu melihat. Dia terkejut.
“Pocooooong...!” Teriak tukang wedang jahe. Dia pergi tergesa-gesa meninggalkan gerobak dagangannya.
Shishil, Pocil dan Ramon sangat heran, kenapa setiap manusia yang melihatnya langsung pergi tergesa-gesa dan wajahnya pun ketakutan.
“Kenapa sih setiap manusia yang melihat kita pada ketakutan gitu. Emang benar wujud kita aneh?”
“Gue juga gak tahu, Shil. Dunia manusia aneh gak kayak dunia kita”
Kunang-kunang malam mulai bermunculan, tetes air hujan mulai membasahi jalan yang mereka lewati.
“Gimana nih, hujan?”
“Kita ke warung kopi yang di sana aja, Cil”
“Yaudah kita kesana, nanti kita basah kuyup. Siapa tahu manusia yang lagi pada ngopi tahu alamat yang sedang kita cari”
Shishil, Pocil dan Ramon segera menghampiri warung kopi itu untuk meneduh dan menanyakan alamat yang sedang mereka cari.
__ADS_1
“Permisi Mba, Mas?” Sapa Shishil. Melihat wujud Shishil pengunjung dan pemilik warung kopi terkejut dan pergi tergesa-gesa. Namun ada yang aneh. Salah satu pengunjung warung kopi yang sedang menikmati kopi hangatnya hanya terdiam dan tak terkejut sama sekali.