Gue Bukan Kunti

Gue Bukan Kunti
BAB 21


__ADS_3

Ramon menghabiskan minuman itu. dan akhirnya pusing kepala pun mulai melandanya.


“Kok’ kepala saya muter-muter sih, Pak Darso?”


“Itu hanya awalnya aja. Nanti juga kamu terbiasa. Oh ya, nih buat kamu”


“Apa’an itu Pak Darso?”


“Ini namanya Rokok. Cara makainya di hisap. Di dunia kita gak ada yang namanya Rokok” Lagi-lagi karena penasaran Ramon pun mencobanya.


“Benar-benar nikmat, Pak Darso!”


Malam semakin larut, dalam gemerlapnya lampu diskotik, Ramon dan Pak Darso menikmati alunan musik yang dimainkan kan oleh Disk Joki.


“Pak Darso kapan-kapan kita main lagi kesini?”


“Kurang keras”


“Kapan-kapan kita main kesini lagi!” Teriak Ramon. Ketika mereka sedang asyik mendengar alunan lagu Dj. Ramon di hampiri seorang wanita yang langsung menariknya dan mengajaknya berdansa.


Dalam nikmatnya musik Disk Joki, waktu tak terasa sudah hampir pagi. Ramon mabuk berat. Pak Darso memutuskan untuk pulang.


“Yang ngajak kamu dansa itu namanya cabe-cabean”


“Cantik, Pak Darso”


Ayam sudah berkokok. Mereka sampai di kediaman Pak Darso. Dalam keadaan mabuk berat, Ramon menghampiri pintu dan mengetuk-ngetuknya. Tak lama menunggu pintu pun di bukakan oleh Shishil.

__ADS_1


“Loe habis dari mana Mon. Pagi-pagi baru pulang?”


“Gue habis main cabe-cabean”


“Cabe-cabean?” Tanya hati Shishil heran. Karena mabuk berat, tiba-tiba Ramon terjatuh dan langsung tertidur pulas. Saat itu Shishil mencium bau aneh dari aroma nafas temannya itu.


Siang harinya. Ramon sudah terbangun. Karena penasaran bau aroma yang keluar dari nafas rekannya itu. Shishil pun bertanya.


“Loe semalam habis dari mana, Mon?” Tanya Shishil heran. Namun, karena Ramon sudah berjanji dengan Pak Darso untuk merahasiakannya. Dia berbohong.


“Gue semalam habis di ajak main ke rumah saudaranya Pak Darso, Shil”


“Oh, ya. Semalam loe kagak mabuk kan?”


“Mabuk, maksud loe apa’an sih, Shil”


“Habis semalam loe ga sadarin diri, mulut loe juga bau banget!”


“Shil, ikut gue yuk!”


“Kemana, Cil?”


“Kita jalan-jalan ke Mall lagi, sekalian cari makan siang”


“Boleh, Cil. Gue emang lagi males banget di rumah. Sepi banget. Pak Slamet juga slalu di kamarnya. Jarang keluar”


“Loe mau ikut gak, Mon?”

__ADS_1


“Gue ngantuk banget, Chil. Lain kali aja, deh”


“Tumben loe gak mau, biasanya kalau di ajak cari makan langsung paling pertama”


***


Pocil dan Shishil segera pergi menuju Mall terdekat. Sesampainya di Mall. Shishil sebagai perempuan jiwa shopingnya langsung muncul.


“Loe mau belanja apa, Shil?”


“Gue mau beli baju, Cil”


“Perempuan gak jauh dari baju”


Waktu semakin berlalu. Karena terlalu lelah, perut mereka mulai terasa lapar. Dengan uang yang tersisa Pocil mencari restauran yang sesuai dengan isi dompet mereka. Sesampainya di restauran yang tepat. Pocil mulai memesan pesanannya.


“Mau pesan apa Mas?”


“Mie rebus ya Mba dua, minumnya air putih aja”


“Yaudah tunggu ya, Mas” Waiters itu pergi meninggalkan mereka.


“Di menu ada barbeque panggang, ada daging gulai, ada spaghetti. Kok’ malah mesen mie rebus, Chil?”


“Duit gue gak cukup, Shil. Habis loe beli baju kebanyakan” Keluh Pocil.


Tak lama menunggu, akhirnya pesanan mereka datang. Mereka langsung melahapnya.

__ADS_1


“Akhirnya perut gue ke isi juga” Ujar Pocil kekenyangan.


Setelah menikmati mie rebus, Pocil meninggalkan Shishil karena kebelet. Saat itu pula sebuah momen penting dalam hidup Shishil terjadi. Shishil tak sadar kalau cowok misterius yang selama ini dia kagumi tepat berada di belakangnya sedang menikmati sepiring spaghetti.


__ADS_2